BREAKING NEWS
 

Prediksi OJK

Jelang Lebaran, Warga Rame-rame Utang Pinjol

Reporter : NUR ROCHMANNUDIN
Editor : SISWANTO
Minggu, 9 Maret 2025 08:00 WIB
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM dan LJK Lainnya OJK Agusman. (Foto: Dok. OJK)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kebutuhan tinggi masyarakat jelang Lebaran, tak sebanding dengan pendapatannya. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memprediksi, warga akan rame-rame cari tambahan lewat utang pinjol alias pinjaman online untuk memenuhi kebutuhan Lebaran.

Prediksi ini disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM dan LJK Lainnya OJK Agusman. Hitungannya, terjadi peningkagan pembiayaan Buy Noy Pay Later (BNPL) dan perusahaan pembiayaan. Harapannya pembiayaan bermasalah atau Non Performing Financing (NPF) tidak melonjak signifikan. “Namun, diharapkan akan lebih terkendali agar tidak menimbulkan peningkatan NPF ke depan,” kata Agusman dalam keterangan resminya, Sabtu (8/3/2025).

Pada Januari 2025, pembiayaan BNPL oleh perusahaan pembiayaan pada meningkat 41,9 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan Desember 2024 yang hanya 37,6 persen yoy. Secara nominal sebesar Rp 7,12 triliun dengan NPF gross 3,37 persen.

Baca juga : Gerindra Lebih Cocok Dengan Aturan Lama

Sementara itu pada industri fintech lending atau pinjol, outstanding pembiayaan di Januari 2025 tumbuh 29,94 persen yoy dari Desember yang hanya 29,14 persen. Adapun nominalnya mencapai Rp 78,50 triliun.

Hanya saja, Agusman menyebut NPF masih dalam batas aman. “Tingkat risiko kredit macet secara agregat (TWP90) dalam kondisi terjaga stabil di posisi 2,52 persen,” urainya.

Jelang Lebaran tahun lalu, outstanding pembiayaan BNPL oleh perusahaan pembiayaan menguat 31,45 persen yoy pada April 2024 dibandingkan Maret 2024 23,90 persen. Sedangkan pembiayaan industri pinjol menguat 24,16 persen yoy dibandingkan Maret 2024 yang hanya 21,85 persen yoy.

Baca juga : Usul, Sistem Pemilihan Campuran Dalam Pileg

Sebelumnya, survei yang dilakukan Mandiri Spending Index (MSI) menemukan terjadinya pelemahan belanja masyarakat kalangan bawah. Belanja masyarakat terjadi perlambatan di satu minggu menjelang Ramadan yakni ke 236,2.

Pola ini merupakan anomali karena tidak terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Mandiri Spending Index (MSI) yang menurun jelang Ramadhan terakhir kali terjadi pada Maret 2020 atau lima tahun yang lalu saat pandemi Covid-19 dengan nilai 58.

Padahal, secara historis, Ramadan merupakan puncak konsumsi masyarakat Indonesia. Konsumsi juga biasanya sudah melonjak sebelum Ramadan terutama untuk kebutuhan makanan dan minuman.

Baca juga : Heboh, Petani Ngaku Terima Rp 16 Juta Untuk Pilih Paslon

Porsi belanja restoran paling banyak terserap untuk restoran yakni 20,2 persen. Belanja kelompok ini kembali ke porsi 20 persen untuk pertama kalinya sejak Oktober 2023. Porsi belanja supermarket juga naik ke 15,9 persen. Belanja restoran supermarket sudah memakan porsi 35,6 persen atau hampir 40 persen.

Adsense

Data tersebut mengindikasikan jika belanja masyarakat saat ini hanya terkonsentrasi kepada kebutuhan pokok dan primer, seperti makanan dan kebutuhan sehari-hari.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense