RM.id Rakyat Merdeka - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini kembali melemah setelah tekanan jual besar-besaran dari investor. Bursa Efek Indonesia (BEI) bahkan sempat membekukan perdagangan sementara atau trading halt saat IHSG turun lebih dari 5 persen di sesi pertama.
Penurunan tajam ini menimbulkan kekhawatiran banyak pihak. Ekonom Ryan Kiryanto menyarankan agar pemerintah dan juga Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yg terdiri dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), segera mengambil langkah konkret untuk menenangkan pasar dan mengembalikan kepercayaan investor.
Baginya, penurunan IHSG sebetulnya bukanlah kejutan karena sudah berlangsung selama beberapa hari terakhir. Kondisi ini, kata dia, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia yang dianggap tidak sebaik tahun lalu.
“Sebagian pelaku pasar merasa tidak nyaman melihat outlook ekonomi kita karena tekanan eksternal yg kuat, ditambah dengan berbagai kebijakan yang menimbulkan kegaduhan,” ujarnya.
Baca juga : Gelar KLiK Di Medan, Astra Financial Kerek Literasi Keuangan Guru Dan Pelajar
Ryan menyoroti beberapa faktor yang memperburuk sentimen pasar, mulai dari kenaikan PPN dari 11 persen menjadi 12 persen, meskipun kemudian dikoreksi hanya berlaku untuk barang mewah, gaduh LPG 3 Kg, polemik pendirian Danantara hingga serangkaian ekspos dugaan kasus korupsi jumbo yang melibatkan PT Timah, Pertamina, hingga di sektor keuangan Bank BJB.
Ia menegaskan bahwa pasar memiliki mekanisme dan hukum sendiri dalam menilai risiko. “Kalau investor merasa tidak nyaman, mereka akan memilih keluar,” tambahnya.
Selain itu, Ryan menyoroti defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang semakin dekat ke batas 3 persen. Menurutnya, kondisi ini dapat semakin mengurangi kepercayaan investor. “Jika defisit APBN terus melebar dan mendekati 3 persen, itu bisa menjadi sinyal negatif bagi pasar. Investor tentu akan berpikir ulang untuk bertahan,” jelasnya.
Dalam menghadapi kondisi ini, Ryan meminta pemerintah dan/atau otoritas terkait segera memberikan pernyataan resmi untuk menenangkan pasar. “Pemerintah harus bertindak cepat. Kepercayaan investor harus segera dipulihkan agar tekanan jual tidak semakin dalam,” katanya.
Baca juga : Berkontribusi Ke Ekonomi, IHT Butuh Perlindungan Dan Keberpihakan Regulasi
Ia juga menegaskan pentingnya kebijakan yang ramah bagi investor. “Pemerintah harus lebih berhati-hati dalam merilis kebijakan ekonomi. Investor butuh kepastian, bukan kejutan yang menimbulkan ketidakpastian,” tegasnya.
Komunikasi Kebijakan
Ryan juga menekankan bahwa kebijakan yang tidak dikomunikasikan dengan baik berisiko didefinisikan negatif oleh pasar, seperti kebijakan efisiensi anggaran. Soal pemangkasan anggaran misalnya. Menurutnya, komunikasi pemerintah harus lebih fokus ke menggenjot anggaran, bukan menghemat anggaran.
Jika dikomunikasikan dengan baik, efisiensi anggaran yang dialihkan untuk makan bergizi gratis (MBG) atau membangun sekolah di seluruh Indonesia bisa ditafsirkan positif oleh investor karena memberikan multiplier-effect bagi kegiatan ekonomi.
“Kalau dikonunikasikan dengan baik, kan bisa jadi multiplier-effect yang sangat baik. Untuk bangun sekolah saja misalnya, bayangkan. Itu kan membangkitkan kegiatan ekonomi, karena butuh semen, besi hingga membuka lapangan kerja. Nah itu enggak dieksloprasi,” tandasnya.
Baca juga : Rektor Untad Minta Pemerintah Relaksasi Kebijakan Efisiensi
Seperti diketahui, IHSG hari ini sempat turun drastis hingga 7 persen sebelum akhirnya ditutup melemah 3,84 persen ke level 6.223,39. Sejumlah saham unggulan mengalami koreksi tajam.
Rontoknya IHSG juga diperparah oleh aksi jual investor asing yang terus berlanjut. Data menunjukkan bahwa investor asing mencatatkan aksi jual bersih sebesar Rp 849 miliar dalam sehari, dan Rp 3,12 triliun dalam sepekan terakhir.
Ryan Kiryanto menambahkan bahwa pemerintah harus lebih berhati-hati dalam merancang kebijakan ekonomi agar tidak berdampak negatif pada pasar modal. “Penting bagi pemerintah untuk menghindari kebijakan yang kontraproduktif dan memastikan komunikasi dengan pasar berjalan dengan baik. Kebijakan yang investor friendly adalah kunci untuk menjaga stabilitas pasar,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.