Dark/Light Mode

Menanti Legasi untuk Masa Depan Surabaya

Senin, 2 Juni 2025 08:33 WIB
Aryo Seno Bagaskoro, Jubir PDI Perjuangan yang juga Ketua DPC Taruna Merah Putih Kota Surabaya. Foto: RM.id
Aryo Seno Bagaskoro, Jubir PDI Perjuangan yang juga Ketua DPC Taruna Merah Putih Kota Surabaya. Foto: RM.id

RM.id  Rakyat Merdeka - Di panggung sejarah, Kota Surabaya dikenal sebagai dapur nasionalisme. Sematan yang tidak berlebihan jika kita menyimak perjalanannya melahirkan tokoh beserta berbagai pemikiran yang lahir dari rahimnya.

Di era Pra-Kemerdekaan, rumah kos Cokroaminoto di Jalan Peneleh menjadi saksi pertentangan dan pertemuan pikiran antara Sukarno, Kartosuwiryo, Semaun, Alimin, Agus Salim, hingga sederet nama besar lain.

Secara geografis, Kota Surabaya berada di posisi yang sangat strategis. Dekat laut dan punya pelabuhan besar di Tanjung Perak. Kondisi ini membuatnya mudah dijangkau oleh bibit persemaian peradaban.

Berbagai suku, agama, pemikiran, hidup secara koeksistensial di tengah suasana kultural yang cenderung sangat egaliter. Itulah jati diri dialektisnya. Lambat laun, situasi ini mengantarkan keyakinan spiritual bahwa Surabaya adalah kuali (melting pot) kebangsaan.

Menghadapi Ketidakpastian Masa Depan

Hari ini, Surabaya menghadapi kondisi objektif yang sama dengan berbagai daerah lain di Indonesia. Angka demografi yang berjumlah besar dan lalu lalang penduduk dari kota-kota penyokong.

Di tengah situasi itu, Surabaya punya aset sekaligus risiko. Namanya: anak-anak muda. Jumlahnya besar, potensinya menjanjikan, namun secara sosiologis rentan apabila tumbuh di lingkungan yang “kering” dan mengalienasi.

Baca juga : Gisella Anastasia, Pacar Dekat Sama Anak

Apalagi hari ini mereka dihadapkan pada situasi yang skalanya mengglobal: ketidakpastian akan masa depan. Secara umum, tidak ada jaminan yang pasti di angkatan generasi muda hari ini tentang pemenuhan kesejahteraan hidup di masa yang akan datang.

Di Surabaya, setidaknya ada problem perkotaan klasik yang harus dihadapi: soal kemiskinan dan integrasi transportasi umum. Tentu jika tidak segera diintersepsi, problem ini akan menambah panjang daftar ketidakpastian.

Soal kemiskinan misalnya, tantangannya tidak hanya soal penyediaan lapangan kerja. Tanpa mengecilkan persoalan tersebut, soal penciptaan ekosistem yang mendukung kepastian juga penting untuk diwujudkan.

Di kota sekelas Surabaya, rasa kebahagiaan yang utuh rasanya tidak boleh berhenti hanya dari angka lulus sekolah dan ketersediaan pekerjaan.

Kota juga selayaknya hadir dalam penyediaan akses transportasi yang terintegrasi dan tidak macet, ketersediaan perumahan untuk anak-anak muda yang terjangkau, serta ruang-ruang aktualisasi yang mampu mengkanal berbagai kreativitas inovasi perlu disediakan dan dijamin.

Menciptakan Legasi Bersama Anak-Anak Muda

Di situlah kepemimpinan Wali Kota Eri Cahyadi dan Wakil Wali Kota Armuji diuji. Dalam konteks periode kedua memimpin, tidak mengherankan jika ada beban ekspektasi besar tentang pembangunan kota yang berani menatap masa depan dengan kepala tegak.

Baca juga : MotoGP, Begini Beda Gaji Marquez Dan Bagnaia

Maka jawabannya hanya satu: pandang anak-anak muda sebagai bagian integral dari pembangunan.

