BREAKING NEWS
 

LRPM Undira Tingkatkan Kerja Sama Internasional Kembangkan Energi Terbarukan

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Kamis, 1 Agustus 2024 13:11 WIB
Dari kiri: Rektor Universitas Dian Nusantara Prof Suharyadi, Founder National Battery Research Institute NBRI Prof Evvy Kartini, dan Director of Material Reserch Institute Queen Mary University of London United Kingdom Prof Alan J Drew. Foto: Istimewa

RM.id  Rakyat Merdeka - Lembaga Riset dan Pengabdian Masyarakat (LRPM) Universitas Dian Nusantara (Undira) terus memperkuat kerja sama internasional dalam pengembangan riset dan pendidikan, khususnya di bidang energi terbarukan dan kendaraan listrik dengan lembaga riset dan kampus di luar negeri.

Kepala LRPM Undira Muhammad Hanafi menjelaskan, beberapa Memorandum of Understanding (MoU) akan mengenai hal ini diformalkan dalam waktu dekat. “Di antaranya di bidang riset dan pengembangan serta pertukaran mahasiswa dengan Queen Mary University,” ucap Hanafi, dalam International Conference, di Hotel Mulia, Jakarta, Kamis (31/7/2024).

Kolaborasi ini juga mencakup penyelenggaraan acara internasional yang akan mendukung pengembangan teknologi di bidang teknik elektro, teknik mesin, dan informatika. Teknik elektro, teknik mesin, dan informatika akan menjadi backbone untuk konsep teknologi dari electrical dan renewable energy.

Baca juga : Indonesia Kecam Pembunuhan Komandan Hamas Ismail Haniyeh Di Teheran

“Riset kami akan diarahkan menuju teknologi kendaraan listrik. Kerja sama dengan National Battery Research Institute (NBRI) dan Queen Mary University akan mendukung laboratorium dan riset ini," tuturnya.

Adsense

Hanafi mengatakan, Undira berharap dapat meluncurkan hasil riset ini pada tahun depan, dengan tujuan untuk pengembangan sumber daya manusia yang mumpuni. “Kami berharap penelitian Undira dapat dikenal sebagai pionir dalam energi terbarukan,” tambahnya.

Ia lalu menyoroti tantangan yang harus diatasi, termasuk infrastruktur pengisian daya untuk kendaraan listrik, standarisasi baterai, dan ekosistem rantai pasokan. Kata dia, infrastruktur pengisian daya dan standarisasi baterai adalah tantangan utama. “Selain itu, kita harus memastikan ekosistem rantai pasokan, mengingat banyak material yang harus diimpor,” jelasnya.

Baca juga : Dubes Australia Untuk Indonesia Penny Williams Kuatkan Kerja Sama Kemitraan Program Kinetik

Untuk mendukung ekosistem tersebut, diperlukan pendanaan dan perilaku masyarakat. Kata dia, pendanaan sangat penting untuk mencapai target tersebut.

“Kami harus memastikan bahwa ada sumber dana yang cukup untuk proyek-proyek besar ini. Tidak hanya itu, kami perlu memastikan bahwa masyarakat siap menerima transformasi menuju energi hijau. Hal ini memerlukan pendekatan sosial dan ekonomi yang komprehensif,” ujar Hanafi.

Dengan potensi bahan baku yang dimiliki, Hanafi optimis bahwa Indonesia dapat menjadi produsen dan konsumen utama dalam industri energi terbarukan. “Dengan komitmen Pemerintah untuk hilirisasi, kita bisa mencapai tujuan ini. Namun, kita perlu meningkatkan riset dan pengembangan, serta kerjasama internasional untuk penyediaan teknologi,” jelasnya.

Baca juga : Ketua Umum IMI Dukung Kejuaraan Internasional DriftKings Asia 2024 di Sentul

Kerja sama internasional diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia. “Kerja sama dengan universitas luar negeri tidak hanya terkait teknologi, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas SDM kita melalui riset bersama dan transfer teknologi. Dengan begitu, kita bisa menjadi pionir dalam pengembangan energi terbarukan,” pungkas Hanafi. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense