Sebelumnya
Kadin menggarisbawahi berbagai program yang mendukung penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) dan pengentasan stunting, juga menjadi penting agar bonus demografi berkontribusi pada penguatan perekonomian nasional.
Sedangkan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani menilai, kondisi industri manufaktur nasional saat ini masih relatif stabil.
Meski demikian, sampai tutup tahun diperkirakan industri manufaktur akan menghadapi kondisi yang menantang.
Baca juga : Makan Bergizi Gratis Bisa Pake Duit APBD
Risiko inflasi biaya operasi usaha atau belanja modal akibat efek samping pelemahan nilai tukar akan tetap tinggi hingga akhir tahun.
Sementara, tantangan lain datang dari pasar. Ada potensi penurunan demand dari dalam maupun luar negeri. Faktor lainnya, yakni adanya potensi penurunan daya beli masyarakat di sisa tahun ini.
“Selain itu, pelaku usaha di sektor manufaktur juga masih banyak yang wait and see untuk ekspansi karena transisi politik,” imbuh Shinta.
Baca juga : Juventus Vs Como, Nyonya Besar Diuji Anak Kemarin Sore
Sebagai informasi, industri manufaktur Indonesia didominasi oleh subsektor yang berorientasi pasar dalam negeri. Hanya segelintir saja yang berorientasi ekspor.
Hal ini berbanding terbalik dengan industri manufaktur negara kelompok ASEAN-5, seperti Malaysia, Filipina, Thailand dan Singapura yang lebih berorientasi ekspor. DIR
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 9, edisi Senin, 19 Agustus 2024 dengan judul "Kadin: Tantangan Global Semakin Berat, Industri Manufaktur Kudu Fokus Garap Pasar Ekspor"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.