Dengan modal historis sebagai kuali kebangsaan Indonesia, modal geografis yang sangat strategis, juga modal demografis yang mumpuni, penatapan dan penataan Kota Surabaya harus melalui pemahaman bahwa ia adalah kota dunia yang berorientasi masa depan.

Dengan kekuatan APBD menyentuh kisaran 10 Triliun rupiah, Surabaya punya otonomi besar dalam membuat rancang bangun kotanya. Bali, misalnya memiliki visi 100 tahun Bali yang diintegrasikan dengan haluan jangka menengah dan jangka panjang pemerintahannya.

Dengan kehadiran berbagai perguruan tinggi ternama, sekolah vokasi, lembaga kajian, komunitas anak-anak muda, Karang Taruna, elemen usaha, industri media, dan berbagai kelompok kepentingan di dalamnya, tidak ada salahnya perancangan visi jangka panjang semacam ini dilakukan.

Konsep koordinasi multi-elemen ini lazim didengar di ruang publik di era pandemi Covid-19 sekian tahun yang lalu dengan istilah kerjasama Pentahelix.Surabaya bisa membangun koordinasi Pentahelix untuk menuntaskan berbagai soal, tidak hanya soal pandemi.

Persoalan integrasi transportasi publik, misalnya dapat dituntaskan dengan lebih cepat dengan menggunakan cara pandang ini. Bagaimana jika halte-halte ditempatkan tidak lagi di pinggir jalan, tetapi di landmark penting seperti mal, hotel, perkantoran, tempat wisata, kampus yang memang menjadi destinasi mobilitas warga? Tentu Pemerintah Kota tidak bisa bekerja sendirian.

Persoalan pemanfaatan aset pemerintah yang belum produktif misalnya, bagaimana jika dikerjakan dengan melibatkan gotong royong warga mulai dari rancangan desain, fungsi utilitas, hingga keterbukaan akses urun rembug yang dapat diakses secara digital melalui semacam Bank Data?

Baca juga : Harun Masiku Pindah Lokasi dalam Sedetik, Kubu Hasto: Secepat Cahaya?

Tentu tidak sulit bagi warga untuk punya sense of belonging dan ikut memelihara hingga mencari potensi ekonomi kreatif saat merasa dilibatkan dari awal.

Sebagai kota dunia, Surabaya juga bisa memainkan peran lebih aktif menggalang kerjasama berbagai pihak internasional. Dengan berbagai modal yang dimiliki, Surabaya ada di level pemain, bukan penonton.Aset seperti Kebun Binatang Surabaya misalnya, dapat dijadikan alat diplomasi.

Mengapa tidak mencoba gagasan baru seperti Sister Zoo, alih-alih hanya berhenti pada Sister City? Dari situ, berbagai potensi pertukaran budaya hingga kerjasama ekonomi dapat dibicarakan dengan cara yang elegan dan monumental. Itu baru satu aset.

Seperti yang tertulis di atas, problem global hari ini adalah soal ketidakpastian. Anak-anak muda merasakan itu. Maka kepemimpinan politik harus berorientasi menghadirkan rasa pasti.

Fokus dan mata masyarakat Indonesia, tidak hanya Surabaya, tertuju pada legasi dari kepemimpinan Eri Cahyadi dan Armuji di periode kedua. Bebannya besar, apalagi kerja-kerja tentu tidak muda dilakukan pasca periode pertama yang diwarnai Covid dan penyendatan ekonomi global di saat ini.

Tetapi dengan memaksimalkan modal dan jati diri kota, mengaktifkan gotong royong Pentahelix, mengintegrasikan anak muda di dalam pembangunan, dan memandang Surabaya sebagai kota dunia alih-alih sekedar satu di antara banyak kota yang lain, legasi itu bisa diciptakan.

Penulis adalah Aryo Seno Bagaskoro, Jubir PDI Perjuangan yang juga Ketua DPC Taruna Merah Putih Kota Surabaya

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.