Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Ada yang memikirkan dapur rumah tangga, ada yang memikirkan dapur politik. Itulah yang terjadi sekarang. Kalau mata rantai kepentingan rakyat dan kepentingan elite politik tidak nyambung, Indonesia bisa jalan ditempat. Program-program untuk rakyat sulit dijalankan.
Ini perlu diingatkan, karena, ketika pemerintahan Prabowo-Gibran baru berusia enam bulan, sebagian politisi sudah ada yang memikirkan pemilu berikutnya. Siapa yang jadi presiden, siapa wapresnya. Siapa kawan, siapa lawan, sudah dirancang dan dikalkulasi dari sekarang.
Waktu empat setengah tahun menuju 2029 serasa sangat pendek bagi sebagian politisi. Mereka seperti ingin menyusun strategi dan memikirkan koalisi lebih dini. Walau, seringkali keputusan final nya di injury time.
Sementara di Balaikota DKI Jakarta, Rabu (23/4) kemarin, ratusan orang rela antre, berbaris rapat sejak matahari belum terbit. Tujuannya: melamar pekerjaan sebagai Petugas Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) atau “pasukan oranye”.
Baca juga : “Bukan Oknum” Tapi Sistemik
Menenteng map cokelat, mereka berharap membawa pulang harapan untuk keluarganya. Map berisi daftar riwayat hidup yang harus ditulis tangan, fotokopi ijazah, surat kesehatan serta hasil tes bebas narkoba tersebut menjadi penguat harapan untuk diterima.
Dua “wajah” tersebut menggambarkan kondisi Indonesia terkini. Ada yang sibuk di panggung politik, gaduh dan bermanuver, ada pula yang sibuk dan antre di panggung kehidupan.
Di sinilah pentingnya prioritas serta arah sebuah kebijakan. Memihaklah terhadap rakyat. Itulah yang utama dan sangat penting. Jangan terlalu fokus untuk memikirkan diri sendiri, kelompok atau partai serta pemilu berikutnya.
Kondisi yang tidak baik-baik saja seperti sekarang membutuhkan derap langkah yang sama, dalam orkestrasi yang tertib dan tertata.
Baca juga : Sedih, Kenapa Terus Berulang?
Bagi elite politik, hindari manuver yang tidak perlu supaya tidak mengundang kegaduhan. Fokuslah bekerja untuk rakyat, bukan untuk kepentingan lain.
Maka, bisa dipahami kalau Presiden Prabowo memerintahkan semua men terinya supaya merapatkan barisan.
Perintah tersebut disampaikan lewat telepon ketika berbicara dengan Menko Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar, Minggu (20/4) lalu.
Perintah Presiden tersebut bisa ditaf sirkan, pertama, sebagai perintah biasa dari seorang presiden. Perintah yang umum dan wajar. Bisa disampaikan kapan saja.
Baca juga : Perang Dagang, Bukan Pelanduk
Kedua, bisa juga diartikan bahwa “ada sesuatu” yang harus diluruskan dan dirapatkan kembali dari barisan para menteri.
Dalam kondisi geopolitik dan ekonomi dalam negeri seperti sekarang, jangankan barisan yang tidak rapat, barisan yang sangat rapat pun bisa jebol dan kebobolan.
Dalam perspektif inilah Presiden perlu terus menyerukan “rapat dan luruskan barisan”. Jangan miring ke kanan atau ke kiri.
Alam perspektif yang lain, perintah “rapatkan barisan” ini bisa juga menjadi sinyal penataan kembali kabinet: reshuffle.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.