RM.id Rakyat Merdeka - Bisnis industri perhotelan dan pendukungnya tengah mengalami tekanan, akibat perekonomian di dalam negeri dan global, yang sedang tidak baik-baik saja. Untuk menghadapinya, para pelaku usaha di sektor tersebut didorong mencari peluang baru.
Pengamat kebijakan publik dari Universitas Trisakti Trubus Rahadiansyah melihat, industri hotel dan pendukungnya masih mengalami tekanan, tak hanya karena faktor perkembangan ekonomi di dalam negeri, tetapi juga luar negeri.
“Kita lihat selama periode libur Lebaran, biasanya hotel ramai dan penuh. Tahun ini tidak, hanya hotel-hotel tertentu saja. Hotel di daerah juga okupansinya rendah,” ujar Trubus kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Menurut Trubus, hal itu terjadi karena masih penyesuaian atas kebijakan Pemerintah yang baru, yakni penerapan efisiensi. Selain itu, ada peristiwa Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) jelang Lebaran.
“Faktor-faktor ini turut mempengaruhi daya beli masyarakat. Yang biasanya berlibur atau bepergian, jadi menunda atau membatasi itu,” katanya.
Selain itu, kondisi global juga turut mempengaruhi sektor perhotelan dan pariwisata. Sebab, selama ini Indonesia juga masih bergantung kepada kunjungan wisatawan mancanegara.
Trubus menilai, industri perhotelan perlu waktu untuk beradaptasi di tengah kondisi global maupun domestik.
Baca juga : Dongkrak Sektor Investasi,Bappenas Gaet Danantara
“Menurut saya, tahun ini dan tahun depan itu (industri perhotelan) masih perlu waktu untuk penyesuaian terhadap kondisi domestik dan global,” ucapnya.
Di kesempatan berbeda, Ketua Umum Perhimpunan Hotel & Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi B. S. Sukamdani, juga mengungkapkan hal serupa.
Menurut Hariyadi, industri hotel dan restoran saat ini tengah menghadapi tantangan besar. Terutama yang terkait penurunan penjualan secara signifikan di berbagai wilayah.
Terlebih, pasar Pemerintah yang selama ini menyumbang sekitar 40 persen pendapatan sektor ini, belakangan menurun akibat adanya kebijakan efisiensi.
“Oleh karena itu, kami mendorong pelaku usaha untuk mencari pasar baru dan meningkatkan kolaborasi antara asosiasi dengan Pemerintah,” ujar Hariyadi dalam acara Pengukuhan Pengurus Badan Pimpinan Pusat (BPP) PHRI periode 2025-2030 di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Jumat (11/4/2025).
Ia menerangkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kamar hotel di Indonesia mencapai 800 ribu unit, dengan proporsi 50:50 antara hotel berbintang dan non-berbintang.
Selain itu, fasilitas ruang pertemuan yang dimiliki menjadi potensi besar yang belum dimaksimalkan.
Baca juga : Denada Pernah Diselingkuhi
“Industri ini mampu menghadirkan aksi nyata perluasan lapangan pekerjaan,” tegasnya.
Terpisah, PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), bagian dari Holding InJourney, masih menunjukkan capaian positif dalam tingkat hunian hotel dan jumlah kunjungan wisatawan.
Direktur Operasi ITDC Wenda Ramadya Nabiel mengatakan, capaian positif itu terjadi di tiga kawasan pariwisata yang dikelola perseroan selama periode libur Lebaran pada 26 Maret-7 April 2025.
Wenda merinci ketiga kawasan yang dimaksud adalah The Nusa Dua, Bali mencatat tingkat okupansi hotel sebesar 72,93 persen, dengan jumlah kunjungan ke fasilitas kawasan termasuk Daya Tarik Wisata (DTW) Water Blow mencapai 75.174 orang.
“Angka ini menegaskan posisi The Nusa Dua, sebagai destinasi unggulan bagi wisatawan domestik maupun mancanegara,” ujar Wenda dalam keterangan resminya, Rabu (9/4/2025).
Selain itu, kawasan The Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), mencatat rata-rata tingkat okupansi hotel periode tanggal 24 Maret hingga 7 April 2025 sebesar 42,39 persen, melebihi target yang ditetapkan sebesar 32 persen.
Sepanjang periode tersebut, kata Wenda, jumlah kunjungan wisatawan tercatat 59.275 orang. Ini mencerminkan tren pertumbuhan positif, khususnya selama masa libur Lebaran.
Baca juga : Ketua PN Jakarta Selatan Diduga Terima Suap 60 Miliar, Nama Baik Hakim Tercoreng
Selanjutnya, The Golo Mori, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), mencatat total kunjungan wisatawan pada periode yang sama pada 24 Maret hingga 7 April 2025 sebanyak 1.479 orang.
Ia berharap, dengan terus meningkatkan fasilitas dan pelayanan, kunjungan wisatawan dan tingkat okupansi hotel di kawasan ITDC ke depannya akan semakin meningkat. Serta memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal dan industri pariwisata Indonesia.
Untuk itu, pihaknya akan terus memperkuat kualitas layanan, infrastruktur, serta kolaborasi lintas sektor.
“Ini guna menjadikan kawasan pariwisata kami sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional,” pungkas Wenda.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.