Dark/Light Mode

Seskab Teddy Rajin Turun ke Rakyat, Pengamat Politik: Bentuk Pelayanan Publik

Senin, 17 November 2025 15:58 WIB
Foto: Kemensos.
Foto: Kemensos.

RM.id  Rakyat Merdeka - Pengamat politik Universitas Nasional (Unas), Amsori Baharudin Syah mengatakan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya tidak lagi sekadar menjalankan peran teknokratis karena memilih turun langsung ke akar rumput.

Seskab Teddy dalam beberapa kesempatan turun langsung ke masyarakat untuk mendengar dan menyerap aspirasi, salah satunya mengunjungi sekolah rakyat.

“Apa yang dilakukan Teddy Indra Wijaya adalah bentuk dari pelayanan publik. Ia hadir bukan sebagai pejabat, tetapi sebagai manusia yang mau mendengar,” ujar Amsori dalam keterangannya, Senin (17/11/2025). 

Amsori menilai, pendekatan Teddy menghadirkan model kepemimpinan publik yang jarang terlihat pada pejabat kabinet.

Dalam banyak birokrasi modern, pejabat umumnya berfungsi sebagai pengambil keputusan strategis di balik ruang rapat. Namun Teddy, kata dia, justru memindahkan sebagian ruang kerjanya ke tengah masyarakat.

Baca juga : Survei Indikator: Kejaksaan Lembaga Penegak Hukum Paling Dipercaya Publik

“Di mata saya, Teddy hadir sebagai wujud negara yang mengasuh, bukan mengatur. Ini penting, karena negara tidak cukup hanya membuat aturan, negara harus hadir dalam rasa, hadir dalam kehidupan warganya,” tuturnya.

Menurut Amsori, kehadiran fisik pejabat tinggi negara, lanjut Amsori, memiliki dampak psikologis kuat. Masyarakat merasa dilihat, didengar, dan dihargai. Dalam situasi ketika jarak antara pemerintah dan rakyat kerap terasa lebar, Teddy justru menembus batas tersebut.

Amsori menyebut gaya kepemimpinan Teddy sejalan dengan konsep “empathetic governance”, sebuah pendekatan dalam teori kepemimpinan publik yang menekankan kehadiran emosional, bukan hanya struktural.

Ia menjelaskan bahwa menurut teori Hannah Arendt tentang “power as acting in concert”, kekuasaan politik sejati muncul ketika pemimpin berada dalam ruang yang sama dengan rakyat dan membangun kepercayaan melalui tindakan konkret.

“Teddy tidak sedang menunjukkan kuasa administratif, tetapi kuasa moral. Ia membangun legitimasi dengan mendengarkan, bukan memerintah,” jelas Amsori.

Baca juga : Indikator: Seskab Teddy Curi Perhatian, Masuk Menteri Paling Dikenal Publik

Pendekatan ini, menurutnya, menjadi modal penting bagi birokrasi modern yang menuntut pemimpin untuk adaptif, inklusif, dan dekat dengan realitas sosial.

Menurut Amsori, langkah Teddy mengunjungi sekolah rakyat merupakan simbol dari semangat state nurturing, negara yang hadir untuk merawat, menguatkan, dan memanusiakan warganya.

Ia menilai, gestur sederhana seperti duduk bersila bersama anak-anak, berbicara santai dengan orang tua, atau mendengarkan keluhan tanpa catatan protokol justru menjadi tindakan administratif paling kuat.

“Banyak pejabat bicara soal pelayanan publik, tetapi sedikit yang hadir sebagai manusia. Teddy melakukannya. Itu yang membuat pesan kepemimpinannya berbeda,” sambungnya.

Amsori menambahkan, langkah Teddy ini juga memperkuat citra kabinet sebagai institusi yang tidak hanya mengeluarkan kebijakan, tetapi juga memahami realitas lapangan tempat kebijakan itu bekerja.

Baca juga : Besaran Subsidi Turun Terus, Transjakarta Ngebet Ingin Naikkan Tarif

Menurutnya, perubahan gaya kepemimpinan seperti ini sangat relevan dalam konteks politik kontemporer Indonesia.

Di tengah tingkat skeptisisme publik terhadap pejabat negara, pendekatan empatik dan rendah hati dapat menjadi jembatan untuk memulihkan kepercayaan.

“Teddy menunjukkan bahwa negara yang kuat adalah negara yang mau mendengar,” tandas Amsori.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.