RM.id Rakyat Merdeka - Banyak diaspora yang berprestasi di negeri orang. Keberhasilan mereka berjuang dan membangun karir di luar negeri patut menjadi pelajaran bagi generasi muda Indonesia. Salah satunya, Thomas Kesuma.
Thomas merupakan salah satu Warga Negara Indonesia (WNI) perantau yang sukses di Negeri Sakura, Jepang. Thomas saat ini bekerja di sebuah perusahaan ternama di Jepang, Seven Global Remit, Ltd. yang juga merupakan salah satu group bank terkemuka Jepang, Seven Bank.
Ada pun Seven Global Remit ini merupakan perusahaan penyedia jasa konsultasi dan penerjemahan Bahasa Jepang, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia.
"Saat ini, saya ditugaskan sebagai staff marketing dan penerjemah di perusahaan (Seven Global Remit, Ltd.) yang menyediakan jasa pengiriman uang bernama Sendy," ungkap Thomas, dalam keterangannya, Selasa (25/7).
Baca juga : Ini Kain Khas Muba Yang Dikenakan Wapres Di Acara Apkasi
Pria asal Medan ini mengatakan, telah membantu cukup banyak WNI di Jepang yang hendak mengirimkan uang ke Indonesia dengan layanan aplikasi pengiriman uang, Sendy ini. Sebab sejatinya, aplikasi Sendy memang didesain untuk membantu orang-orang Indonesia, terutama pemagang Indonesia yang bekerja di Jepang, agar dapat mengirim uang atau gaji mereka secara langsung ke rekening bank di Indonesia. Cukup dengan satu smartphone yang dapat mengunduh aplikasi Sendy.
Dia pun memastikan biaya pengiriman uang, nilai kurs dan fitur-fitur Sendy ini, tidak kalah bersaing dengan perusahaan penyedia layanan pengiriman uang lainnya.
"Tanggung jawab utama saya adalah mencari pelanggan baru, menjelaskan tentang fitur layanan, dan juga menangani pertanyaan ataupun masalah yang dihadapi oleh pengguna aplikasi pengiriman uang Sendy," jelasnya.
Thomas lalu bercerita perjalanan hidupnya hingga akhirnya bekerja di perusahaan ternama Jepang ini. Thomas mengaku sejak berusia 12 tahun, memang sudah didorong untuk belajar mandiri dan memulai hidup jauh dari tanah kelahirannya, Rantau Prapat, ibu kota Labuhanbatu, Sumatera Utara (Sumut).
Baca juga : Happy Salma, Survei Hantu Di Berbagai Daerah
Dia terpaksa hijrah ke Medan, hanya untuk dapat dapat melanjutkan pendidikan SMP hingga SMA di Sutomo 1 Medan. Lulus dari bangku SMA, Thomas mendapatkan kesempatan untuk berkuliah di negeri tetangga, Singapura. Dia mengambil jurusan finansial dan akuntansi.
"Tujuan utama kuliah di Singapura adalah untuk mengenal budaya asing dan memperlancar bahasa Inggris," jelasnya.
Belajar di Negeri Singa ini, dia menemukan bahwa bahasa asing merupakan kunci utama sukses dan hidup di luar negeri. Makanya, usai mengenyam pendidikan dari Singapura, dia memutuskan untuk kembali kuliah di Jepang.
Hidup di sana, dirinya menemukan bahwa penguasaan bahasa Inggris ternyata tidak cukup untuk modal belajar disana. Sebab, ternyata, dari 10 orang Jepang yang dia temui, hanya satu yang bersedia untuk berkomunikasi dalam Bahasa Inggris.
Baca juga : HUT Ke-51, Petrokimia Gresik Capai Kinerja Terbaik Sepanjang Sejarah
Karena itu, Thomas mantap untuk lebih dulu mengambil sekolah Bahasa Jepang. Pria yang pernah bekerja sebagai penerjemah, pemandu wisata dan berbisnis jastip ini mengaku, di awal hidupnya di Negeri Sakura ini, pekerjaan pertama yang ditekuninya adalah tukang masak.
"Itu karena saya belum terlalu menguasai Bahasa Jepang, makanya saya bekerja paruh waktu sebagai tukang masak dan pembersih dapur di restoran Jepang. Itu pun karena pekerjaan ini memang tidak menuntut penguasaan bahasa Jepang yang fasih," tuturnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.