BREAKING NEWS
 

Menanti Regulasi Harga Biomassa

Wujudkan, Listrik Hijau Dari Rakyat Untuk Rakyat

Reporter & Editor :
RATNA SUSILOWATI
Senin, 29 Juli 2024 08:05 WIB
Stakeholder yang terkait pengembangan biomassa berfoto setelah acara Focus Group Discussion (FGD) mengenai Risiko, Tantangan dan Mitigasi pada Tatanan Rantai Pasok dan Komponen Pembentuk Harga Batu Bara, Biomassa dan EBT lainnya, di Semarang (23/07/2024). Tampak dalam foto, Dirut PT PLN Energi Primer Indonesia (EPI) Iwan Agung Firstantara (tengah berbatik coklat corak kemerahan) dan Komut PT PLN EPI Achmad Bakir Pasaman (tengah berbatik coklat corak putih). Yang lain hadir dari Masyarakat Energi Biomassa Indonesia, Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan, mitra-mitra pemasok biomassa dan stakeholder lainnya.

RM.id  Rakyat Merdeka - PLN sedang giat mengembangkan listrik hijau melalui teknologi cofiring, yaitu memasukkan limbah kebun, hutan atau pertanian (dinamai biomassa) sebagai campuran bahan bakar pembangkit listriknya. Dengan cara ini, penggunaan batu bara berkurang, emisi karbon pun turun.

Problemnya, tidak mudah mencari pasokan biomassa dalam jumlah besar. PLN mengajak masyarakat sekitar area pembangkit terlibat dalam penyediaan material ini. Namun, responnya belum menggairahkan. Sebab, bisnis biomassa dianggap kurang menguntungkan. Kalau pemerintah menerapkan kebijakan harga yang menarik, rakyat pasti semangat menjual biomassa ke PLN.

Sehingga nantinya, listrik hijau bisa terwujud dari rakyat dan untuk rakyat. Masyarakat bukan lagi hanya jadi konsumen tapi juga berperan sebagai produsen listrik. Problematika biomassa dibedah pada Forum Group Discussion (FGD), yang meng­hadirkan seluruh stake holder ter­kait penyediaan biomassa untuk PLN, pada Selasa (23/07/2024), di Semarang, Jawa Tengah.

 

Dirut PLN EPI Iwan Agung Firstantara saat memberi sambutan dalam acara FGD terkait rantai pasok dan komponen harga pembentuk biomassa dan batu bara di Hotel Padma, Semarang, Jawa Tengah, 23 Juli 2024. (Foto: dok. PLN)


Dari Kementerian ESDM hadir Direktur Bioenergi Direk­torat Energi Baru Terbarukan Edi Wibowo. Dari Kementerian Keuangan, datang mewakili Direktur Pengelolaan Risiko Keuangan Negara yaitu Kepala Seksi Risiko Pinjaman Hilman Kumarsono. Kemenko Maritim dan Investasi, diwakili Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan Nani Hendiarti. Juga hadir Sekjen Dewan Energi Nasional Joko Siswanto. Diskusi ma­kin lengkap dengan kehadiran akademisi peneliti biomassa, asosiasi hingga mitra-mitra PLN yang selama ini menjadi pemasok biomassa.

Dari penyelenggara, hadir Direktur Utama PT PLN EPI (Energi Primer Indonesia) Iwan Agung Firstantara bersama jaja­ran direksi. Bahkan, Komisaris Utama PT PLN EPI Achmad Bakir Pasaman sangat antusias mengikuti seluruh sesi FGD dari awal hingga akhir.

Tema diskusinya yaitu Risiko, Tantangan dan Mitigasi pada Tatanan Rantai Pasok dan Komponen Pembentuk Harga Batu Bara dan Biomassa serta EBT lainnya.

Baca juga : Mendarat Di Casablanca, Nge-teh Mint Di Pusat Kota

Semua stakeholder mendu­kung pengembangan dan peman­faatan biomassa untuk cofiring PLTU, demi pengurangan emisi.

Pemerintah mengharapkan PLN bergerak agresif mengejar target penggunaan biomassa, yang tahun ini mencapai 2,2 juta ton. Sampai Mei baru tercapai 500-600 ribu metric ton.

“Masih ada gap sekitar 1,7 juta ton sampai akhir tahun. Kami harapkan PLN dan anak usaha melanjutkan upaya-upaya untuk meningkat­kan pasokan biomassa, melalui kolaborasi dengan stakeholder demi mencapai target,” kata Edi Wibowo, Direktur Bioenergi dari KESDM.

Agar pasokan terpenuhi, pemerintah mengeluarkan Per­aturan Menteri ESDM nomor 12/2023 yang salah satu pasal­nya mengatur harga biomassa agar lebih menarik bagi pebisnis.

Selama ini biomassa dihargai sama dengan batubara. Jika aturan baru diterapkan, akan ada tambahan harga 20 persen lebih tinggi untuk pemasok bio­massa.

Pelaksanaannya, masih menunggu Peraturan Menteri Keuangan (PMK) karena terkait dengan besaran subsidi. “Begitu PMK-nya keluar, segera dilaku­kan sosialiasi massif tentang pe­manfaatan biomassa,” ujarnya.

Kementerian Keuangan menyatakan siap mendukung pengembangan biomassa untuk cofiring PLTU. Arahan dari Menteri Keuangan, semua upaya maksimal untuk transisi energi, termasuk pengembangan bio­massa harus didukung.

Baca juga : Luluk Nur Hamidah: Semua Nanti Akan Bisa Realistis Kok

“Kami siap beradaptasi menyesuaikan dengan regulasi yang ada. Bio­massa adalah inisiatif strategis, bagian dari upaya pemensiunan PLTU secara bertahap,” kata Kepala Seksi Risiko Pinjaman Hilman Kumarsono, yang me­wakili Kemenkeu.

PMK sebagai langkah lanjutan dari Permen ESDM 12/2023, sangat ditunggu dan perlu di­kawal bersama.

Kemenko Mar­ves dalam hal ini ikut mendorong segera dikeluarkannya regulasi tersebut. Diharapkan, tata kelola biomassa dapat terintegrasi.

Jika aspek pembiayaannya me­narik, akan menciptakan iklim investasi yang baik, pengem­bangannya bakal massif dan berkelanjutan.

“Jadi, mari ber­sama-sama kolaborasi, agar melahirkan rekomendasi yang bisa mempercepat pencapaian target penyediaan biomassa,” kata Deputi Bidang Koordinasi pengelolaan lingkungan dan ke­hutanan Kemenko Marves, Nani Hendiarti.

Menurut Kemenko Marves, cofiring PLTU perlu jadi perha­tian dari hulu hingga hilir. “Kita harus fokus mengurangi peng­gunaan batu bara, dengan cara ini,” katanya.

Dia menyebut, ada banyak keunggulan dari peman­faatan biomassa. Antara lain, membuka peluang job-creation dan pemberdayaan masyarakat.

Baca juga : Cyril Raoul Hakim: Kami Simulasi Semua Nama Yang Beredar

Dilihat dari nilai keekonomian, biaya pengurangan emisi me­lalui biomassa jauh lebih murah dibanding membangun EBT jenis lainnya. Cofiring hanya mensubtitusi batu bara di pem­bangkit yang sudah ada. Tidak perlu investasi besar.

Pemerintah mengakui penye­diaan biomassa menghadapi tantangan. Antara lain, keber­lanjutan, realibilitas bahan baku, penguasaan teknologi dan harga. Idealnya, jarak angkut biomassa ke lokasi pembangkit, tak lebih dari 100 kilometer. Sehingga, Pemerintah mendorong agar lahan di sekitar areal pembangkit dimanfaatkan dengan penana­man pohon-pohon yang lim­bahnya bisa digunakan untuk bahan bakar cofiring.

Ada banyak jenis material biomassa untuk pasokan ke pembangkit. Yaitu limbah kayu (wood chip), serpihan shawdust, jerami, serbuk gergaji kayu, dan lain-lain. Jenis yang paling bagus adalah limbah cangkang sawit. Tak perlu diolah dan bisa langsung digunakan.

Adsense

Sayangnya, banyak pengusaha sawit lebih senang mengekspor cangkang, karena harganya di luar negeri cukup tinggi.

Pemerintah mendorong para pelaku usaha masuk ke bisnis ini. Kolaborasi dengan Pemda dan masyarakat setempat sangat penting. Sebab biomassa bisa jadi bisnis rakyat, untuk mening­katkan kesejahteraan masyarakat di sekitar perkebunan.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense