Sebelumnya
Menurut Boedi, Indonesia mempunyai banyak pembangkit, mulai dari kapasitas yang kecil 10 MW, bahkan ada yang 3-5 MW dengan teknologi lama dan belum menggunakan penangkapan sulfur.
“Pembangkit-pembangkit berkapasitas 400 MW belum memakai teknologi penangkapan sulfur. Biasanya pembangkit-pembangkit berkapasitas 600-1000 MW sudah memakai teknologi baru,” katanya.
Baca juga : Swasembada Pangan Bakal Kembali Diraih
Menurut Boedi, saat ini rata-rata emisi sulfur sekitar 0,5-0,8 ekuivalen untuk PLTU berkapasitas 400 MW, sementara PLTU kecil berkapasitas di bawah 100 MW efisiensi thermal-nya sekitar 30.
“Kalau yang 400-600 MW sekitar 37-38 dan yang 1.000 MW bisa sampai 47. Semakin besar semakin efisien dan tingkat polusi semakin rendah,” ungkap Boedi.
Baca juga : Bebas Denda Pajak Kendaraan Bermotor Di Banten Berlaku Sampai 23 Desember
Dia menambahkan emisi dari pembangkit lama dengan kapasitas 400 MW ke bawah yang perlu diatasi emisi-nya. Dan itu sebenarnya bisa diatas dengan penerapan teknologi yang tepat.
Apalagi jika merujuk pada kasus di China sudah sampai 100, bahkan kandungan sulfurnya lebih rendah lagi. Bahkan di Amerika Serikat masih berada di angka 150.
Baca juga : Kiai Dan Ajengan Se-Tangerang Raya Dukung Ganjar-Mahfud
“Untuk mengontrol C02 ada beberapa cara. Saya sampaikan 3 cara, dari 4 cara yang sumber dan aturan bagus,” kata Boedi.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.