Dunia kerja saat ini menuntut seseorang untuk terus berkembang dan menunjukkan kemampuan terbaiknya. Bagi pekerja muda, tuntutan tersebut terkadang menjadi tekanan yang sulit dihindari. Keinginan untuk membangun karier, mendapatkan pengakuan, serta memenuhi standar kesuksesan dapat membuat seseorang bekerja terlalu keras tanpa memperhatikan kondisi dirinya. Jika berlangsung terus-menerus, keadaan ini dapat meningkatkan risiko burnout.
Burnout merupakan kondisi kelelahan secara fisik, mental, dan emosional yang muncul akibat tekanan atau stres berkepanjangan. Fenomena ini semakin banyak dibicarakan karena pekerja muda dianggap lebih rentan mengalaminya. Psikolog klinis Phoebe Ramadina menjelaskan bahwa pekerja muda sedang berada pada tahap membangun karier sehingga sering merasa harus terus membuktikan kemampuan diri. Tekanan tersebut dapat menjadi semakin berat ketika dibandingkan dengan pencapaian orang lain melalui media sosial.
Baca juga : Hubungan Kualitas Tidur dengan Tingkat Kelelahan pada Mahasiswa
Media sosial secara tidak langsung dapat membentuk anggapan bahwa seseorang harus selalu produktif agar dianggap berhasil. Unggahan tentang pekerjaan, pencapaian, maupun gaya hidup orang lain dapat membuat seseorang merasa tertinggal. Kondisi ini berkaitan dengan hustle culture, yaitu pola pikir yang mendorong seseorang untuk bekerja terus-menerus demi mencapai kesuksesan. Padahal, bekerja tanpa batas dan mengurangi waktu istirahat bukanlah jaminan bahwa seseorang akan menjadi lebih berhasil.
Burnout tidak hanya membuat tubuh terasa lelah. Kondisi ini juga dapat memengaruhi pikiran dan perasaan. Seseorang yang mengalami burnout dapat menjadi sulit berkonsentrasi, kehilangan motivasi, lebih mudah emosional, mengalami gangguan tidur, bahkan merasakan berbagai keluhan fisik. Jika dibiarkan, burnout dapat menurunkan kualitas hidup dan mengganggu hubungan seseorang dengan lingkungan di sekitarnya.
Baca juga : Kesadaran Hidup Sehat Dimulai dari Diri Sendiri
Masalah burnout juga tidak dapat dipandang hanya sebagai kelemahan pribadi. Lingkungan kerja memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan pekerja. Beban kerja yang berlebihan, komunikasi yang kurang baik, tuntutan untuk selalu tersedia, serta tidak adanya batas yang jelas antara waktu kerja dan waktu istirahat dapat menjadi faktor yang memperburuk tekanan psikologis.
Karena itu, menjaga kesehatan mental pekerja harus menjadi bagian dari upaya menciptakan tempat kerja yang sehat. Pekerja perlu belajar mengenali tanda-tanda kelelahan dan memberikan waktu yang cukup untuk beristirahat. Perusahaan juga perlu menciptakan lingkungan kerja yang menghargai keseimbangan antara produktivitas dan kesehatan.
Baca juga : Meningkatkan Kesadaran Masyarakat tentang Pentingnya Hidup Sehat
Burnout bukan sekadar rasa lelah setelah menyelesaikan pekerjaan. Kondisi ini merupakan peringatan bahwa tubuh dan pikiran membutuhkan perhatian. Kesuksesan dalam karier seharusnya tidak dicapai dengan mengorbankan kesehatan. Pekerja muda perlu memahami bahwa beristirahat bukan berarti malas dan mengambil jeda bukan berarti gagal. Dengan lingkungan kerja yang sehat serta kesadaran untuk menjaga keseimbangan hidup, ancaman burnout dapat dicegah sejak dini.
Artikel ini ditulis oleh Nur Asiah Lubis, Luthfiah Mawar, M.K.M., dan Dr. M. Agung Rahmadi, M.Si. Lalu diedit oleh Makayla Aisyah, Khayla Terre Fany, Najwa Chairun Naya, Nawar Wulan, Gita Zaskya Putri Tanjung, Nafisa Luthfi Azizah, Kayla Humairoh, dan Nur Intan dari IKM 10 Stambuk 2026, Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Sumatera Utara.
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.