BREAKING NEWS
 

Guru Stres Hadapi Kenakalan Siswa: Darurat Kesehatan Mental di Sekolah

Writer : I Dewa Gede Sayang Adi Yadnya
Editor : UJANG SUNDA
Senin, 18 Mei 2026 13:43 WIB
Indonesian Hypnosis Centre menyelenggarakan pelatihan hipnoterapi khusus guru untuk tangani kesehatan mental siswa di sekolah (Foto: Dok: Dewa)

Kasus pembunuhan berencana yang mengguncang Kabupaten Karawang beberapa hari lalu bukan sekadar berita kriminal biasa. Seorang pelajar SMKN di Batujaya, berusia 15 tahun, ditemukan tewas bersimbah darah di bantaran Sungai Citarum. Ia dibunuh oleh kakak kelasnya (baru lulus), hanya demi sebuah sepeda motor senilai Rp 4 juta. Tragedi ini adalah tamparan keras bagi kita semua: bahwa krisis yang sesungguhnya bukan hanya terjadi di ruang-ruang gelap di luar sekolah, melainkan justru tumbuh dan membusuk di dalam relasi antar siswa yang seharusnya saling menjaga.

Sebagai pemerhati pendidikan dan kesehatan mental anak serta remaja, saya tidak bisa membaca berita ini hanya sebagai peristiwa kriminal semata. Di balik setiap aksi kekerasan yang dilakukan remaja, hampir selalu ada luka yang tidak pernah ditangani. Luka itu berupa tekanan ekonomi, krisis identitas, minimnya pengasuhan emosional, dan ketidakmampuan mengelola amarah serta frustrasi yang menumpuk bertahun-tahun. Pelaku adalah remaja 17 tahun. Korban baru 15 tahun. Keduanya adalah anak-anak yang seharusnya sedang belajar menemukan jati diri, bukan terjebak dalam lingkaran kekerasan yang merenggut masa depan mereka sebelum sempat dimulai.

Data berbicara lebih keras dari opini siapa pun. Survei I-NAMHS tahun 2022 mengungkap bahwa satu dari tiga remaja Indonesia (setara 15,5 juta jiwa) mengalami masalah kesehatan mental dalam setahun terakhir. Angka itu bukan statistik dingin di atas kertas. Itu adalah sosok-sosok nyata yang duduk di bangku kelas setiap pagi, yang mungkin tersenyum di depan guru namun menyimpan badai di dalam dadanya. Ketika tidak ada yang melihat, tidak ada yang mendengar, dan tidak ada yang membantu, maka badai itu akhirnya meletus dengan cara yang paling destruktif, dan seringkali tak bisa diulang kembali.

Baca juga : Skema Murur Disiapkan Demi Keselamatan Jemaah Haji

Ironisnya, sistem pendidikan kita belum beranjak cukup jauh untuk merespons krisis ini secara serius dan terstruktur. Ketika muncul siswa bermasalah, sekolah pada umumnya langsung menyerahkan penanganan kepada guru bimbingan dan konseling. Namun di sinilah celah itu menganga lebar: bimbingan konseling di banyak sekolah tidak dibekali kompetensi terapi yang memadai. Kenakalan remaja hadir dengan pemicu yang berbeda-beda. Ada yang karena trauma masa kecil, disfungsi keluarga, tekanan sosial, hingga gangguan emosi yang sudah mengakar kronis. Setiap pemicu dimaksud membutuhkan pendekatan yang tepat sasaran dan terukur, bukan sekadar nasihat di ruang BK atau panggilan orang tua yang berulang tanpa hasil. Penanganan yang hanya menyentuh permukaan, tanpa mengintervensi pikiran bawah sadar tidak akan pernah mampu mencabut akar masalah.

Lebih memprihatinkan lagi, para guru pun ikut tumbang dalam pusaran situasi ini. Beban administrasi yang menumpuk, tekanan kurikulum yang tak kunjung bersahabat, dan minimnya pelatihan psikologis membuat banyak guru mundur ke zona nyaman: mengajar materi, lalu pulang. Mereka ikutan stress, mereka menganggap tugas selesai ketika bel berbunyi. Padahal, guru adalah orang dewasa yang paling intens berinteraksi dengan siswa setiap harinya. Merekalah yang pertama kali berpeluang menangkap sinyal-sinyal bahaya seperti kemurungan, agresi, penarikan diri, jauh sebelum semuanya terlambat untuk ditangani.

Maka langkah yang diambil Indonesian Hypnosis Centre (IHC) dengan menyelenggarakan pelatihan hipnoterapi khusus bagi para guru pada 16 Mei 2026 di Jakarta layak disebut sebagai ikhtiar nyata di tengah kekosongan yang lama dibiarkan. Kurikulum yang mengacu pada Standar Kompetensi Lulusan Hipnoterapi yang ditetapkan Kemendikdasmen menjamin bahwa pelatihan ini bukan sekadar motivasi sesaat. 

Baca juga : CFD Di Jl Rasuna Said Akan Dimulai Lebih Pagi

IHC membekali Para peserta (guru-guru swasta) dibekali tiga kemampuan krusial: teknik menangani konflik batin diri, terapi berbagai gangguan psikologis, hingga teknik terapi massal yang dapat diterapkan langsung di dalam kelas. Lebih jauh, nantinya guru yang dinyatakan kompeten berpeluang memperoleh surat izin praktik resmi melalui Dinas Kesehatan setempat. Ini merupakan sebuah legalitas yang menjadikan mereka tidak lagi sekadar pengajar, melainkan agen pemulihan jiwa di garis terdepan pendidikan.

Tentu satu terobosan pelatihan tidak akan menyelesaikan semua persoalan yang sudah menggunung. Dibutuhkan kebijakan yang sistemik dan berkelanjutan: pemenuhan rasio psikolog atau  hipnoterapis yang ideal, anggaran kesehatan mental yang cukup, serta perubahan paradigma mendasar bahwa sekolah bukan hanya mesin pencetak nilai akademik, melainkan ruang tumbuh kembang jiwa secara utuh dan manusiawi.

Kasus siswa SMK di Karawang harus menjadi titik balik yang sungguh-sungguh, bukan sekadar berita yang ramai sepekan lalu menguap begitu saja. Selama kita terus membiarkan luka-luka diam itu tidak tertangani, kita sesungguhnya sedang menghitung mundur menuju tragedi berikutnya. Dan ketika itu terjadi, kita semua baik itu guru, orang tua, pemerintah, dan masyarakat maka kita akan menanggung rasa bersalah yang sama beratnya.

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense