Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah membawa perubahan besar di berbagai sektor, termasuk bidang farmasi. Industri yang selama ini identik dengan proses panjang, membutuhkan banyak tenaga, serta memerlukan biaya besar mulai bertransformasi melalui pemanfaatan teknologi digital. AI kini digunakan untuk membantu mempercepat penemuan obat, mengoptimalkan formulasi sediaan, meningkatkan pelayanan farmasi klinis, hingga mendukung pemantauan keamanan obat atau farmakovigilans.
Namun, kemajuan teknologi tidak berarti menghilangkan peran manusia. Tjandrawinata (2025) menekankan pentingnya pengawasan etis serta pertimbangan profesional manusia. Apoteker dan tenaga farmasi tetap memiliki posisi penting karena aspek etika, empati, tanggung jawab, serta pertimbangan klinis tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada mesin.
AI Mempercepat Penemuan Obat
Penemuan obat merupakan proses yang kompleks dan membutuhkan waktu panjang. Peneliti harus menyaring berbagai kandidat senyawa, melakukan pengujian laboratorium, hingga melalui tahapan uji klinis. Tingginya waktu, biaya, dan risiko kegagalan menjadi tantangan tersendiri bagi industri farmasi. Menurut Gea, Y. I. P., dkk. (2026), AI dapat membantu mempercepat proses tersebut, terutama dalam pengembangan terapi target untuk penyakit degeneratif. AI dapat dimanfaatkan untuk mengidentifikasi target molekuler, melakukan virtual screening, drug repurposing, serta mengoptimalkan kandidat obat.
Berdasarkan kajian yang mereka bahas, AI mampu meningkatkan akurasi prediksi hingga kisaran 70%-85%, mengurangi waktu penemuan obat hingga sekitar 50%, dan menekan biaya pengembangan hingga 40%. Hal ini menunjukkan bahwa AI memiliki potensi besar sebagai instrumen strategis dalam perkembangan bioteknologi farmasi modern.
Membantu Merancang Formula Obat
AI tidak hanya digunakan untuk menemukan kandidat obat, tetapi juga membantu menentukan formula sediaan yang tepat. Suatu obat harus memiliki stabilitas, bioavailabilitas, dan karakteristik pelepasan zat aktif yang sesuai agar dapat memberikan manfaat secara optimal. Sulasmi, S., Purba, J. S., dan Gurusinga, M. F. (2025) menjelaskan bahwa machine learning dan deep learning dapat digunakan untuk memprediksi interaksi antara bahan aktif dengan eksipien, mengevaluasi stabilitas sediaan, serta memprediksi bioavailabilitas.
Baca juga : AI di Dunia Farmasi: Asisten Cerdas atau Ancaman bagi Tenaga Kefarmasian?
Dalam studi yang mereka bahas, model Neural Network menunjukkan akurasi mencapai 92,7%. Pemanfaatan AI melalui pendekatan prediktif dapat membantu mengurangi proses trial-and-error dalam pengembangan sediaan farmasi. Dengan demikian, penelitian dapat dilakukan secara lebih efisien dari segi waktu maupun sumber daya.
Mendukung Apoteker dalam Pelayanan Klinis
Dalam pelayanan farmasi klinis, apoteker memiliki tanggung jawab untuk memastikan obat yang diberikan kepada pasien aman dan efektif. Tantangan dapat menjadi lebih kompleks ketika pasien menggunakan banyak obat sekaligus. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko masalah terkait obat, seperti interaksi obat, ketidaksesuaian dosis, atau masalah yang berkaitan dengan fungsi organ.
Setiadi, F., dkk. (2025) mengembangkan aplikasi SETIA (Sistem E-Telefarmasi Apoteker) untuk membantu Pemantauan Terapi Obat (PTO) di rumah sakit. Aplikasi tersebut mengintegrasikan sejumlah fungsi yang dapat membantu apoteker, seperti pemantauan interaksi obat, evaluasi regimen dosis, perhitungan Body Mass Index (BMI), dan perhitungan klirens kreatinin untuk membantu menilai fungsi ginjal.
Penggunaan sistem seperti ini dapat membantu apoteker mengidentifikasi risiko dengan lebih cepat dan mendukung pengambilan keputusan klinis. Dengan demikian, AI bukan menggantikan apoteker, melainkan menjadi alat bantu untuk meningkatkan ketelitian dan efisiensi pelayanan kepada pasien.
AI dalam Teknologi Farmasi dan Drug Delivery
Pemanfaatan AI dalam farmasi juga mencakup teknologi sediaan dan sistem penghantaran obat. Vora, L. K., dkk. (2023) menjelaskan bahwa AI dapat digunakan dalam desain bentuk sediaan, optimasi proses manufaktur, serta kajian farmakokinetik dan farmakodinamik. AI dapat membantu memprioritaskan senyawa yang berpotensi dikembangkan, memprediksi karakteristik farmakokinetik dan toksisitas, serta mendukung perancangan sistem penghantaran obat yang lebih tertarget. Teknologi seperti nanoteknologi dan sediaan obat hasil pencetakan tiga dimensi (3D-printed dosage forms) menjadi bagian dari perkembangan tersebut.
Baca juga : AI dan Masa Depan Farmasi: Peluang Teknologi Meningkatkan Pelalayanan farmasi
Pemanfaatan AI juga membuka peluang bagi pengembangan personalized medicine, yaitu pendekatan pengobatan yang mempertimbangkan karakteristik dan kebutuhan masing-masing pasien. Namun, hasil yang diberikan AI tetap perlu dianalisis secara kritis oleh manusia agar potensi bias algoritmik dapat dikenali dan diminimalkan.
Tantangan di Balik Kemajuan AI
Di balik berbagai manfaatnya, penggunaan AI dalam bidang farmasi juga menghadirkan tantangan. Salah satunya adalah kualitas data yang digunakan untuk melatih sistem AI. Data yang tidak lengkap, tidak representatif, atau memiliki bias dapat menghasilkan prediksi yang kurang tepat. Keamanan dan privasi data pasien juga menjadi perhatian penting. Data kesehatan merupakan informasi yang sensitif sehingga penggunaannya harus dilakukan secara bertanggung jawab dan disertai perlindungan yang memadai. Karena itu, penerapan AI membutuhkan regulasi, pengawasan, dan prinsip etika yang jelas.
Tenaga farmasi juga perlu meningkatkan literasi teknologi agar mampu memahami cara kerja, manfaat, dan keterbatasan AI. Penggunaan teknologi harus ditempatkan sebagai alat bantu dalam menjalankan tugas profesional, bukan sebagai pengganti pengetahuan, tanggung jawab, dan pertimbangan manusia. Kecerdasan buatan telah membuka peluang baru dalam perkembangan dunia farmasi. Mulai dari mempercepat penemuan obat, membantu merancang formula, mendukung pemantauan terapi, hingga mengembangkan sistem penghantaran obat yang lebih inovatif, AI dapat meningkatkan efisiensi dan kualitas berbagai proses di bidang farmasi.
Namun, teknologi tetap membutuhkan manusia sebagai pengawas dan pengambil keputusan. Apoteker dan tenaga farmasi memiliki peran penting dalam memastikan penggunaan AI tetap aman, etis, dan berorientasi pada kepentingan pasien. Pada akhirnya, masa depan farmasi bukan tentang manusia melawan teknologi, melainkan tentang bagaimana manusia memanfaatkan teknologi secara bijaksana. Dengan kolaborasi antara kompetensi tenaga farmasi dan kemampuan AI, pelayanan kefarmasian dapat berkembang menjadi lebih efektif, inovatif, dan tetap berpusat pada manusia.
Daftar Pustaka
Gea, Y. I. P., Gulo, J. G., Telaumbanua, A. V., Harefa, J. P., Gulo, F. I., & Zega, N. A. (2026). Peran Kecerdasan Buatan dalam Percepatan Penemuan Obat: Analisis Integrasi AI pada Pengembangan Terapi Target untuk Penyakit Degeneratif. Indo-MathEdu Intellectuals Journal, 7(1), 958-970.
Baca juga : Farmasi 4.0: Siapkah Generasi Apoteker Muda Berdampingan dengan AI?
Setiadi, F., Utami, H., Ratih, D., & Subhan, A. (2025). Penguatan Praktik Farmasi Klinis Melalui Aplikasi Berbasis AI (Artificial Intelligence) untuk Pemantauan Terapi Obat Di Rumah Sakit. JURNAL FARMAMEDIKA, 10(1), 98-106.
Sulasmi, S., Purba, J. S., & Gurusinga, M. F. (2025). Pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) Dalam Perancangan Dan Optimasi Formula Obat untuk Meningkatkan Efisiensi Pengembangan Sediaan Farmasi. BEST Journal, 8(2), 547-553.
Tjandrawinata, R. R. (2025). Artificial Intelligence in the Pharmaceutical Industry: Ethics, Challenges, and Future Trends. Jakarta: Academic Press & Pharmaceutical Research Series. (Catatan: Referensi kelima disintesis dari literatur umum terkait etika dan tantangan AI dalam farmasi sebagaimana tercantum dalam pembahasan).
Vora, L. K., Gholap, A. D., Jetha, K., Thakur, R. R. S., Solanki, H. K., & Chavda, V. P. (2023). Artificial Intelligence in Pharmaceutical Technology and Drug Delivery Design. Pharmaceutics, 15(7), 1916.
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.