Sebelumnya
Di sisi lingkungan hidup, Pertamina berkomitmen mewujudkan keberlanjutan kehidupan flora dan fauna langka. Pertamina berhasil melestarikan 87 spesies hewan endemi, konservasi 52 jenis tumbuhan endemik dan konservasi berbagai jenis mangrove di 28 wilayah operasi Pertamina.
Kini, Pertamina mengimplementasikan persyaratan dari beberapa standard yang berlaku di dunia seperti International Organization for Standardization (ISO) ISO 14001:2015 terkait Environmental Management, ISO 45001:2018, ISO 50001:2018 terkait Social Responsibility, ISO 37001:2016 mengenai Energy Management, ISO 27001:2013 Anti Bribery Management System, ISO 27001:2013 Information Security Management Systems, dan ISO 26000:2010 Social Responsibility.
Go Green
Baca juga : Pandemi Terkendali, Saatnya Pemerintah Penuhi Rencana Dan Janji
Go Green merupakan komitmen Pertamina menjalankan program strategis transisi energi untuk mewujudkan energi ramah lingkungan berbasis EBT. Untuk mencapai target besar tersebut, Pertamina telah 8 inisiatif EBT.
Pertama, meningkatkan kapasitas pembangkit geothermal dari 672 MW pada 2020 menjadi 1.128 MW pada 2026. Kedua, memulai inisiatif pemanfaatan green hydrogen di Indonesia yang akan menggunakan listrik dari lapangan panas bumi Pertamina dengan total potensi 8.600 kilogram hidrogen per hari. Ketiga, berpartisipasi dalam JV Indonesian battery company dengan memproduksi baterai 140 GWh pada 2029 dan mengembangkan ekosistem baterai EV termasuk swapping dan charging business. Pertamina juga telah melakuan pilot project pembangunan 6 Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum di 6 wilayah di DKI Jakarta dan Tangerang. Keempat, meningkatkan kapasitas terpasang pembangkit EBT dari 1,9 MW di tahun 2021 menjadi 10 Gigawatt (GW) di tahun 2026. Kelima, melakukan gasification 1.000 kilo tonnes per annum (KTPA) melalui pembangunan pabrik metanol yang rencana on stream pada 2025 serta pengembangan DME dengan kapasitas 5.200 KTPA. Keenam, membangun green refinery atau kilang ramah lingkungan yang menghasilkan produk-produk energi hijau berbasis kelapa sawit. Kapasitas produksi Green Diesel D100 ditingkatkan menjadi 3.000 barel per hari di tahun 2022 dan 26.000 barel di tahun 2024. Ketujuh, pengembangan bioenergy hingga tahun 2026 terdiri dari biomassa atau biogas sebesar 153 MW, bio blending gasoil & gasoline, dan minyak mentah nabati dari alga dan etanol 1.000 KTPA dengan target on stream pada 2025. Kedelapan, menerapkan circular carbon economy di beberapa daerah di antaranya dengan melakukan recycle untuk biomass dan biogas, reduce lewat solar PV, EV, LNG bunkering, serta reuse melalui CO2 untuk EOR dan methanol yang telah berhasil menurunkan emisi karbon 6 juta ton pada tahun 2020.
Sejak pertengahan 2020, Pertamina juga menjalankan Program Langit Biru (PLB) yang berhasil menurunkan emisi karbon 12 juta ton. Sementara untuk sektor rumah tangga, pada tahun 2021 Pertamina berhasil menyelesaikan 107 ribu sambungan gas rumah tangga di 21 kabupaten/kota. Saat ini pelanggan gas rumah tangga mencapai 590 ribu pelanggan yang tersebar di 67 kabupaten/kota di 17 provinsi.
Baca juga : Kakang, Jebolan Akademi Persib Pertama Yang Gabung Persib Senior
Go Collaborative
Go Collaborative merupakan upaya dan komitmen Pertamina untuk terus berinovasi dan berkolaborasi sebagai lokomotif perekonomian dan industri nasional.
Kolaborasi penyediaan energi dilakukan Pertamina dengan berbagai perusahaan migas global seperti ExxonMobil untuk Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS). Pertamina juga menjalin kerja sama dengan Masdar dan ACWA untuk pengembangan renewable energy power plant di wilayah kerja Hulu dan Kilang.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.