Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Senayan mendesak Pemerintah segera melakukan investigasi penyebab tingginya penderita gagal ginjal dan diabetes pada anak-anak dan dewasa. Langkah ini perlu guna mencegah meningkatnya penyakit ini.
Anggota Komisi IX DPR I Ketut Kariyasa mengatakan, sampai sekarang tidak pernah ada laporan penyebab tingginya serangan penyakit ini terutama kepada anak-anak. Diketahui, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengonfirmasi kasus diabetes anak meningkat 70 persen sejak 2010 hingga 2023. Berdasar survei IDAI, 1 dari 5 anak usia 12-18 tahun urinenya mengandung hematuria atau proteinuria sebagai gejala awal gagal ginjal.
Ketut bilang, Pemerintah harus mengumumkan kepada publik secara resmi penyebab rentannya anak-anak terkena penyakit gagal ginjal dan diabetes. Sehingga dengan adanya pengumuman atas hasil investigasi ini, orang tua bisa lebih menyadari pentingnya mengontrol kesehatan anak-anak.
“Jangan sampai para orang tua malah salah langkah. Makanya harus dipastikan penyebabnya apa dulu penyakit ginjal dan diabetes ini,” tegasnya.
Baca juga : Penyaluran Solar Subsidi Akurat Dan Tepat Sasaran
Menurut dia, publik beropini, penyakit gagal ginjal dan diabetes pada anak-anak ini disebabkan konsumsi makanan dan minuman berpemanis dengan kadar gula, garam dan lemak tinggi. Untuk itu, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) perlu segera mengumumkan makanan dan jenis minuman apa saja yang memiliki kadar bahaya tinggi dan tidak aman dikonsumsi.
“Ini harus dirilis resmi oleh BPOM. Selama ini kan tidak ada peringatan dan sebagainya. Jangan sampai makanan dan minuman berpemanis ini malah merugikan kesehatan,” tambah politisi Fraksi PDI Perjuangan ini.
Dia bilang, penyakit gagal ginjal dan diabetes ini sudah masuk kategori darurat. Sehingga kebijakan yang diambil pun mesti darurat. Apalagi melihat data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS), biaya kesehatan yang banyak di-cover adalah gagal ginjal dan diabetes, selain penyakit jantung dan Tuberclosis.
“Kalau ini tidak diatasi, uang negara untuk membiayai kesehatan masyarakat terkuras untuk penyakit gagal ginjal dan diabetes ini,” tambahnya.
Baca juga : Kadin Siapin White Paper Pembangunan Ekonomi
Hal senada dilontarkan Wakil Ketua Komisi IX DPR Kurniasih Mufidayati. Menurutnya, Pemerintah perlu membuat kebijakan komprehensif mulai dari promotif, preventif, kuratif hingga rehabilitatif untuk mengatasi penyakit yang banyak menyerang anak-anak ini.
“Pemerintah berkewajiban melindungi anak-anak kita dari dampak berbahaya penyakit yang kini menyerang usia muda. Jangan sampai upaya kita fokus melindungi balita dari stunting tapi kecolongan di usia atasnya karena penyakit seperti gagal ginjal dan diabetes anak mengancam,” tegasnya.
Makanya, dia mendesak Pemerintah memperkuat edukasi tentang bahaya makanan dengan kandungan Gula, Garam, Lemak (GGL) berlebih, terutama pada jajanan anak. Selain itu, Kurniasih mendorong agar ada pencantuman level kadar gula dalam makanan dan minuman kemasan oleh industri.
Kurniasih menyebut, saat ini Komisi IX sedang dalam pembahasan Panja Pengawasan Makanan Mengandung Gula, Garam, Lemak (GGL). Prosesnya saat ini meminta masukan dari PB IDI, Persatuan Ahli Gizi Indonesia, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat dan para pakar lainnya.
Baca juga : DKI Didorong Gandeng BPJS Ketenagakerjaan
Kandungan GGL berlebih dalam asupan makanan menjadi salah satu penyebab terbesar anak-anak terpapar penyakit seperti diabetes dan gagal ginjal akibat gaya hidup. “Ini tugas DPR bersama pemerintah menghasilkan regulasi untuk mengatur kandungan GGL termasuk pada makanan atau jajan anak-anak,” terang politisi Fraksi PKS ini.
Dia berharap Pemerintah bertindak lebih cepat membasmi penyebab penyakit ini. “Ayo kita sama-sama pasang alarm. Jangan sampai fenomena penyakit yang penderitanya semakin muda ini jadi bom waktu. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Insyaallah demi generasi mendatang kita bisa,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.