BREAKING NEWS
 

Pentingnya Sarapan bagi Konsentrasi dan Aktivitas Sehari-hari

Writer : IKM10 UINSU ST'26 F
Editor : UJANG SUNDA
Minggu, 4 Oktober 2026 19:56 WIB
Ilustrasi menu sarapan sehat. (Gambar dibuat dengan AI)

Sarapan sering dianggap sebagai hal kecil yang bisa dilewatkan ketika seseorang terburu-buru berangkat sekolah, kuliah, atau bekerja. Padahal, sarapan merupakan kesempatan untuk mengisi kembali energi setelah tubuh tidak menerima makanan selama tidur malam. Pada pagi hari, seseorang membutuhkan tenaga untuk memulai berbagai kegiatan, termasuk berpikir, belajar, bergerak, dan berinteraksi. Karena itu, membiasakan sarapan dapat menjadi salah satu langkah sederhana untuk mendukung kesehatan dan kelancaran aktivitas sehari-hari.

Manfaat sarapan tidak hanya berkaitan dengan rasa kenyang. Asupan makanan pada pagi hari dapat membantu menyediakan energi dan zat gizi yang dibutuhkan tubuh. Ketika seseorang mengikuti pelajaran atau menyelesaikan pekerjaan, perhatian dan daya ingat menjadi bagian penting dari aktivitas tersebut.

Tinjauan sistematis yang ditulis Adolphus dan rekan-rekannya pada 2016 menemukan bahwa sarapan, dibandingkan tidak makan, memberikan manfaat jangka pendek pada beberapa aspek kognitif anak dan remaja. Pengaruh yang lebih konsisten terlihat pada tugas yang melibatkan perhatian, fungsi eksekutif, dan memori. Namun, hasil penelitian tidak berarti bahwa sarapan otomatis membuat setiap orang memperoleh nilai tinggi atau selalu berkonsentrasi penuh. Kinerja juga dipengaruhi tidur, kondisi kesehatan, suasana belajar, serta faktor lainnya.

Baca juga : Anemia pada Remaja Putri: Masalah Kesehatan ya Perlu Diwaspadai

Meski demikian, kebiasaan melewatkan sarapan masih dapat terjadi, terutama ketika jadwal pagi padat, seseorang bangun terlambat, atau belum terbiasa makan setelah bangun tidur. Ada pula yang menganggap minuman saja sudah cukup, tanpa memperhatikan kebutuhan gizi. Jika kebiasaan ini membuat asupan harian tidak terpenuhi, tubuh bisa kekurangan energi dan seseorang mungkin merasa lapar atau kurang nyaman saat beraktivitas. Respons setiap orang berbeda, sehingga penting untuk mengenali kebutuhan tubuh sendiri dan tidak memaksakan porsi besar ketika belum terbiasa.

Adsense

Sarapan yang baik tidak harus mahal atau rumit. Pilih makanan yang mudah dijangkau dan beragam, misalnya nasi atau roti sebagai sumber karbohidrat, telur atau tempe sebagai sumber protein, serta buah atau sayuran. Air putih juga dapat melengkapi kebutuhan cairan. Kombinasi tersebut merupakan contoh, bukan aturan menu tunggal yang wajib diikuti setiap orang. Pilihan makanan dapat disesuaikan dengan selera, ketersediaan, budaya, kebutuhan gizi, dan kondisi kesehatan. Menyiapkan bahan sejak malam hari atau membawa bekal sederhana dapat membantu orang yang memiliki waktu pagi terbatas.

Peran keluarga, sekolah, kampus, dan lingkungan juga penting dalam membangun kebiasaan sarapan. Keluarga dapat menyediakan pilihan yang praktis, sementara sekolah dan kampus bisa mendukung edukasi gizi serta memberi ruang bagi peserta didik untuk makan dengan nyaman. Edukasi sebaiknya tidak berhenti pada pesan “jangan lupa sarapan”, tetapi juga menjelaskan pentingnya variasi makanan, kebersihan pangan, dan kebiasaan makan yang sesuai kebutuhan. Bagi masyarakat yang menghadapi keterbatasan akses pangan, upaya meningkatkan pengetahuan perlu disertai dukungan nyata agar makanan bergizi lebih mudah diperoleh.

Baca juga : Jangan Asal Minum, Kapan Tubuh Membutuhkan Minuman Isotonik?

Sarapan bukan jaminan tunggal untuk keberhasilan belajar maupun produktivitas. Namun, menjadikannya bagian dari pola makan yang seimbang dapat membantu tubuh memulai hari dengan asupan yang dibutuhkan. Mulailah dari pilihan sederhana yang realistis dan lakukan secara konsisten sesuai kondisi masing-masing. Dengan perhatian terhadap sarapan, tidur cukup, aktivitas fisik, dan kebiasaan sehat lainnya, kita dapat mendukung konsentrasi serta menjalani kegiatan sehari-hari dengan lebih nyaman.

Dari sudut pandang kesehatan masyarakat, kebiasaan sarapan juga dapat dipahami sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif. Membantu masyarakat membangun pola makan teratur sejak usia sekolah berpotensi mendukung pemenuhan gizi dan kebiasaan sehat hingga dewasa. Meski begitu, pesan kesehatan perlu disampaikan secara bijak.

Orang yang tidak sempat sarapan bukan berarti tidak peduli terhadap kesehatannya; kendala waktu, ekonomi, selera, dan kondisi tubuh dapat berperan. Pendekatan yang tidak menghakimi serta solusi yang sesuai keadaan akan lebih bermanfaat daripada sekadar menyalahkan kebiasaan individu. Karena itu, kebijakan dan anjuran sarapan sebaiknya mempertimbangkan keadaan nyata masyarakat, bukan hanya menyampaikan pesan umum tanpa menyediakan pilihan yang terjangkau dan mudah dilakukan.

Baca juga : Menjaga Kebersihan Diri untuk Mencegah Penyakit

Artikel ini ditulis oleh Nabila Cahyani, Luthfiah Mawar, M.K.M., dan Dr. M. Agung Rahmadi, M.Si. Lalu diedit oleh Makayla Aisyah, Khayla Terre Fany, Najwa Chairun Naya, Nawar Wulan, Gita Zaskya Putri Tanjung, Nafisa Luthfi Azizah, Kayla Humairoh, dan Nur Intan dari IKM 10 Stambuk 2026, Fakultas Kesehatan Masyarakat, UIN Sumatera Utara.

Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense