Sebelumnya
Mengembangkan Diversitas Potensi Siswa
Jika TKA merupakan standar penilaian bertaraf nasional, apakah kebijakan ini akan berdampak pada homogenisasi atau penyamarataan potensi dan bakat anak didik? Tidak. Justru sebaliknya, TKA didesain untuk menumbuhkembangkan keragaman atau diversitas potensi, bakat dan kemampuan anak didik.
TKA adalah instrumen objektif untuk mengukur potensi dan kompetensi siswa. Tepat di titik inilah TKA berperan penting untuk mengetahui sejauh mana keterampilan sekaligus memetakan bakat dan potensi anak didik demi mewujudkan pendidikan bermutu.
Sebagaimana diungkapkan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Dirjen PAUD Dikdasmen Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Gogot Suharwoto saat membuka sosialisasi TKA di SMA Muhammadiyah Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (22/9/2025) bahwa TKA bukan sekadar ujian, tetapi sarana untuk mengukur kemampuan siswa secara objektif.
Baca juga : Demokrasi Di Atas Awan
Dengan TKA, bisa diketahui sejauh mana keterampilan dan pemahaman siswa, sehingga pada akhirnya bisa dipetakan bakat serta potensi mereka.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat bahwa TKA merupakan sarana objektif untuk mengenali keragaman kemampuan murid.
Tentu saja, kebijakan dan program apapun di bidang pendidikan, termasuk TKA, tidak boleh membunuh atau membrangus diversitas potensi, bakat dan kemampuan anak didik. Justru sebaliknya, kebijakan yang diciptakan harus mampu mendukung bagi tumbuh suburnya diversitas kemampuan siswa.
Dalam karyanya, An Introduction to Theories of Learning (2015:37), Hergenhahn dan Olson menyatakan bahwa pendidikan yang efektif adalah pendidikan yang mengakomodasi perbedaan individu serta memberikan kesempatan bagi setiap siswa untuk berkembang sesuai kodrat potensinya.
Baca juga : Gubernur NTB Kawal Universitas Samawa Jadi Kampus Negeri
Keragaman potensi siswa mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik yang berbeda-beda pada setiap individu. Howar Gardner (1983:9) melalui teori Multiple Intelligences menegaskan, manusia memiliki berbagai bentuk kecerdasan seperti linguistik, logika-matematika, musikal, spasial, kinestetik, interpersonal, dan intrapersonal, yang semua ini tidak dapat diukur hanya dengan satu jenis tes standar.
Karena itu, TKA juga perlu dipandang sebagai salah satu dari sekian banyak instrumen yang menggambarkan sebagian kemampuan siswa, bukan satu-satunya penentu potensi mereka.
Paradigma pendidikan sudah saatnya diubah dari sekadar pengukuran kemampuan akademik menuju pengenalan dan pengembangan potensi anak didik yang beragam.
Guru dan lembaga pendidikan harus mampu memfasilitasi beragam bentuk kecerdasan siswa agar semua potensi dapat berkembang secara optimal.
Baca juga : Marc Klok Bangga Skuad Persib Makin Solid
Dengan demikian, TKA tetap relevan sebagai salah satu alat diagnosis awal kemampuan intelektual, tetapi hasilnya harus dipadukan dengan penilaian holistik terhadap diversitas kepribadian, kreativitas, bakat dan minat anak didik.
Penulis adalah Muhammad Muhibbuddin, peneliti di Mulyodadi Social Science Foundation (MSSF) dan Pegiat literasi di PP. Kutub Hasyim Asyari, Yogyakarta
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.