BREAKING NEWS
 

Literasi Masih Menjadi ”Barang” Mewah

Writer : Herlin Pratiwi
Editor : UJANG SUNDA
Selasa, 27 Mei 2025 21:46 WIB
Anak-anak membaca buku di Taman Baca Masyarakat Pekan Karya (TBM PEKA), Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, Minggu (6/2/2022). (Foto: Dwi Pambudo/RM)

Membaca merupakan salah satu cara efektif untuk mengasah kemampuan berpikir. Melalui aktivitas ini, seseorang dapat memperluas wawasan, memperoleh pengetahuan baru, dan melatih daya kritis. Tak melulu harus buku-buku berat, bacaan fiksi pun terbukti mampu merangsang imajinasi dan menumbuhkan rasa ingin tahu.

Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih tergolong rendah. Data UNESCO mencatat, Indonesia menempati peringkat ke-60 dari 61 negara dalam hal minat membaca. Angka ini cukup memprihatinkan, mengingat membaca seharusnya menjadi aktivitas yang mudah diakses dan dilakukan.

Minimnya minat baca juga tidak lepas dari kurangnya peran orang tua. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, hanya 17,21% orang tua yang rutin membacakan cerita atau dongeng kepada anak-anak mereka. Padahal, keterlibatan orang tua dalam aktivitas literasi sangat penting sebagai pondasi awal pembentukan minat baca sejak dini.

Kesenjangan Digital dan Sosial Hambat Perkembangan Literasi

Ironisnya, tingkat literasi masyarakat Indonesia yang rendah ini justru dibarengi dengan tingginya angka kepemilikan gadget. Laporan Emarketer pada 2018 menyebutkan, pengguna aktif smartphone di Indonesia telah melampaui 100 juta. Hal ini menjadikan Indonesia dengan jumlah pengguna keempat terbesar di dunia setelah China, India, dan Amerika Serikat.

Baca juga : SIM Keliling Bekasi Selasa 27 Mei Hadir Di McD Harapan Indah

Tren ini terus meningkat dengan banyaknya pengguna aktif internet. Berdasarkan data Kominfo (saat ini Komdigi), pada awal 2024, pengguna internet di Indonesia tercatat mencapai 79,5 persen dari total populasi, atau lebih dari 220 juta jiwa. Angka tersebut mengalami kenaikan 3,6 persen sejak pandemi Covid-19.

Meski sebagian masyarakat memanfaatkan internet untuk membaca e-book dan mengakses informasi positif, maraknya hoaks dan konten palsu justru menjadi tantangan baru. Ledakan konten video singkat seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts turut berkontribusi terhadap penurunan daya konsentrasi masyarakat.

Fenomena ini patut menjadi perhatian bersama. Di era digital yang serba cepat, literasi bukan hanya soal membaca, tetapi juga soal kemampuan memilah informasi yang valid dan membentuk pola pikir kritis di tengah arus informasi yang tak terbendung.

Meski begitu, internet bukanlah satu-satunya penyebab rendahnya minat baca. Ketimpangan akses literasi juga menjadi persoalan utama, khususnya di wilayah pedesaan. Minimnya ketersediaan buku, media cetak, dan perpustakaan membuat banyak masyarakat tidak memiliki kesadaran akan pentingnya literasi.

Adsense

Selain itu, faktor ekonomi juga berperan besar. Harga buku yang dianggap mahal bagi sebagian masyarakat membuat kegiatan membaca bukan lagi kebutuhan utama. Bahkan, para pencinta buku dari kalangan menengah ke bawah kerap harus menghentikan kebiasaannya karena terkendala biaya.

Baca juga : 3 Tim Masih Berjuang Menjauh Dari PSIS Semarang

Jika dibandingkan dengan negara-negara maju, harga buku di Indonesia tergolong tinggi. Pajak, biaya impor, dan distribusi membuat harga buku melambung, sementara daya beli masyarakat relatif rendah. Akibatnya, membaca pun kerap kali dianggap sebagai hobi yang mahal, padahal seharusnya membaca menjadi aktivitas yang dapat diakses dengan mudah oleh semua kalangan.

Ironi ini menegaskan pentingnya intervensi kebijakan yang berpihak pada peningkatan literasi, termasuk penyediaan buku murah, pembangunan perpustakaan di daerah terpencil, dan edukasi digital yang sehat. Tanpa langkah konkret, literasi akan terus terpinggirkan, sementara masyarakat terus hanyut dalam arus konsumsi digital yang cepat namun dangkal.

Literasi sebagai Fondasi Pendidikan dan Kemajuan Bangsa

Jika krisis literasi dibiarkan tanpa solusi konkret, bukan tidak mungkin mutu pendidikan nasional turut mengalami kemunduran. Literasi bukan sekadar kemampuan membaca, tetapi juga menjadi kunci utama untuk mengakses pengetahuan dan mengikuti perkembangan informasi global.

Hal ini disebabkan karena literasi memegang peranan krusial di bidang pendidikan, sosial, politik, serta ekonomi. Masyarakat yang melek literasi memiliki bekal untuk berpikir kritis, berpartisipasi aktif, dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang valid.

Baca juga : Gustavo Almeida Makin Percaya Diri Bareng Persija

Untuk itu, dibutuhkan campur tangan serius dari pemerintah dalam memperluas dan mempermudah akses literasi bagi seluruh masyarakat Indonesia. Pembangunan dan pemerataan perpustakaan di setiap daerah dapat menjadi langkah awal dalam menjawab tantangan ini.

Tak hanya pemerintah, kerjasama antara lembaga pendidikan, komunitas, dan masyarakat umum juga memiliki peran penting. Gerakan kecil seperti mempromosikan budaya membaca, membentuk komunitas literasi, hingga kegiatan berbagi buku dapat menjadi kontribusi nyata dalam menumbuhkan minat baca dan memperkuat budaya literasi di Indonesia.

Membangun budaya literasi bukanlah pekerjaan sehari dua hari, tetapi sebuah proses panjang yang memerlukan komitmen dari semua pihak. Di tengah kemajuan teknologi yang begitu pesat, membaca tetap menjadi jendela utama menuju pemahaman, kesadaran, dan kemajuan.

Jika membaca masih dianggap sebagai aktivitas mewah, maka kita sedang membiarkan generasi masa depan kehilangan pijakan yang paling mendasar: pengetahuan. Saatnya bersama-sama menyalakan kembali semangat membaca, mulai dari hal kecil, dari lingkungan terdekat, agar minat baca masyarakat Indonesia meningkat sehingga akan berdampak bagi kehidupan sosial juga. 

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense