RM.id Rakyat Merdeka - Presiden terpilih Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, menargetkan besaran investasi mencapai Rp 1.900-Rp 2.000 triliun pada 2025. Target ini cukup menantang dan semua pihak diminta ikut mendukung agar target tersebut tercapai.
Wakil Menteri Investasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Yuliot Tanjung mengatakan, target realisasi investasi yang sangat besar tersebut menjadi kunci utama agar pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 7-8 persen seperti yang ditargetkan Prabowo Subianto.
“Asesmen kami, tahun 2025 target realisasi investasi naik sekitar 16 persen dari target 2024,” kata Yuliot saat membuka Central Banking Services Festival 2024, di Jakarta, Rabu (28/8/2024).
Dia menjelaskan, Pemerintah menargetkan realisasi investasi Rp 1.650 triliun pada 2024. Target sebesar ini dipatok dalam rangka mendukung pertumbuhan perekonomian nasional sekitar 5 persen hingga 5,5 persen.
Baca juga : Ekosistem Kendaraan Listrik Bakal Melesat
Kondisi sementara, per semester I-2024, Indonesia berhasil merealisasikan investasi Rp 829,9 triliun atau sekitar 50,3 persen dari target.
Capaian investasi ini ikut mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,03 persen pada periode yang sama.
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia ini capaian yang sangat luar biasa. Kedua tertinggi setelah capaian pertumbuhan yang ada di India,” jelasnya.
Yuliot mengakui, target investasi 2025 yang mencapai Rp 2.000 triliun ini menjadi makin menantang. Dia pun mewanti-wanti semua pihak agar ikut mendukung dalam proses pencapaiannya.
Baca juga : Warga Jakarta Kesulitan Mendapatkan Air Bersih
“Tidak ada sektor perekonomian yang rata-rata pertumbuhan dua digit. Ini beban kita bersama. Untuk menunjang pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen, kita harus menggenjot kegiatan investasi,” paparnya.
Untuk mencapai target tersebut, lanjut dia, Pemerintah perlu banyak mengintegrasikan kebijakan. Ada empat pilar yang harus segera dikonsolidasi dalam menunjang daya saing investasi dan ekonomi ke depan.
Pertama, selama ini kebijakan terkait investasi masih bersifat terpisah-pisah. Karena itu, kebijakan patut dilakukan perbaikan.
Kedua, Indonesia perlu memperkuat kebijakan industri. Bisa dimulai dengan konsultasi berbagai program green investment dan hilirisasi nilai tambah di dalam negeri yang memberikan daya saing.
Baca juga : Manchester United Vs Liverpool, The Red Devils Pincang
Ketiga, Indonesia juga perlu mengkonsolidasikan kebijakan finansial di sisi pembiayaan dari lembaga perbankan dan keuangan. Ini untuk mendukung pelaksanaan kegiatan investasi di Indonesia. Pasalnya, tidak mungkin seluruh modal investor berasal dari modal sendiri.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.