RM.id Rakyat Merdeka - Perang tarif layanan data internet di Indonesia dinilai sudah tidak sehat. Sebab, tarif layanan itu paling murah di dunia. Kondisi ini mengancam keberlangsungan bisnis industri telekomunikasi.
Direktur Utama Telkom Ririek Adriansyah menyebut, salah satu masalah industri telekomunikasi di Indonesia adalah soal perang tarif layanan data internet.
Bahkan, tarif layanan data untuk internet per megabyte di Indonesia, sudah termasuk paling murah di dunia.
Misalnya, tarif layanan data internet di Indonesia dengan volume satu gigabyte dijual ke pasar senilai Rp 10 ribu.
Baca juga : Wamenkeu: Tantangan Bisa Dijadikan Peluang
Jika, satu gigabyte sama dengan 1.000 megabyte, maka tarif per megabyte kira-kira hanya Rp 10. Sangat murah bukan.
“Mungkin kelihatannya bagus untuk masyarakat, tetapi sifatnya jangka pendek. Situasi ini yang membuat operator telekomunikasi tidak akan tumbuh berkelanjutan,” ujar Ririek saat ditemui di Demak, Jawa Tengah, Jumat (15/11/2024).
Ririek menjelaskan, jika operator telekomunikasi tidak bisa tumbuh berlanjutan. Apalagi jika sampai kondisi keuangannya menjadi tidak sehat, maka perusahaan berpotensi sulit membangun infrastruktur telekomunikasi secara merata.
Pada akhirnya, kata dia, situasi seperti itu bakal merugikan masyarakat.
Baca juga : Mobil Pangan Murah Akan Ditambah 44 Unit
“Tarif layanan telekomunikasi itu semestinya terjangkau dan ketersediaannya merata,” katanya.
Ia mencontohkan kondisi di India, ketika ada operator yang menerapkan tarif layanan internetnya paling murah, malah merusak keberlanjutan industri telekomunikasi di negara tersebut.
Lambat laun, kata dia, hanya ada dua operator telekomunikasi yang akhirnya menaikkan tarif layanannya setiap tahun. Begitu juga di Thailand.
Karenanya, tarif layanan data internet di negara berkembang lainnya, juga sudah merangkak naik melebihi tarif di Indonesia.
Baca juga : Peluang Tim Garuda Lolos Terbuka Lebar
Menurut Ririek, Pemerintah Indonesia juga perlu mengambil langkah dalam menyikapi permasalahan perang tarif layanan data untuk internet.
Sebab, antar operator telekomunikasi juga tidak bisa kompak untuk menghentikan perang tarif, lalu mulai menaikkan tarif. Sebab, hal ini akan dianggap sebagai kartel.
“Makanya, untuk pencegahan (perang tarif), Pemerintah bisa menerapkan tarif batas bawah untuk layanan ini. Dengan begitu, industri pun tetap bisa tumbuh berkelanjutan,” usulnya.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom Herry Supriadi menambahkan, perusahaan telekomunikasi masih mengandalkan pendapatan dari lalu lintas konsumsi data internet.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.