Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Final FIFA ASEAN Cup 2026 di GBK, Dishub DKI Siapkan Rekayasa Lalu Lintas
- Hasil Investigasi Imipas: 13 Bangunan Lapas Cibinong Dibangun Napi Sejak 2023
- Kalapas Cibinong Wisnu Hani Putranto Dipecat sebagai ASN, Apa Dasar Hukumnya?
- Wisnu Hani Putranto Dipecat Sebagai ASN, Buntut Fasilitas Mewah Lapas Cibinong
- Polisi Kawal Ketat Final Indonesia Vs Thailand di GBK, Kerahkan 10.121 Personel
Ketika membicarakan kesehatan, banyak orang masih lebih sering memikirkan kondisi fisik. Demam, batuk, sakit kepala, atau penyakit lainnya dianggap sebagai masalah kesehatan yang perlu diperhatikan. Namun, ada bagian lain yang tidak kalah penting, yaitu kesehatan mental. Kondisi pikiran dan perasaan seseorang juga dapat memengaruhi bagaimana ia menjalani kehidupan sehari-hari.
Remaja dan mahasiswa termasuk kelompok yang menghadapi berbagai perubahan dalam kehidupannya. Tuntutan belajar, tugas yang menumpuk, masalah pertemanan, keluarga, hingga kekhawatiran mengenai masa depan dapat menjadi sumber tekanan. Hal tersebut merupakan bagian dari kehidupan, tetapi jika tekanan terus berlangsung dan tidak dikelola dengan baik, seseorang dapat merasa lelah secara emosional.
Sayangnya, masalah kesehatan mental masih sering dianggap sepele. Seseorang yang terlihat ceria belum tentu sedang baik-baik saja. Begitu juga dengan seseorang yang memilih diam ketika menghadapi masalah. Tidak semua orang mudah menceritakan apa yang sedang dirasakan. Ada yang takut dianggap lemah, berlebihan, atau justru tidak akan dipahami oleh orang lain.
Baca juga : Dampak Paparan Sinar UV dan Panas Terik bagi Kesehatan Tubuh
Padahal, membicarakan perasaan bukan berarti seseorang tidak kuat. Setiap orang memiliki batas kemampuan yang berbeda dalam menghadapi tekanan. Karena itu, lingkungan yang mau mendengarkan dan tidak terburu-buru menghakimi sangat diperlukan. Dukungan sederhana dari teman, keluarga, maupun orang-orang terdekat dapat membuat seseorang merasa tidak menghadapi masalah sendirian.
Di lingkungan pendidikan, perhatian terhadap kesehatan mental juga penting. Mahasiswa tidak hanya membutuhkan fasilitas untuk menunjang kegiatan akademik, tetapi juga lingkungan belajar yang nyaman. Beban tugas dan tuntutan akademik memang menjadi bagian dari proses perkuliahan, tetapi mahasiswa juga perlu memiliki waktu untuk beristirahat dan melakukan kegiatan yang disukai.
Dari sudut pandang kesehatan masyarakat, menjaga kesehatan mental tidak hanya dilakukan ketika seseorang sudah mengalami masalah. Upaya pencegahan dan promosi kesehatan juga perlu dilakukan. Edukasi mengenai kesehatan mental dapat membantu masyarakat mengenali tanda-tanda ketika seseorang membutuhkan dukungan. Informasi yang benar juga dapat mengurangi anggapan negatif terhadap orang yang sedang mengalami masalah psikologis.
Baca juga : Peran Keluarga dalam Kesehatan Ibu dan Anak
Kebiasaan sehari-hari juga dapat membantu menjaga keseimbangan diri. Istirahat yang cukup, melakukan aktivitas fisik, menjaga hubungan dengan orang lain, serta memberikan waktu untuk diri sendiri merupakan beberapa hal yang dapat dilakukan. Namun, setiap orang memiliki kondisi yang berbeda sehingga cara menghadapi tekanan juga tidak selalu sama.
Selain menjaga diri sendiri, masyarakat juga perlu belajar menjadi tempat yang aman bagi orang lain. Mendengarkan tanpa langsung menghakimi, tidak menjadikan masalah seseorang sebagai bahan candaan, dan memberikan dukungan ketika dibutuhkan merupakan tindakan sederhana yang dapat dilakukan siapa saja.
Kesehatan mental bukan sesuatu yang hanya perlu diperhatikan ketika seseorang sedang menghadapi masalah berat. Menjaga pikiran dan perasaan merupakan bagian dari menjaga kesehatan secara keseluruhan. Sama seperti tubuh yang membutuhkan istirahat dan perhatian, pikiran juga membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak dari berbagai tuntutan.
Baca juga : Mengupas Strategi Pengelolaan Sampah di Permukiman Padat
Menjaga kesehatan bukan hanya tentang bagaimana tubuh tetap kuat dan terhindar dari penyakit. Kesehatan juga mencakup kondisi mental dan kemampuan seseorang menjalani kehidupan dengan baik. Dengan meningkatkan kepedulian dan mengurangi stigma, diharapkan masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang lebih terbuka dan mendukung bagi siapa pun yang membutuhkan bantuan.
Artikel ini ditulis oleh Nafisa Luthfi Azizah, Luthfiah Mawar, M.K.M., dan Dr. M. Agung Rahmadi, M.Si. Lalu diedit oleh Makayla Aisyah, Khayla Terre Fany, Najwa Chairun Naya, Nawar Wulan, Gita Zaskya Putri Tanjung, Nafisa Luthfi Azizah, Kayla Humairoh, dan Nur Intan dari IKM 10 Stambuk 2026, Fakultas Kesehatan Masyarakat, UIN Sumatera Utara.
IKM10 UINSU ST'26 F
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Sumatera Utara.
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat UIN Sumatera Utara.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya