BREAKING NEWS
 

Era Digital dan Kesehatan Otak Remaja: Menelaah Dampak Konsumsi Short Video

Writer : IKM10 UINSU Stambuk 2026 d
Editor : UJANG SUNDA
Jumat, 9 Oktober 2026 16:31 WIB
Ilustrasi kecanduan nonton short vidio. (Gambar: Istimewa)

Banyak orang yang awalnya hanya iseng menonton satu video pendek, tetapi tanpa sadar menghabiskan waktu hampir satu jam. Kebiasaan seperti ini semakin umum di kalangan remaja. Dengan hanya menggeser layar, satu video akan berganti dengan video lainnya dalam hitungan detik.

Short video memang menawarkan banyak hal. Ada hiburan, informasi, tips kesehatan, hingga konten edukasi. Namun, kebiasaan menonton video pendek secara terus-menerus mulai mendapat perhatian karena berkaitan dengan cara manusia menggunakan perhatian dan waktunya, terutama pada remaja yang otaknya masih berkembang.

Masa remaja merupakan salah satu tahap penting dalam perkembangan manusia. Pada masa ini, kemampuan berpikir, mengambil keputusan, mengendalikan diri, dan mengatur perilaku masih terus berkembang. National Institute of Mental Health (NIMH) menjelaskan bahwa bagian otak yang disebut prefrontal cortex, yang berperan dalam perencanaan dan pengambilan keputusan, termasuk bagian yang berkembang hingga dewasa muda.

Lalu, apa hubungannya dengan short video? Salah satu hal yang membuat video pendek menarik adalah sistem rekomendasi. Setelah kita menonton beberapa video, aplikasi dapat menampilkan konten yang dianggap sesuai dengan minat kita. Akibatnya, pengguna tidak perlu mencari video berikutnya karena video tersebut sudah tersedia hanya dengan satu kali scroll.

Baca juga : Lingkungan Sehat, Generasi Kuat

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal NeuroImage pada 2021 melihat bagaimana otak merespons video TikTok yang dipersonalisasi. Penelitian tersebut menemukan adanya aktivitas pada beberapa bagian otak ketika peserta melihat video yang sesuai dengan preferensi mereka. Namun, penelitian ini dilakukan pada orang dewasa muda, sehingga hasilnya tidak dapat langsung dianggap berlaku untuk semua remaja.

Penelitian yang lebih baru memberikan gambaran yang lebih luas. Tinjauan terhadap 71 penelitian dengan hampir 100.000 partisipan yang diterbitkan dalam Psychological Bulletin pada 2025 menemukan hubungan antara penggunaan short video yang lebih tinggi dengan kemampuan perhatian dan pengendalian diri yang lebih rendah. Meski begitu, penelitian tersebut belum membuktikan bahwa short video secara langsung menyebabkan penurunan kemampuan tersebut.

Masalahnya juga bukan hanya soal otak. Kebiasaan menggunakan media sosial secara berlebihan dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari. WHO melaporkan bahwa penggunaan media sosial yang bermasalah pada remaja berkaitan dengan waktu tidur yang lebih sedikit dan waktu tidur yang lebih larut.

Padahal, tidur sangat penting bagi remaja. Waktu tidur yang cukup membantu tubuh dan otak beristirahat sehingga seseorang dapat belajar, berkonsentrasi, dan menjalani aktivitas dengan lebih baik. Jika waktu tidur terus berkurang karena terlalu lama menonton video, kegiatan sekolah dan kehidupan sehari-hari juga dapat ikut terganggu.

Baca juga : Pola Makan Sehat untuk Tubuh Sehat

Namun, bukan berarti short video selalu memberikan dampak buruk. Video pendek juga dapat menjadi media untuk belajar, mendapatkan informasi kesehatan, mengembangkan kreativitas, dan berkomunikasi. Banyak konten edukasi yang justru membuat informasi menjadi lebih mudah dipahami oleh anak muda.

Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan sekadar penggunaan short video, tetapi bagaimana dan seberapa lama seseorang menggunakannya. Remaja perlu membagi waktu antara penggunaan gawai dengan tidur, belajar, olahraga, hobi, serta berinteraksi langsung dengan orang lain.

Teknologi bukan sesuatu yang harus dijauhi. Yang lebih penting adalah kemampuan untuk menggunakannya secara bijak. Short video dapat menjadi hiburan dan sumber informasi, tetapi jangan sampai kebiasaan scroll membuat kita kehilangan waktu untuk tidur, belajar, bergerak, dan menjalani kehidupan di dunia nyata.

Artikel ini ditulis oleh Nawar Wulan, Luthfiah Mawar, M.K.M., dan Dr. M. Agung Rahmadi, M.Si. Lalu diedit oleh Makayla Aisyah, Khayla Terre Fany, Najwa Chairun Naya, Nawar Wulan, Gita Zaskya Putri Tanjung, Nafisa Luthfi Azizah, Kayla Humairoh, dan Nur Intan dari IKM 10 Stambuk 2026, Fakultas Kesehatan Masyarakat, UIN Sumatera Utara.

Baca juga : Media Ujaran Kebencian


Powered by Froala Editor

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense