BREAKING NEWS
 

UKRIDA Hadir di Sekolah Dorong Remaja Lebih Peduli pada Kesehatan Mental

Reporter & Editor :
SRI NURGANINGSIH
Rabu, 14 Oktober 2026 13:56 WIB
UKRIDA Digital Youth Mind Future Program 2026. (Foto: Dok. UKRIDA)

RM.id  Rakyat Merdeka - Tidak semua masalah kesehatan mental pada remaja mudah dikenali. Banyak siswa tetap menjalani aktivitas sekolah seperti biasa, mengikuti pelajaran, berinteraksi dengan teman, bahkan tetap berprestasi, meski pada saat yang sama menghadapi tekanan akademik, kecemasan, stres, atau kebingungan mengenai masa depan.

Persoalan menjadi lebih kompleks ketika remaja sendiri belum memahami apa yang sedang mereka rasakan.

Rasa lelah berkepanjangan, sulit berkonsentrasi, mudah cemas, kehilangan semangat, atau merasa kewalahan sering kali dianggap sebagai sesuatu yang biasa.

Padahal, kemampuan mengenali kondisi psikologis sejak dini merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan mental.

Hal disampaikan Dosen Program Studi Keperawatan Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA) Santa Maria Pangaribuan, S.Kep., Ners., M.Sc., Ph.D.

Maria mengatakan, kondisi inilah yang mendorong UKRIDA untuk mengambil peran lebih aktif.

Kampus tidak hanya menjadi tempat pendidikan berlangsung, tetapi juga dapat membawa pengetahuan, sumber daya, teknologi, serta tenaga profesional yang dimilikinya lebih dekat kepada masyarakat, termasuk kepada remaja yang masih berada di bangku sekolah.

 

Foto: Dok. UKRIDA

Menurutnya, melalui UKRIDA Digital Youth Mind & Future Program 2026, UKRIDA hadir langsung di lingkungan sekolah untuk membuka ruang edukasi dan meningkatkan kepedulian remaja terhadap kesehatan mental.

"Program ini mengintegrasikan edukasi kesehatan mental, pemanfaatan platform digital, eksplorasi minat, pendampingan profesional, serta persiapan menghadapi masa depan," ujar Maria dalam keterangannya, Rabu (14/10/2026).

Maria menambahkan, pendekatan tersebut berangkat dari pemahaman bahwa kesehatan mental remaja tidak dapat dilepaskan dari tekanan akademik, kekhawatiran terhadap masa depan, maupun kebingungan dalam menentukan arah pendidikan dan karier.

Baca juga : Pentingnya Dukungan Sosial bagi Kesehatan Mental Remaja

Kehadiran UKRIDA telah menjangkau 327 siswa sekolah menengah di empat sekolah di Tangerang Selatan. Namun, kehadiran tersebut bukan sekadar tentang berapa banyak siswa yang dapat dijangkau.

Hal yang lebih penting adalah bagaimana kampus dapat membantu membuka percakapan tentang kesehatan mental di ruang yang dekat dengan kehidupan remaja sehari-hari.

Melalui interaksi langsung di sekolah, UKRIDA ingin mendorong siswa untuk lebih peka terhadap perubahan dalam dirinya.

"Remaja perlu mengetahui bahwa kesehatan mental tidak hanya menjadi perhatian ketika seseorang telah mengalami kondisi yang berat," ujar Maria.

Mengenali rasa tertekan, kecemasan, perubahan emosi, atau perasaan kewalahan sejak dini juga merupakan bagian dari menjaga kesehatan. Kepedulian semacam ini penting karena seorang remaja tidak selalu dapat mengatakan dengan mudah bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.

Karena itu, peran kampus tidak berhenti pada menyampaikan informasi. UKRIDA berupaya menghadirkan pendekatan yang membantu siswa mengenali, memahami, dan merespons kondisi dirinya dengan lebih sehat.

Dalam kegiatan di sekolah, siswa mendapatkan edukasi mengenai stres akademik, keseimbangan emosi, resiliensi, pentingnya kesehatan mental, serta cara-cara sederhana seperti relaksasi dan mindfulness yang dapat membantu menghadapi tekanan belajar.

