Sebelumnya
Sebagai contoh, proyek smelter tembaga terbesar di dunia milik PT Freeport Indonesia di Gresik, Jawa Timur resmi beroperasi mulai 27 Juni 2024.
Bukti nyata lainnya, produksi massal baterai kendaraan listrik pertama di Indonesia akan dimulai oleh PT Hyundai LG Indonesia (HLI) Green Power di Karawang, Jawa Barat pada Juli 2024 dan akan diresmikan oleh Presiden Jokowi.
Jegal Hilirisasi
Baca juga : Hore, Kemiskinan Di Jakarta Turun
Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengakui, masih ada negara yang berusaha menjegal hilirisasi dalam negeri. Hal ini disebabkan hilirisasi mengganggu rantai pasok bahan baku dalam industri.
Bahlil menjelaskan, merencanakan hilirisasi harus secara baik dan terukur. Misalnya, sekarang Indonesia membangun hilirisasi di sektor tembaga yang nantinya akan menjadi bagian dari komponen mobil listrik. Kemudian lanjut ke hilirisasi emas dan komponen pembungkus baterai.
Baca juga : Paraguay Vs Brazil, Duel Pelampiasan
“Tidak stop di tembaga dan emas. Langsung kita bikin hilirisasinya di Gresik pembungkus baterai, selama ini kita impor. Nikel kita tidak boleh ekspor sampai 50 sampai 60 persen, minimal 80 persen. Kita buat siasat manufakturnya semua dilakukan Indonesia,” jelasnya.
Dia menegaskan, pengembangan hilirisasi di sektor pertambangan ini menjadi syarat peningkatan pendapatan per kapita. Saat ini pendapatan per kapita Indonesia kurang lebih 5.300 dolar AS. DIR
Baca juga : Pecco Pengen Kuasai Assen
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 10, edisi Jumat, 28 Juni 2024 dengan judul "Dua Perusahaan Batal Investasi Proyek Baterai, BKPM: Minat Investor Di Hilirisasi Tetap Tinggi"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.