RM.id Rakyat Merdeka - Tren penggunaan Artificial Intelligence (AI) di Indonesia meningkat pesat. Kalangan Gen-Z usia 13–28 tahun kini akrab menggunakan ChatGPT, Grammarly AI, dan sejenisnya untuk menyelesaikan tugas sekolah.
Survei Samsung SEA Insights (2024) mencatat bahwa 73 persen remaja Indonesia telah menggunakan AI untuk tujuan belajar. Namun, angka ini kontras dengan capaian skor PISA 2022 Indonesia yang masih di bawah rata-rata global: Reading (359), Matematika (366), dan Sains (375).
Artinya, mayoritas siswa telah menggunakan AI, tetapi belum memiliki fondasi literasi yang kuat untuk memahami dan memanfaatkannya secara kritis.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar: jika kemampuan dasar siswa belum solid, apakah penerapan pembelajaran AI dan koding akan membantu menjawab tantangan revolusi industri 4.0 atau justru memperlebar jurang kesenjangan pendidikan?
AI dan Siswa Indonesia
Penggunaan AI untuk belajar melonjak dari 43 persen pada 2023 menjadi 73 persen pada 2025. Gen-Z yang duduk di bangku SMA dan kuliah menjadikan AI sebagai asisten belajar utama, walau belum sepenuhnya kritis dalam menggunakannya.
Generasi Alpha (1–14 tahun) yang merupakan digital native juga telah akrab dengan AI dalam keseharian. Survei menunjukkan 49 persen orang tua melaporkan anak usia 7–14 menggunakan AI, terutama dalam format visual interaktif.
Fakta ini menegaskan bahwa AI telah menjadi bagian dari keseharian anak muda, bukan sekadar teknologi masa depan. Maka, integrasi literasi AI ke dalam pendidikan adalah keniscayaan.
Baca juga : Perlu Antisipasi Segera Dan Serius
Dalam konteks ini, perlu diapresiasi langkah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen) yang telah menyusun modul pembelajaran AI dan koding untuk lebih dari 16.000 satuan pendidikan, serta menggelar pelatihan guru dari SD hingga SMA.
Visi Kemdikdasmen bahwa kecerdasan artifisial adalah bagian dari kecakapan abad ke-21 menunjukkan komitmen negara untuk menjawab tantangan global secara progresif. Tidak hanya berhenti pada penyusunan modul, keseriusan Kemdikdasmen juga tercermin dari penguatan sinergi lintas sektor dan upaya menjadikan literasi AI sebagai bagian dari transformasi kurikulum nasional.
Dalam salah satu pernyataannya, Mendikdasmen Abdul Mu’ti menegaskan bahwa: “Kami mendorong agar literasi digital, termasuk kecerdasan artifisial, menjadi bagian penting dari sistem pendidikan nasional yang membekali peserta didik dengan kompetensi masa depan.”
Komitmen ini menjadi angin segar bagi dunia pendidikan, selama tetap dijalankan dengan prinsip kesetaraan, pemerataan akses, dan peningkatan kapasitas guru secara berkelanjutan.
Dalam pernyataannya kepada Tempo, Mendikdasmen Abdul Mu’ti juga menegaskan bahwa integrasi kecerdasan artifisial dan koding harus menyesuaikan kesiapan masing-masing satuan Pendidikan (Tempo, 2024).
Hal ini sejalan dengan semangat fleksibilitas dan keberpihakan pada kondisi riil sekolah di Indonesia. Di sisi lain, kami juga mengapresiasi langkah Kemdikdasmen yang telah menjadikan literasi AI dan koding sebagai salah satu program prioritas nasional di bidang pendidikan menengah.
Status mata Pelajaran AI dan koding merupakan mata pelajaran pilihan, bukan wajib. Diajarkan mulai dari kelas 5 SD hingga SMA dan bertujuan untuk meningkatkan literasi digital dan keterampilan teknologi siswa.
Fondasi Literasi sebagai Prasyarat
Baca juga : Perang Iran Vs Israel Dan Subsidi BBM
Literasi membaca, numerasi, dan pemahaman ilmiah adalah fondasi mutlak sebelum mengenalkan logika koding dan AI. Tanpa kemampuan membaca teks fungsional, siswa akan kesulitan memahami instruksi atau algoritma.
Tanpa matematika, mereka akan kesulitan memahami pola, variabel, dan logika. Tanpa sains, mereka akan menjadi pengguna pasif AI tanpa mengerti cara kerja atau dampaknya.
Ketiga kompetensi tersebut menopang computational thinking—kemampuan memecah masalah, mengenali pola, menyusun logika, dan menyaring informasi penting—yang oleh UNESCO disebut sebagai keterampilan kunci abad ke-21.
Computational thinking tidak hanya berguna di dunia teknologi, tapi juga dalam literasi, seni, jurnalistik, dan sains.
Skor PISA, Kesenjangan Akses, dan Kesiapan Guru Negara-negara yang telah menerapkan pembelajaran AI dan koding seperti Singapura (570), Korea Selatan (538), dan Jepang (500) memiliki skor PISA yang jauh lebih tinggi dibanding Indonesia.
Ini menjadi sinyal penting bahwa penguatan literasi dasar harus menjadi pijakan awal sebelum menerapkan teknologi lanjutan.
Selain itu, ketimpangan akses masih menjadi persoalan serius. Data BPS dan Kemendikbudristek (2023) menunjukkan 39,7 persen sekolah di Indonesia belum memiliki akses internet.
Hanya 5,3 persen SD yang memiliki komputer. Di desa, hanya 35 persen sekolah memiliki laboratorium komputer siap pakai, dibandingkan 85 persen di kota.
Baca juga : Indonesia, Non-Blok, Dan Keselamatan Dunia
Kesiapan guru juga belum merata. Survei menunjukkan 60 persen guru membutuhkan pelatihan teknologi. Sebanyak 40 persen mengaku kesulitan menggunakan AI karena belum dilatih, 35 persen terkendala infrastruktur, dan 25 persen belum bisa mengintegrasikan AI dalam pembelajaran.
Ironisnya, 78 persen siswa sudah fasih menggunakan AI. Solusi: Bertahap, Inklusif, Kontekstual Langkah pertama adalah memperkuat literasi dasar melalui pendekatan kontekstual.
AI dapat dijadikan alat bantu remedial dalam membaca, berhitung, dan memahami sains. Kurikulum harus disesuaikan dengan zonasi kesiapan sekolah agar tidak ada yang tertinggal. Langkah kedua adalah kolaborasi antarkementerian.
Kementerian Komunikasi dan Digital (komdigi) memastikan internet merata, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) membangun infrastruktur desa, dan Kemdikdasmen menyusun modul sesuai kondisi riil sekolah.
Pembelajaran AI harus hadir dengan fleksibilitas dan keadilan. Langkah ketiga adalah pengembangan sistem asesmen berbasis proyek dan portofolio, serta penyusunan sertifikasi digital nasional yang diakui dunia kerja. Siswa dan guru tidak hanya diajarkan keterampilan teknis, tapi juga ditumbuhkan kemampuan berpikir kritis dan etis.
Sebagai generasi yang menjadi bagian dari bonus demografi, kami mengapresiasi Mendikdasmen Abdul Mu’ti yang menjadikan AI sebagai salah satu program prioritas untuk pendidikan di Indonesia.
Penulis adalah Athiyah, Ketua Bidang Media, Komunikasi dan Informatika KOPRI PB PMII 2024-2027
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.