Pesan yang ingin dibangun sederhana tetapi penting: merasa tertekan bukan berarti lemah, mengalami kecemasan bukan sesuatu yang perlu disembunyikan, dan mencari pertolongan bukanlah sebuah kegagalan.

Menurutnya, UKRIDA juga memanfaatkan teknologi sebagai salah satu cara mendekatkan edukasi dengan keseharian generasi muda.

Telepon pintar yang selama ini sangat lekat dengan media sosial dan hiburan juga dapat menjadi pintu masuk untuk memperoleh informasi yang bermanfaat, melakukan refleksi diri, dan meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan mental.

Adsense

Pemanfaatan teknologi menjadi relevan karena komunikasi mengenai kesehatan mental kepada remaja membutuhkan pendekatan yang dekat dengan dunia mereka.

Baca juga : Bukan Hanya Tubuh, Pikiran Juga Perlu Dijaga

"Teknologi bukan untuk menggantikan interaksi manusia atau bantuan profesional, melainkan menjadi jembatan agar informasi dan edukasi kesehatan dapat lebih mudah dijangkau," ujarnya.

Di sinilah perguruan tinggi memiliki peluang besar. Kampus bukan hanya tempat ilmu pengetahuan diproduksi dan diajarkan, tetapi juga tempat pengetahuan tersebut dapat diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat.

Melalui keterlibatan dosen, mahasiswa, dan tenaga profesional, UKRIDA mencoba membawa keilmuan yang ada di lingkungan perguruan tinggi keluar dari ruang kelas dan hadir langsung di tengah kebutuhan remaja.

Kesehatan mental remaja juga berkaitan erat dengan cara mereka memandang masa depan.

Pada usia sekolah menengah, berbagai pertanyaan mulai muncul: setelah lulus akan ke mana, bidang apa yang sebenarnya diminati, jurusan apa yang sesuai, dan apakah mereka mampu menghadapi kehidupan setelah sekolah.

Bagi sebagian remaja, ketidakpastian mengenai masa depan dapat menjadi tekanan tersendiri. Karena itu, perhatian kepada kesehatan mental juga perlu diiringi dengan kesempatan bagi mereka untuk semakin memahami dirinya.

Lebih lanjut Maria mengatakan, dalam program ini, UKRIDA mengajak siswa melakukan eksplorasi minat melalui asesmen karier digital.

Tujuannya bukan untuk menentukan masa depan siswa melalui sebuah hasil tes, melainkan membantu mereka memahami kecenderungan minat dan membuka lebih banyak kemungkinan mengenai bidang pendidikan maupun pekerjaan yang dapat dieksplorasi.

Remaja perlu memahami bahwa hasil suatu asesmen bukanlah label yang menentukan siapa dirinya. Setiap siswa tetap memiliki ruang untuk berkembang, mencoba, berubah, dan menentukan pilihan sesuai perjalanan hidupnya.

"Karena itu, perhatian terhadap remaja tidak cukup hanya berfokus pada nilai akademik, prestasi, atau kesiapan memilih jurusan," ujarnya.

Kampus memiliki tenaga akademik, tenaga kesehatan, mahasiswa, jejaring profesional, teknologi, serta kapasitas pengabdian kepada masyarakat.

Baca juga : Dampak Stres terhadap Kesehatan Fisik dan Mental

Seluruh sumber daya tersebut dapat digerakkan untuk menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat. UKRIDA melalui Hibah U-Care 2026 memilih untuk hadir lebih awal.

Tidak menunggu remaja menjadi mahasiswa, dan tidak menunggu persoalan kesehatan mental berkembang menjadi lebih berat.

"Kehadiran di sekolah menjadi bentuk nyata bahwa perguruan tinggi dapat membangun jembatan antara ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat.

Oleh: Santa Maria Pangaribuan, S.Kep, Ners, M.Sc., Ph.D.

Dosen Program Studi Keperawatan Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA) 

Tim Hibah U-Care 2026 :

1. Dr. dr. Wani Devita Gunardi, Sp.MK(K)

2. dr. Reni Oktavina, M.Biomed

3. Desi Silaen, S.KM, M.Kes

4. Ns. Mey Lona Verawaty Zendrato, M.Kep

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense