Sekitar lima tahun yang lalu, dunia dilanda wabah mamatikan, yaitu merebaknya Virus Corona yang diduga menyebar kali pertama di Wuhan, China pada penghujung tahun 2019. Oleh karena itu, para ilmuan menyenut virus tersebut sebagai Covid-19. Untuk mencegah dan memutus rantai penularan, selama pandemi Covid-19 diberlakukan berbagai kebijakan, seperti Physical distancing (menjaga jarak fisik) dan menghindari kerumunan. Dampak dari kebijakan tersembut berimbas pada aktivitas manusia sehari-hari sebagai makhluk sosial.
Salah satu yang tedampak parah oleh pandemi Covid-19 adalah dunia pendidikan. Berbagai belahan dunia mengharuskan semua lembaga pendidikan untuk belajar di rumah atau belajar melalui daring (internet), tak terkecuali Indonesia. Di tengah masih banyaknya keterbatasan akses internet di Indonesia, terutama di daerah 3T (Terluar, Terdepan, dan Terpencil), para siswa mengalami kesulitan untuk mengakses mata pelajaran. Tidak heran dengan keterbatasan tersebut, Indonesia menempati posisi kedua secara global sebagai negara yang mengalami kehilangan pembelajaran (learning loss) sebanyak 644 hari.
Sebetulnya ada beberapa kisah heroik para guru yang mengajar di tengah pandemi Covid-19 agar para siswa tetap mendapatkan mata pelajaran. Avan Faturachman, guru dari Madura yang nuraninya masih bekerja di tengah dilema. Sebagai guru, dia harus menjadi teladan dengan mematuhi pemerintah tentang anjuran jaga jarak sosial dan fisik di masa pandemi Covid-19. Yaitu dengan bekerja, belajar dan beribadah di rumah. Namun melihat realita yang ada, beberapa wali murid ternyata tidak memiliki gawai untuk sarana belajar daring bagi anaknya. Bahkan yang membuat kita menahan napas. Beberapa orang tua menurut cerita Mas Avan, sampai rela meminjam uang untuk memenuhi kebutuhan anaknya selama pandemi ini. Dengan kondisi tersebut Mas Avan tetap turun mengajar di tengah badai, tapi apakah semua guru seperti Mas Avan?
Manfaat Platform Merdeka Mengajar (PMM)
Baca juga : Gibran Hadiri Pembekalan Calon Menteri Di Hambalang
Untuk menjawab tantangan tersebut, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) mengoptimalkan kemajuan teknologi digital, seperti lahirnya Platform Merdeka Mengajar (PMM) yang berhasil membantu lebih dari 4 juta tenaga pendidik dalam meningkatkan kompetensi mengajar yang sesuai dengan kebutuhan murid melalui internet. Di sisi lain, menurut Kemendikbudristek (2024), Rapor Pendidikan telah membantu lebih dari 80 persen kepala sekolah dalam merencanakan pembenahan sekolah yang lebih efisien. Melalui pengembangan selama lima tahun terakhir, ekosistem teknologi yang saat ini telah dikembangkan berfokus untuk mengembangkan kemampuan guru dan pendamping sehingga dapat mengajar murid dengan lebih baik.
Apa yang dilakukan Kemendikbudristek jika dilihat lebih jauh sebagai bentuk intervensi dalam transformasi pendidikan melalui Merdeka Belajar, yang membawa visi untuk menciptakan pemelajar sepanjang hayat (lifelong learners) berkarakteristik baik dan berdasar pada ideologi Pancasila.
Baca juga : Asabri Dukung Kesejahteraan Pendidikan Anak Peserta Di Sulawesi Tenggara
Dalam konteks tersebut, ada beberapa perubahan radikal dalam pendekatan terhadap teknologi dalam dunia pendidikan. Pertama, teknologi harus menjadi bagian dalam desain program bukan sekadar adisionalitas (after thought). Kedua, mengutamakan kepentingan pengguna, baik dari sisi kualitas, kinerja, aplikasi yang dapat diandalkan, serta desain yang mudah digunakan sehingga pengguna perangkat paling sederhana pun dapat mengakses aplikasi. Ketiga, tim berkualitas terdepan yang bekerja tanpa henti untuk terus mengembangkan sistem ini (Syahril, 2024)
Dari data terbaru yang ada, saat ini ada 4,3 juta pengguna aktif PMM, dengan partisipasi 7 kali lipat meningkat dibanding 2019. Dari angka tersebut, 52 persen pengguna berada di wilayah pedesaan, dengan total 144.000 komunitas di seluruh Indonesia. Selain itu, saat ini sudah ada 1,3 juta bahan ajar yang diunggah guru ke dalam PMM. Dari data di atas kita bisa melihat digitalisasi pendidikan melalui PPM menjadi motor utama untuk mengejar ketertinggalan dan mendorong pendidikan merata untuk semua kalangan, baik di kota dan di desa, miskin ataupun kaya karena pendidikan untuk semua.
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.