Sebelumnya
Indonesia saat ini dikabarkan sedang kekurangan 100.000 dokter, apa tanggapan Anda?
Kalau kita bicara dalam sisi kebutuhan kuantitas jumlah, angka 100.000 itu memang betul. Karena kami pernah menghitung dari jumlah penduduk dengan nilai rasio yang memang dibutuhkan pada tahun 2023, kekurangan dokter sekitar 150.000.
Dengan kondisi 91 fakultas kedokteran dan ada 15 fakultas kedokteran akan dikeluarkan izinnya. Jadi total sekarang ada 120 fakultas kedokteran.
Di tahun 2023, dari 91 fakultas kedokteran yang sudah memproduksi dokter, per tahun sekitar 11–12 ribu. Sehingga, untuk saat ini, produksi dokter sekitar 12–15 ribu per tahunnya.
Lantas, apa kendala untuk memenuhi jumlah dokter?
Kalau kemudian kita menghitung angka 100.000 dokter, itu bukan soal aspek kuantitasnya saja, tetapi dari distribusinya. Jadi distribusinya yang menjadi masalah.
Karena pada tahun 2022, Kementerian Kesehatan pernah membuat satu analisis di dalam data rasio tenaga kesehatan di seluruh wilayah Indonesia. Dari situ kami dapat gambaran, ada wilayah-wilayah yang sebenarnya bisa dikatakan sudah overload dari sisi aspek rasio.
Baca juga : Irma Suryani Chaniago: Perbanyak Penerimaan Mahasiswa Kedokteran
Daerah mana saja?
Berdasarkan data Kemenkes itu, ada lima spesialis seperti penyakit dalam, spesialis anak, spesialis kandungan, spesialis anestesi dan bedah.
Anestesi dan bedah untuk di Pulau Jawa itu sudah sesuai dengan rasionya pada tahun 2022. Sementara untuk penyakit dalam, spesialis anak, dan kandungan di Pulau Jawa itu malah melebihi dari rasionya.
Namun gap-nya itu sangat jauh kalau kita bandingkan dengan Indonesia Timur. Jadi gap inilah yang menjadi perhatian kita.
Jadi, kalau mau memproduksi dokter maupun dokter spesialis, maka yang perlu dilakukan adalah distribusinya.
Bagaimana sekarang kebijakan mengenai distribusi dokternya. Menurut Anda, apakah kebijakan Pemerintah saat ini ada upaya terkait distribusi dokter?
Ada pernyataan Pak Presiden Prabowo Subianto yang mengatakan pendidikan dokter dibiayai. Maka jika benar seperti itu, kami sangat mendukung.
Baca juga : DPR Happy Dana Riset Naik Jadi Rp 12 Triliun
Karena itu akan menjadi bagian dari strategi Pemerintah, di mana untuk mendidik satu dokter, baik itu dokter umum atau dokter spesialis, harus dibiayai oleh negara.
Kenapa harus dibiayai negara?
Karena dokter itu tenaga strategis seperti halnya kita membutuhkan aparat baik TNI atau Polri. Kalau kita bicara ini tenaga strategis, maka kewajiban dari negara untuk mendidik.
Dan tentunya kalau dia sudah dididik dan dibiayai oleh Pemerintah, maka kewajibannya adalah harus siap ditempatkan di seluruh wilayah Indonesia.
Saya sudah berkeliling dari Sabang sampai Merauke, problem utama di wilayah Indonesia Timur, bahwa di sana bukan sekadar ingin menempatkan.
Karena sebagian besar dokter yang bertahan di wilayah timur, khususnya Maluku dan Papua, adalah soal pengabdian.
Kenapa mereka bisa bertahan? Pertama, mereka sudah paham kultur sosial budaya. Misal karena mereka putra daerah, orang Papua, orang Maluku.
Baca juga : Wamenhaj Ikut Lari Dan Makan Bareng Peserta
Kedua, mungkin mereka bukan orang Papua atau Maluku, tetapi sudah bekerja di situ sebelumnya atau punya keluarga di situ.
Lantas, apa saran Anda untuk strategi ke depannya?
Strateginya harus ada kuota khusus untuk penempatan dokter yang itu diprioritaskan untuk putra daerah, khususnya Indonesia Timur.
Kalau sudah bicara kuota khusus, tentu perlu ada sebuah kebijakan tanpa mengurangi kualitas kebijakan terkait penerimaan.
Kedua, harus ada pembiayaan atau bantuan dari beasiswa. Kalau bicara beasiswa, beberapa daerah yang kami tanyai, jujur mereka terkendala dalam memberikan beasiswa pendidikan.
Namun yang mungkin bisa diberikan hanya biaya hidup karena tidak tercukupi dan meminta bantuan kepada Pemerintah Pusat. NNM
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 2, edisi Minggu, 18 Januari 2026 dengan judul "Indonesia Masih Kekurangan Dokter, Apa Solusi Mujarabnya? Mohammad Adib Khumaidi: Perbanyak Beasiswa Dan Distribusi Merata"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.