Dark/Light Mode

Sesali Masih Ada Kasus Keracunan MBG, Kepala BGN Akan Sidak Diam-diam

Minggu, 16 November 2025 08:11 WIB
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindaya (Foto: Tedy O Kroen/RM)
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindaya (Foto: Tedy O Kroen/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindaya sangat menyesalkan hal ini. Untuk mencegah kasus ini berulang, Dadan akan melakukan inspeksi mendadak (sidak) diam-diam ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Peristiwa terbaru, sebanyak 50 siswa dari lima sekolah di Kota Bogor, diduga keracunan MBG yang dibagikan pada Jumat (14/11/2025). Para siswa itu berasal dari SD Batutulis 1, SD Batutulis 2, SD Batutulis 3, SD Lawanggintung, dan SMK PUI.

Para siswa mengalami mual, pusing, hingga muntah. Siswa yang terdampak mendapatkan penanganan medis di tiga puskesmas wilayah Bogor Selatan.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor Sri Nowo Retno mengatakan, seluruh siswa terdampak menyantap menu MBG yang berasal dari satu dapur SPPG. Menu yang dibagikan terdiri dari nasi, ayam bakar, tumis jagung-wortel, susu kotak, dan keripik tempe. Tim kesehatan tengah menelusuri sumber penyebab keracunan sekaligus melakukan pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan dan spesimen siswa.

Baca juga : 2027, Jokowi Akan All Out Kampanyekan PSI

Dadan sudah mendapat laporan terkait kasus ini. "Kejadian yang disesalkan dan membuat prihatin," ucapnya.

Dia memastikan akan melakukan langkah-langkah penanganan. Investigasi akan dilakukan secara detail terkait kejadian tersebut. "Kita investigasi detail yang terjadi," kata Dadan.

Dia pun berencana melakukan sidak ke dapur MBG demi memastikan setiap penerima manfaat tidak mengalami masalah kesehatan. “Kita akan lakukan diam-diam,” tuturnya.

Pihak SPPG Batutulis, melalui kuasa hukumnya, Agus Murianto, mengklaim bahwa proses penyediaan menu MBG sudah sesuai aturan. Dia menyampaikan permohonan maaf dan menjamin akan menanggung biaya pengobatan siswa yang diduga mengalami keracunan.

Baca juga : Raja Yordania Tamu Prabowo Paling Istimewa

"Sama sekali kami tidak punya niat sedikitpun untuk membuat masakan yang kami duga menyebabkan peristiwa ini," kata Agus, di Puskesmas Bondongan.

Saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi IX DPR, pekan lalu, Dadan menyampaikan langkah-langkah yang dilakukan BGN untuk mencegah kasus keracunan MBG. BGN telah mewajibkan SPPG menyediakan sejumlah alat untuk sterilisasi.

Dadan menjelaskan, SPPG wajib memiliki alat sterilisasi tempat penyajian makanan atau food tray. Terutama yang berbahan seperti lemari dan memiliki uap panas yang bisa sampai 120 derajat, sehingga food tray bisa cepat dikeringkan, dan juga steril.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), keracunan pangan di Indonesia setengahnya disebabkan oleh cemaran bakteri e.coli dari air. Sehingga seluruh SPPG juga wajib memiliki alat untuk sterilisasi air.

Baca juga : Purbaya Buru Pengemplang Pajak

"Seluruh SPPG sekarang diminta menggunakan air untuk masak yang tersertifikasi. Baik itu air dalam kemasan maupun air isi ulang," tuturnya.

Dadan menerangkan, sudah ada 1.619 SPPG yang memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dan alat-alat higienis. Penerapan aspek higienis di SPPG terus diperketat. Namun, kecepatan penerbitan sertifikatnya tergantung dari Pemerintah Daerah (Pemda) masing-masing. "Ada yang sangat cepat, ada yang masih membutuhkan waktu," kata Dadan.

Per Rabu (12/11/2025), BGN mencatat total keracunan pangan di Indonesia mencapai 441 kejadian. Sebanyak 211 kejadian atau 48 persen berasal dari MBG.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.