Sebelumnya
“Besarannya berapa, belum tahu. Masih dihitung dulu, belum tahu berapa kerugiannya. Yang jelas, Pertamina akan bertanggung jawab,” kata Arya di Bandung, Senin (6/3) malam.
Ia mencontohkan, Pertamina akan menanggung biaya santunan seperti biaya pemakaman, kerohiman, biaya perawatan rumah sakit dan bantuan logistik, khususnya rumah warga yang terkena dampak kebakaran.
“Kami lagi hitung (berapa rumah terdampak). Nanti disiapkan hunian. Lokasinya di mana? Masih dibahas,” akunya.
Menanggapi ini, Pengamat Ekonmomi Energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi mengatakan, akibat insiden kebakaran tersebut, ada dua solusi. Yaitu, merelokasi depo atau memindahkan pemukiman warga. Diharapkannya, keputusan tersebut harus diambil secara tepat dan cepat.
Baca juga : Hendra Hemeto Wajib Sering-sering Turba Ya
“Opsi pemindahan Depo Pertamina Plumpang, bisa menjadi opsi yang tepat dengan beberapa alasan,” kata Fahmy kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Menurutnya, bila Pemerintah mengambil opsi tersebut, maka direksi Pertamina bisa cepat mengambil keputusan. Berbeda bila opsi yang diambil, merelokasi kawasan penduduk.
“Untuk mengambil keputusan ini akan lebih lama, karena melibatkan beberapa pihak. Yaitu Pertamina, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan warga,” jelasnya.
Dia menilai, lokasi Depo Pertamina Plumpang sudah tidak layak lantaran berada di tengah kawasan padat penduduk.
Baca juga : Erick: Saya Kawal Pelayanan Bagi Seluruh Korban Dan Keluarga
“Apalagi tidak tersedia buffer water cukup, yang dibutuhkan untuk proses pendinginan pipa. Jadi, saat pipa terbakar bisa berimbas pada rumah penduduk di sekitarnya,” sambungnya.
Direktur Eksekutif CERI, Yusri Usman menilai, ongkos merelokasi depo BBM tidak murah. Diperkirakannya, akan memakan biaya sekitar 300 juta dolar Amerika Serikat (AS), atau setara Rp 4,6 triliun.
“Ini perkiraan biaya yang dibutuhkan untuk membangun fasilitas lengkap depo TBBM,” kata Yusri melalui pesan singkat kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Meski demikian, apapun keputusan Pemerintah, diharapkan kejadian serupa tidak terulang lagi.
Baca juga : Depo Plumpang Kebakaran, Dirut Pertamina Minta Maaf
Sebab, imbuh Yusri, paling cepat akhir tahun 2026 lahan Pelindo baru bisa digunakan Pertamina Patra Niaga. Maka dikhawatirkan masih ada masyarakat yang memilih kembali tinggal di lokasi yang berdekatan dengan depo.
“Ini yang harus dijaga, jangan sampai kembali timbul korban jika fasilitas depo mengalami kebakaran lagi,” tandasnya. ■
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.