Tidak banyak akademisi yang benar-benar merasakan denyut persoalan masyarakat dari jarak yang sangat dekat. Saya beruntung atau mungkin justru “dipaksa keadaan” untuk mengalami dua dunia sekaligus, ruang kelas dan ruang warga. Di satu sisi, saya berdiri di mimbar akademik sebagai Ketua Program Studi. Di sisi lain, saya hadir di tengah masyarakat sebagai Ketua RW 10, Kelurahan Sudimara Jaya, Ciledug, Kota Tangerang.
Dari perjumpaan dua dunia inilah, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana namun mendasar, ilmu pengetahuan akan kehilangan maknanya jika tidak membumi.
Di ruang akademik, kita terbiasa berbicara tentang teori, metodologi, dan publikasi ilmiah. Ukuran keberhasilan seringkali direduksi menjadi jumlah jurnal terindeks, sitasi, dan capaian administratif lainnya. Tidak salah. Bahkan itu penting sebagai bagian dari akuntabilitas keilmuan. Namun, pertanyaannya: sejauh mana ilmu tersebut benar-benar menjawab problem nyata di masyarakat?
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika saya berada di lingkungan RW. Di sana, persoalan tidak datang dalam bentuk konsep, melainkan realitas, saluran air tersumbat, pengelolaan sampah yang belum optimal, persoalan sosial antarwarga, hingga kebutuhan bantuan bagi keluarga yang rentan.
Menariknya, hampir semua persoalan tersebut sebenarnya memiliki irisan dengan berbagai disiplin ilmu yang diajarkan di kampus. Namun, seringkali terjadi jarak yang cukup lebar antara apa yang dipelajari dan apa yang dibutuhkan.
Di sinilah problem utamanya, ilmu terlalu sering berhenti di atas kertas.
Baca juga : Cek Endra Apresiasi Temuan Cadangan Gas Baru PetroChina Jambi
Kita tidak kekurangan teori. Kita juga tidak kekurangan riset. Tetapi, kita kerap kekurangan keberanian untuk menjembatani keduanya dengan realitas. Banyak penelitian yang selesai di meja sidang atau jurnal ilmiah, tanpa pernah benar-benar “turun tangan” untuk diuji dalam kehidupan nyata.
Padahal, esensi dari ilmu pengetahuan bukan hanya untuk dipahami, tetapi untuk digunakan.
Pengalaman di tingkat RW mengajarkan saya bahwa solusi tidak selalu harus kompleks. Kadang, yang dibutuhkan justru pendekatan sederhana, kontekstual, dan partisipatif. Misalnya, persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan konsep manajemen modern, tetapi harus melibatkan kesadaran kolektif warga. Di sinilah peran ilmu menjadi penting, bukan sebagai sesuatu yang “menggurui”, tetapi sebagai alat untuk memberdayakan.
Sayangnya, dalam praktiknya, banyak akademisi masih terjebak dalam “menara gading”. Ada jarak psikologis dan struktural yang membuat kampus seolah menjadi dunia tersendiri, terpisah dari masyarakat. Padahal, Tri Dharma Perguruan Tinggi secara jelas menempatkan pengabdian kepada masyarakat sebagai salah satu pilar utama.
Pertanyaannya: sudahkah pengabdian itu dilakukan secara substantif, atau sekadar formalitas?
Kita perlu jujur mengakui bahwa sebagian program pengabdian masih bersifat seremonial. Kegiatan dilakukan, laporan disusun, tetapi dampaknya tidak berkelanjutan. Ini bukan semata soal niat, tetapi soal paradigma. Selama ilmu masih diposisikan sebagai “produk” yang selesai di kampus, maka ia akan sulit menjadi solusi di masyarakat.
Baca juga : Rupiah Turun Ke Rp 16.923, Tertekan Harga Minyak
Oleh karena itu, diperlukan pergeseran cara pandang. Akademisi tidak cukup hanya menjadi produsen pengetahuan, tetapi juga harus menjadi agen perubahan. Artinya, kita perlu lebih aktif turun ke lapangan, memahami konteks, dan berkolaborasi dengan masyarakat.
Turun ke RW, bagi saya, bukan sekadar aktivitas sosial, tetapi sebuah proses pembelajaran yang sangat berharga. Di sana, saya belajar bahwa masyarakat bukan objek, melainkan subjek. Mereka memiliki pengetahuan lokal, pengalaman, dan kearifan yang tidak selalu tertulis dalam buku.
Ketika ilmu akademik bertemu dengan kearifan lokal, di situlah lahir solusi yang lebih relevan dan berkelanjutan.
Dalam konteks yang lebih luas, ini juga menjadi tantangan bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Kita perlu mendorong model pembelajaran yang lebih kontekstual, berbasis masalah nyata, dan terintegrasi dengan kebutuhan masyarakat. Mahasiswa tidak cukup hanya memahami teori, tetapi juga harus dilatih untuk menyelesaikan persoalan riil.
Demikian pula dengan penelitian, yang perlu diarahkan tidak hanya untuk publikasi, tetapi juga untuk dampak. Ukuran keberhasilan tidak hanya berhenti pada indeksasi, tetapi juga pada sejauh mana penelitian tersebut memberikan kontribusi nyata.
Pada akhirnya, membumikan ilmu bukanlah pilihan, melainkan keharusan.
Baca juga : Sheila Dara Aisha, Tegar Melepas Suami
Di tengah kompleksitas persoalan bangsa mulai dari lingkungan, ekonomi, hingga sosial kita membutuhkan ilmu yang hidup, yang hadir, dan yang bekerja. Ilmu yang tidak hanya menjelaskan, tetapi juga menyelesaikan.
Sebagai akademisi yang sekaligus hidup di tengah masyarakat, saya percaya bahwa jembatan antara kampus dan masyarakat harus terus diperkuat. Bukan dengan pendekatan top down, tetapi dengan semangat kolaborasi dan keberpihakan.
Karena pada akhirnya, ilmu yang tidak membumi hanya akan menjadi wacana. Sementara masyarakat membutuhkan solusi nyata.
Dan mungkin, jawabannya tidak selalu harus dicari jauh-jauh. Kadang, ia justru ada di sekitar kita di gang-gang sempit yang selama ini luput dari perhatian.
Di sanalah ilmu menemukan maknanya yang paling sejati.
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.