RM.id Rakyat Merdeka - PT Bukalapak.com Tbk (Bukalapak) akan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap pegawainya karena terus mengalami kerugian. Bukalapak disinyalir ikut terdampak fenomena gelombang tech winter atau musim dingin sektor digital.
Sepanjang semester I-2024, Bukalapak mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 751 miliar, atau naik hingga 93,16 persen di angka Rp 389,2 miliar pada semester I-2023.
Sementara pendapatan Bukalapak sebesar Rp 2,41 triliun, atau hanya mengalami kenaikan 10,61 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 2,18 triliun.
Menyoal ini, Direktur & Founder Celios (Center of Economic and Law Studies) Bhima Yudhistira Adhinegara berpendapat, saat ini kondisi e-commerce maupun startup masih menggantungkan harapannya kepada modal asing yang cukup besar.
Baca juga : Tahun 2024 Tembus 3,83 T Tahun 2025 Dipatok 2,51 T
Padahal, lanjut Bhima sekarang investor asing mulai berhati-hati masuk ke negara berkembang.
“Termasuk investasi ke saham teknologi, sehingga berpengaruh pada keuangan dan bisnis e-commerce,” jelas Bhima kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Menurut Bhima, pada model bisnis seperti e-commerce, si pelaku cenderung ingin mengejar pertumbuhan cepat dan membutuhkan modal besar. Hal ini menyebabkan adanya mismatch antara ekspektasi pertumbuhan startup dengan alokasi modal yang menurun.
Selain itu, sambungnya, perilaku konsumen juga berpengaruh karena adanya fasilitas bebas ongkos kirim (ongkir), diskon, promo dan lainnya.
Baca juga : Pemukiman Tanah Tinggi Akan Dibikin Lebih Keren
Namun ketika promo diskon itu berkurang, maka dampaknya akan menjadi sangat sensitif.
“Sehingga masyarakat juga mengalami price sensitive yang mendorong konsumen membuat keputusan untuk mengurangi belanja di e-commerce,” ungkapnya.
Bhima melihat, gelombang tech winter atau musim dingin di sektor digital masih akan terus berlanjut. Investor dari dalam dan luar negeri, lebih tertarik pada perusahaan yang profitabilitasnya lebih stabil, tidak terlalu banyak bakar uang dan mengejar pertumbuhan dalam waktu cepat.
Meski begitu, Bhima menegaskan, yang perlu diperhatikan adalah efek dari adanya PHK di sektor e-commerce yang bisa merembet ke pekerja di sektor formal. Seperti tenaga IT (Information Technology), maupun software engineer.
Baca juga : Tanpa Hilgers, Benteng Tim Garuda Harus Waspada
“Dan pengaruh juga ke tenaga kerja informal, seperti kurir paket, driver online, karena pendapatan mereka yang bergantung dari keberlanjutan bisnis e-commerce,” ucapnya.
Bhima berpesan, Pemerintah harus menyiapkan mitigasi risiko. Termasuk menyiapkan bantalan bagi perlindungan sosial pekerja informal. Dan memastikan ketika terjadi PHK, hak-hak dari para pekerja di sektor digital bisa dipenuhi oleh perusahaan.
Bhima juga mengimbau kepada Bukalapak, tantangan ekonomi global harus bisa dibaca oleh perusahaan, dengan mempertimbangkan kembali hasil regulasi, perubahan tren teknologi.
“Kalau mereka tidak segera melakukan analisis tren, maka akan tertinggal,” warning-nya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.