BREAKING NEWS
 

Buku “Kampus Meretas Batas” Rekam Visi Global President University

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Sabtu, 25 April 2026 08:16 WIB
Peluncuran buku Kampus Meretas Batas di kampus President University, Rabu (22/4/2026). (Foto: President University)

RM.id  Rakyat Merdeka - Peluncuran buku Kampus Meretas Batas di kampus President University, Rabu (22/4/2026), bukan sekadar seremoni akademik. Momentum ini menjadi refleksi panjang atas visi, keberanian, dan eksperimen pendidikan yang telah berjalan lebih dari dua dekade.

Berlangsung dalam rangkaian Dies Natalis ke-25, peluncuran buku tersebut menggambarkan perjalanan President University dari gagasan yang semula terdengar utopis hingga menjadi institusi yang konsisten mencetak sumber daya manusia berstandar global.

Pendiri President University, Setyono Djuandi Darmono, mengungkapkan ide mendirikan universitas internasional berangkat dari keresahan sejak 1994. Saat itu, kawasan industri Jababeka di Cikarang yang ia kembangkan membutuhkan tenaga kerja terampil, sementara pendidikan tinggi di Indonesia saat itu belum mampu menjawab kebutuhan industri.

“Berangkat dari kebutuhan kawasan industri akan tenaga kerja terampil, saya menyadari bahwa pendidikan tinggi di Indonesia saat itu belum sepenuhnya menjawab tuntutan dunia industri,” ujar Darmono, dalam sambutannya, di Cikarang, Rabu (23/4/2026).

Ia sempat terinspirasi model politeknik di Singapura yang dibangun melalui kolaborasi internasional dengan Jerman, Prancis, dan Jepang. Namun keterbatasan sumber daya membuatnya memilih mendirikan universitas dengan pendekatan vokasi.

Konsep yang diusung bukan sekadar memberikan gelar akademik, tetapi juga menanamkan keterampilan praktis dan konsep economic survival sejak tahun pertama melalui program magang.

Baca juga : Gelar Konser Virtual di Roblox, President University Cetak Sejarah

Perjalanan tersebut tidak berjalan mulus. Krisis moneter 1998 sempat mengguncang fondasi ekonomi dan menghentikan arus investasi asing. Namun di tengah ketidakpastian, Darmono melihat peluang.

“Saya berpikir, jika industri belum siap datang, maka pendidikanlah yang harus lebih dulu bergerak,” katanya.

Dari keyakinan itu, President University tumbuh dengan ambisi menjadi institusi berkelas dunia, tercermin dari komposisi mahasiswa dan dosen internasional.

“Tanpa memahami sejarah, mustahil merumuskan masa depan. Dan membaca 18 bab buku ini, saya merasa terharu. Betapa tidak, mimpi saya dan kawan-kawan mendirikan institusi pendidikan tinggi yang lulusannya memiliki economic survival dan good character mampu ditangkap dengan baik oleh Pak Satrijo,” pungkas Darmono.

Adsense

Penulis buku, Satrijo Tanudjojo, yang mengikuti acara secara daring dari Paris, menyatakan ketertarikannya menulis buku tersebut berangkat dari kegelisahan intelektual terhadap kondisi pendidikan tinggi di Indonesia.

“Memahami sejarah sebuah organisasi berarti memahami nilai, keputusan, dan perjuangan yang membentuk identitasnya, dan dari situlah masa depan bisa diarahkan. Dari titik itulah buku Kampus Meretas Batas lahir, bukan sekadar dokumentasi, tetapi sebagai upaya membangun konteks,” ungkap Satrijo.

Baca juga : Gema Bangsa Deklarasi Jadi Partai Modern Dan Terbuka

Dalam bukunya, ia juga menyoroti sistem pendidikan tinggi di Indonesia yang dinilai cenderung memakan waktu lebih lama dari yang dirancang. Baginya, keberanian untuk berbeda merupakan filosofi penting.

“Berani untuk berbeda, berani untuk menembus batas—itulah semangat yang ingin saya tangkap,” katanya.

Dekan Faculty of Social Science and Education President University, Prof. Dr. M. Syafi’i Anwar, menilai kekuatan buku ini terletak pada kemampuannya menggambarkan universitas sebagai entitas pembentuk karakter.

“Narasi dalam buku ini berhasil menampilkan keunikan dan keunggulan komparatif President University sebagai universitas internasional yang berakar di Indonesia,” ujar Syafi’i.

Ia menambahkan, buku ini tidak hanya menjadi dokumentasi, tetapi juga membuka ruang ekspansi intelektual lintas bahasa dan budaya. Rencana penerjemahan ke bahasa Mandarin dinilai sebagai bukti relevansi globalnya.

“Rencana penerjemahan ke Bahasa Mandarin jadi bukti bahwa kisah ini tak hanya relevan secara lokal, tapi juga punya daya tarik global,” katanya.

Baca juga : 2 Srikandi Terpilih Jadi Ketua & Wakil Ketua PUFA FADA President University 2025

Menurut Syafi’i, buku ini diposisikan sebagai “kompas sejarah” bagi mahasiswa, dosen, dan alumni.

“Tanpa memahami sejarah, mustahil merumuskan masa depan. Lewat Kampus Meretas Batas, President University tak hanya merayakan masa lalu, tapi menegaskan komitmen untuk terus melampaui batas,” tutupnya.

President University merupakan perguruan tinggi swasta terakreditasi unggul dengan lingkungan akademik internasional. Kurikulum dan bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa pengantar utama.

Saat ini, President University tercatat sebagai salah satu kampus swasta dengan jumlah mahasiswa asing terbanyak di Indonesia, berasal dari lebih dari 50 negara.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense