BREAKING NEWS
 

AI Membantu Tenaga Kefarmasian, Bukan Menggantikannya

Writer : rivarthe
Editor : UJANG SUNDA
Senin, 7 September 2026 15:03 WIB
Tenaga farmasi dalam menjalankan tugasnya. (Gambar dibuat menggunakan ChatGPT/OpenAI)

Perkembangan teknologi artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan saat ini sudah masuk ke berbagai bidang kehidupan, termasuk dunia kesehatan dan farmasi. Bagi saya sebagai mahasiswa farmasi, kehadiran AI bukan lagi sesuatu yang hanya dibicarakan sebagai teknologi masa depan. AI sudah mulai digunakan untuk membantu proses belajar, penelitian, pengembangan obat, pelayanan kefarmasian, hingga pengolahan dan analisis data.

AI merupakan teknologi yang memiliki peluang besar untuk membantu dunia farmasi menjadi lebih cepat dan efisien. Namun, saya tidak setuju jika AI dianggap sebagai pengganti tenaga kefarmasian. AI seharusnya menjadi alat bantu yang digunakan oleh manusia, bukan sebagai pengambil keputusan utama yang berkaitan dengan keselamatan pasien. 

AI Dapat Membantu Apoteker

Manfaat AI tidak hanya berada di laboratorium. Dalam praktik kefarmasian, AI dapat digunakan sebagai alat bantu untuk berbagai pekerjaan, misalnya menganalisis data pasien, membantu pemeriksaan interaksi obat, mendukung pengelolaan persediaan, serta membantu proses dokumentasi. Sebuah scoping review mengenai penerapan AI dalam praktik kefarmasian menunjukkan bahwa AI memiliki berbagai potensi dalam pelayanan farmasi, meskipun masih terdapat keterbatasan dalam penerapan dan bukti penggunaannya pada praktik sehari-hari.

Saya membayangkan seorang apoteker di masa depan tidak harus menghabiskan banyak waktu untuk pekerjaan administratif yang berulang. Jika sebagian pekerjaan tersebut dapat dibantu oleh AI, apoteker dapat lebih banyak menggunakan waktunya untuk berkomunikasi dengan pasien, memberikan konseling obat, memantau penggunaan obat, dan memastikan pasien memahami terapi yang diberikan. Dengan kata lain, menurut saya AI justru dapat membuat peran apoteker menjadi lebih berfokus pada aspek yang membutuhkan kemampuan manusia, seperti komunikasi, empati, pertimbangan profesional, dan pengambilan keputusan berdasarkan kondisi pasien.

Mahasiswa Farmasi Harus Belajar Menggunakan AI

Penggunaan AI dalam pendidikan sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari. AI dapat membantu mahasiswa memahami materi yang sulit, mencari ide penelitian, membuat rangkuman, menjelaskan istilah ilmiah, maupun menjadi teman diskusi ketika mempelajari suatu topik. Namun, terdapat perbedaan antara menggunakan AI untuk belajar dan menggunakan AI untuk menggantikan proses belajar. Jika mahasiswa hanya meminta AI mengerjakan tugas kemudian langsung menyalin jawabannya, mahasiswa mungkin mendapatkan nilai, tetapi belum tentu mendapatkan pengetahuan. Sebaliknya, jika AI digunakan untuk meminta penjelasan, mencari sudut pandang lain, membuat latihan soal, atau membantu memahami konsep, teknologi tersebut justru dapat menjadi alat belajar yang bermanfaat.

Baca juga : PEMANFAATAN AI DI DUNIA FARMASI: ANTARA PELUANG, TANTANGAN & MASA DEPAN APOTEKER

Penelitian mengenai persepsi mahasiswa farmasi terhadap AI menunjukkan bahwa mahasiswa cenderung memiliki pandangan positif terhadap penggunaan AI dalam praktik dan pendidikan farmasi, tetapi pengetahuan mereka mengenai penerapan AI masih perlu ditingkatkan. Hal tersebut menurut saya menjadi alasan mengapa mahasiswa farmasi perlu memiliki literasi AI. Kita tidak harus semuanya menjadi programmer, tetapi setidaknya harus memahami cara menggunakan AI, mengetahui keterbatasannya, mampu memeriksa kebenaran informasi, serta memahami aspek etika penggunaannya.

Bahaya AI Jika Digunakan Tanpa Pemeriksaan

Di balik manfaatnya, saya juga melihat AI memiliki risiko yang tidak boleh dianggap sepele, khususnya dalam bidang kesehatan. AI dapat memberikan jawaban yang terlihat meyakinkan tetapi ternyata salah, tidak lengkap, atau tidak sesuai dengan kondisi pasien.

WHO juga mengingatkan bahwa penggunaan AI generatif dalam bidang kesehatan memiliki risiko menghasilkan informasi yang salah, tidak akurat, bias, atau tidak lengkap. Karena itu, penggunaan AI dalam kesehatan membutuhkan pengawasan, regulasi, transparansi, dan perlindungan terhadap keselamatan pasien. Menurut saya, masalah tersebut menjadi sangat penting dalam bidang farmasi. Kesalahan informasi mengenai dosis, kontraindikasi, interaksi obat, atau penggunaan obat dapat memberikan dampak langsung terhadap pasien. Karena itu, saya tidak setuju apabila seseorang menggunakan AI sebagai satu-satunya sumber untuk menentukan terapi atau memberikan rekomendasi obat kepada pasien. Informasi dari AI tetap harus dibandingkan dengan sumber ilmiah yang terpercaya dan dinilai oleh tenaga kesehatan yang kompeten.

Apakah AI Akan Menggantikan Apoteker?

Pertanyaan ini mungkin menjadi salah satu kekhawatiran terbesar ketika membicarakan AI dalam dunia farmasi. Menurut pendapat saya, AI lebih mungkin mengubah cara apoteker bekerja daripada menggantikan apoteker sepenuhnya. FDA bersama European Medicines Agency telah mengembangkan prinsip penggunaan AI dalam pengembangan obat yang menekankan pendekatan yang berpusat pada manusia, penilaian berbasis risiko, tata kelola data, evaluasi kinerja, serta pengawasan sepanjang siklus hidup teknologi.

Adsense

Bagi saya, hal tersebut menunjukkan bahwa manusia tetap memiliki peran penting. AI dapat menghitung lebih cepat, menganalisis data dalam jumlah besar, dan menemukan pola yang mungkin sulit dilihat manusia. Namun, AI tidak memiliki tanggung jawab profesional dan hubungan kemanusiaan seperti seorang apoteker. Ketika seorang pasien datang ke apotek dan menceritakan keluhannya, pasien tidak hanya membutuhkan informasi mengenai obat. Pasien juga membutuhkan seseorang yang dapat mendengarkan, memahami kekhawatirannya, menjelaskan penggunaan obat dengan bahasa yang mudah dipahami, dan memberikan pertimbangan profesional. Menurut saya, aspek tersebut tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh AI.

Kesimpulan

Baca juga : AI di Dunia Farmasi: Membantu Apoteker atau Justru Menggantikan Perannya?

AI merupakan peluang besar bagi perkembangan dunia farmasi. AI dapat membantu mempercepat penelitian obat, menganalisis data, mendukung pelayanan kefarmasian, dan membantu mahasiswa dalam proses pembelajaran. Namun, AI bukanlah pengganti manusia. Bagi mahasiswa farmasi, tantangan ke depan bukan memilih antara menggunakan AI atau menolaknya. Tantangannya adalah bagaimana kita mampu menggunakan AI secara cerdas, kritis, dan bertanggung jawab.

Saya percaya, apoteker masa depan bukanlah apoteker yang melawan AI, tetapi apoteker yang mampu bekerja bersama AI tanpa kehilangan kemampuan berpikir kritis dan nilai kemanusiaan. Teknologi seharusnya membuat tenaga kefarmasian menjadi lebih baik, bukan membuat manusia kehilangan perannya. Pada akhirnya, AI hanyalah sebuah alat. Seberapa besar manfaatnya bagi dunia farmasi akan bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya. Jika digunakan dengan ilmu pengetahuan, etika, dan pengawasan yang tepat, AI dapat menjadi salah satu teknologi yang membantu membawa dunia farmasi menuju pelayanan yang lebih efektif, aman, dan berorientasi pada pasien.

Daftar Rujukan

World Health Organization. (2024). Benefits and risks of using artificial intelligence for pharmaceutical development and delivery. Geneva: WHO.

World Health Organization. (2024). Ethics and governance of artificial intelligence for health: Large multi-modal models. Geneva: WHO.

World Health Organization. (2021). Ethics and governance of artificial intelligence for health. Geneva: WHO.

Baca juga : AI dalam Pelayanan Kefarmasian: Teknologi Canggih, Tapi Manusia Tetap Utama

U.S. Food and Drug Administration. (2025). Guiding Principles of Good AI Practice in Drug Development. FDA.

Mullard, A. (2024). When can AI deliver the drug discovery hits? Nature Reviews Drug Discovery, 23, 159–161.

Hatzimanolis, J., Riley, B., El-Den, S., Aslani, P., Zhou, J., & Chaar, B. B. (2024). Applications of artificial intelligence in current pharmacy practice: A scoping review. Research in Social and Administrative Pharmacy.

Zhang, X., Tsang, C. C. S., Ford, D. D., & Wang, J. (2024). Student Pharmacists' Perceptions of Artificial Intelligence and Machine Learning in Pharmacy Practice and Pharmacy Education. American Journal of Pharmaceutical Education, 88(12), 101309.

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense