Sebelumnya
What’s Next? Bagi para siswa, hasil TKA 2025 dan ujian sekolah berikutnya akan menjadi tolak ukur kemampuan akademik sebelum memasuki fase seleksi perguruan tinggi. Oleh karena itu, guru dan sekolah diimbau untuk memanfaatkan hasil TKA sebagai bahan evaluasi pembelajaran, agar strategi belajar di semester berikutnya bisa lebih tepat sasaran.
Dengan berakhirnya TKA dan sederet ujian lanjutan, tahun ajaran 2025 menjadi periode penting menuju transisi jenjang pendidikan tinggi bagi jutaan siswa di seluruh Indonesia. Lalu apa langkah selanjutnya setelah TKA selesai dilakukan dan hasilnya keluar.
Ada empat catatan penting dan mendesak yang ingin saya garisbawahi. Pertama, melalui TKA, guru harus bisa melalukan penilaian atas pembelajaran siswa. Sebab manfaat paling nyata dari tes adalah untuk mengukur apakah siswa telah memahami apa yang diajarkan atau belum.
Hal ini memungkinkan guru untuk menganalisis area yang membutuhkan lebih banyak upaya dari mereka dan area yang telah dicapai siswa dengan baik. Tes ini akan membantu guru dalam membahas kemajuan siswa dalam pertemuan dengan orang tua mereka.
Tes ini juga akan memberikan peta jalan bagi orang tua untuk memberi tahu mereka area mana yang perlu ditingkatkan agar anak-anak mereka unggul dalam studi mereka.
Baca juga : Sesali Masih Ada Kasus Keracunan MBG, Kepala BGN Akan Sidak Diam-diam
Di sisi lain, tes ini juga membuat siswa mengetahui kekurangan mereka, sehingga memungkinkan mereka untuk meningkatkan area tersebut. Kedua, guru juga mesti bisa memotivasi siswa setelah hasil TKA keluar. Salah satu manfaat paling signifikan dari TKA adalah menanamkan rasa kompetisi yang sehat antar siswa.
Hal ini memungkinkan siswa untuk melakukan evaluasi diri dan membuat mereka bekerja lebih keras untuk meraih hasil yang lebih baik di lain waktu.
Dalam upaya untuk berprestasi lebih baik daripada yang lain, mereka akan mampu bekerja keras dan tetap fokus belajar demi meraih tujuan akademik. Ketiga, setelah hasil TKA keluar, guru harus bisa mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan siswa.
Dalam hal akademik, kita tahu tidak semua siswa menguasai semua mata pelajaran. Beberapa siswa menyukai matematika sementara yang lain membencinya, bagi sebagian orang sains adalah proyek yang paling menarik dan paling mudah diakses, sementara yang lain gagal memahami bahkan konsep yang paling sederhana sekalipun.
Dengan bantuan asesmen, kekuatan dan kelemahan siswa dapat diukur dengan mudah. Hal ini memudahkan siswa, guru, dan orang tua memilih bidang studi yang tepat bagi mereka dalam jangka panjang. Keempat, mengenai kesenjangan yang signifikan antara pendidikan formal dan nonformal.
Baca juga : Tes Kemampuan Akademik (TKA) Di SLB Berjalan Lancar Di Berbagai Wilayah
Sebagaimana telah dicatat di awal tulisan ini, data Litbang Kompas menunjukkan bahwa akses terhadap TKA masih sangat bergantung pada jenis lembaga pendidikan. Siswa dari jalur formal umum jauh lebih siap dalam hal fasilitas, sementara peserta dari pendidikan alternatif, keagamaan, dan kebutuhan khusus masih tertinggal.
Potensi disparitas tetap ada, meskipun pemerintah telah berupaya menjembatani kesenjangan ini. Kesenjangan ini bukan sekadar masalah partisipasi teknis, melainkan cerminan dari ketimpangan kualitas dan akses pendidikan.
Sekolah-sekolah di daerah tertinggal seringkali kekurangan guru bersertifikat, perangkat teknologi, dan koneksi internet yang memadai untuk menghadapi format ujian berbasis komputer.
Intinya, melalui empat catatan tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah diharapkan bisa mendorong guru untuk lebih aktif dan responsif terhadap apa yang dibutuhkan siswanya setelah hasil TKA keluar.
Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah juga perlu menyikapi data Litbang Kompas untuk mengurangi kesenjangan yang terjadi antara Sekolah-sekolah di Pusat dengan Sekolah-sekolah di daerah tertinggal dengan memenuhi kebutuhan guru bersertifikat, perangkat teknologi, dan koneksi internet yang memadai untuk menghadapi format ujian berbasis komputer.
Baca juga : Siswa Antusias, Tes Kemampuan Akademik di Sulsel Berjalan Lancar
Dengan begitu, ke depan, para siswa akan bisa, seperti dikatakan Matshona Dhliwayo Work hard, and you will earn good rewards. Work smart, and you will earn great rewards. Work hard and work smart, and you will earn extraordinary rewards, yakni prestasi akademik siswa.
Penulis adalah Dosen Hubungan Internasional Universitas Satyagama, Pendiri The Asrudian Center, Asrudin Azwar.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.