Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Kita sering berbicara tentang rakyat yang lelah. Lelah menghadapi harga yang naik, layanan yang lambat, dan janji yang tak kunjung tiba. Namun ada kelelahan lain yang jarang dibicarakan: kelelahan kekuasaan. Bukan kelelahan fisik, melainkan kelelahan moral. Sebuah kondisi ketika institusi masih bekerja, tetapi kehilangan energi etis yang membuatnya hidup.
Gejalanya tidak selalu terlihat. Kantor tetap buka, rapat tetap berjalan, program tetap diluncurkan. Dari luar, semuanya tampak normal. Namun di dalam, semangat melayani mulai menipis. Yang tersisa adalah rutinitas. Kebijakan dibuat karena harus dibuat, laporan disusun karena harus disusun, dan keputusan diambil karena prosedur mengharuskannya.
Baca juga : Harga dari Pilihan
Kelelahan moral membuat birokrasi kehilangan sensitivitas. Masalah warga dipandang sebagai berkas, bukan pengalaman hidup. Keluhan dianggap pekerjaan tambahan, bukan sinyal yang perlu didengar. Dalam keadaan seperti ini, institusi tidak berhenti berfungsi, tetapi berhenti peduli. Dan ketika kepedulian memudar, kualitas pelayanan ikut menurun.
Politik juga dapat mengalami kelelahan yang sama. Terlalu lama berkutat dalam kalkulasi elektoral, manuver kekuasaan, dan pengelolaan citra membuat energi moral terkuras. Yang awalnya merupakan panggilan untuk melayani perlahan berubah menjadi upaya mempertahankan posisi. Idealisme digantikan pragmatisme, keberanian digantikan kehati-hatian yang berlebihan.
Baca juga : Kepemimpinan yang Teruji
Byung-Chul Han dalam The Burnout Society (2015) menjelaskan bahwa masyarakat modern tidak lagi terutama menderita karena tekanan dari luar, melainkan karena kelelahan internal yang terus menumpuk. Logika ini juga berlaku pada institusi. Negara bisa tetap kuat secara administratif, tetapi mengalami keletihan batin yang membuatnya kehilangan arah moral.
Kelelahan seperti ini berbahaya karena sulit dikenali. Tidak ada krisis besar, tidak ada kegagalan dramatis. Yang terjadi hanyalah penurunan perlahan dalam kualitas perhatian, empati, dan tanggung jawab. Publik mulai merasakan negara hadir secara formal, tetapi tidak lagi hadir secara manusiawi.
Baca juga : Memperbaiki atau Membela
Bukan hanya rakyat yang lelah. Institusi juga bisa kehilangan energi etisnya. Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar reformasi prosedur, tetapi pemulihan tujuan. Negara perlu mengingat kembali mengapa ia ada, dan untuk siapa ia bekerja. Sebab ketika kekuasaan kehilangan nuraninya, kelelahan bukan lagi masalah organisasi—ia berubah menjadi masalah bangsa.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.