BREAKING NEWS
 

Indeks Kepercayaan Industri Mei 2025 Naik

Pabrik-pabrik Kembali Bangkit, Ribuan Tenaga Kerja Diserap

Reporter : NOVALLIANDY
Editor : FAZRY
Jumat, 30 Mei 2025 07:00 WIB
Juru Bi­cara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief. (Foto: Instagram/febrihendri)

RM.id  Rakyat Merdeka - Terbitnya kebijakan pemerintah yang pro industri, serta meredanya tensi perang dagang global memberikan angin segar bagi perekonomian dunia, termasuk Indonesia.

Hal ini turut mendorong per­baikan iklim usaha nasional, ditandai dengan mengalirnya investasi baru di sektor manu­faktur dan peningkatan pe­nyerapan tenaga kerja pada Mei 2025.

Indeks Kepercayaan Industri (IKI) manufaktur pada Mei 2025 kembali mencatatkan kinerja positif dengan berada pada fase ekspansi di level 52,11. Angka ini meningkat 0,21 poin dibandingkan April 2025, meskipun mengalami sedikit perlambatan jika dibandingkan dengan Mei 2024 yang men­catatkan 52,50 poin.

“Kembalinya IKI bulan Mei 2025 pada laju ekspansi di­topang oleh 21 subsektor yang tumbuh positif dan menyum­bang kontribusi sebesar 95,7 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas pada Triwulan I–2025,” ujar Juru Bi­cara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief dalam Rilis IKI Mei 2025 di Jakarta, Selasa (27/5).

Seluruh variabel pembentuk IKI tercatat mengalami ekspansi, terutama pada variabel pesanan yang naik 2,13 poin dibanding bulan sebelumnya. Sementara itu, variabel produksi dan perse­diaan masing-masing berada di level 52,43 dan 52,48 poin.

Baca juga : Segera Evaluasi Kontraktor Proyek Sekolah Bermasalah

“Kembalinya variabel pe­sanan ke zona ekspansi menjadi penopang kinerja industri dari sisi permintaan, baik domestik maupun global,” ujar Febri.

Industri alat angkutan lain­nya (KBLI 30) dan industri pengolahan tembakau (KBLI 12) mencatatkan nilai IKI tertinggi pada Mei 2025. Di sisi lain, industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki (KBLI 15), serta industri peralatan listrik (KBLI 27) masih berada dalam zona kontraksi.

Direktur Industri Tekstil, Kulit dan Alas Kaki, Rizky Aditya Wijaya menjelaskan, kenaikan harga barang sejak Maret 2025 membuat konsumen menahan pembelian alas kaki, yang ber­dampak pada turunnya permintaan domestik. Selain itu, penu­runan PDB di Amerika Serikat turut menyebabkan penurunan ekspor alas kaki Indonesia, yang 43 persen produksinya ditujukan ke luar negeri.

Adsense

Rizky menyampaikan bahwa meskipun produksi melambat, optimisme tetap ada, terlihat dari masuknya 12 investasi Penanaman Modal Asing (PMA) baru di sektor alas kaki sepan­jang Januari–Mei 2025, dengan nilai mencapai Rp 8 triliun dan kapasitas produksi sebesar 64,6 juta pasang alas kaki.

Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA), Reni Yanita me­nyampaikan, kebijakan afirmatif seperti gerakan Bangga Buatan Indonesia perlu terus diperkuat, khususnya bagi pelaku industri skala kecil yang bergantung pada kebijakan pemerintah.

Baca juga : Putri Anne, Cerai Karena Nggak Rukun

Industri aneka (KBLI 32) masih menunjukkan tren ekspansi sepanjang 2025, namun subsektor tertentu seperti alat musik, bulu mata palsu, dan rambut palsu mengalami per­lambatan akibat kebijakan pro­tektif negara mitra dagang. Kemenperin, menurut Reni, terus mendorong langkah strategis untuk menjaga momentum industri, mulai dari perluasan pasar hingga optimalisasi per­janjian dagang.

Di sisi lain, industri peralatan listrik menghadapi kendala berupa stok yang belum terserap optimal, rendahnya daya beli, hingga masuknya produk impor. Direktur Industri Elektronika dan Telematika, Ronggolawe Sahuri menyebut bahan baku sulit diperoleh dan perubahan musiman prioritas konsumsi turut berkontribusi pada per­lambatan.

IKI sektor ekspor pada Mei 2025 tercatat naik ke level 52,33 dari 52,26 pada April. Adapun IKI sektor domestik mengalami peningkatan lebih signifikan, dari 51,40 menjadi 51,82. Febri menilai bahwa kebijakan pro industri seperti Perpres No. 46 Tahun 2025 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah menjadi katalis penting.

“Perpres ini mewajibkan pe­merintah untuk memprioritaskan produk manufaktur dalam negeri dalam pengadaan barang dan jasa. Produk jadi impor kini menjadi opsi kelima dalam skala prioritas pembelian pemerin­tah,” katanya.

Pemerintah juga tengah mereformasi perhitungan Ting­kat Komponen Dalam Negeri (TKDN) agar lebih sederhana dan murah, guna memperluas sertifikasi produk dalam negeri untuk belanja pemerintah. Saat ini, sebanyak 14.030 perusahaan industri telah memproduksi barang ber-TKDN yang diserap melalui belanja pemerintah dan BUMN, menyerap tenaga kerja sebanyak 1,7 juta orang.

Baca juga : Suasana Baru Tenda Jemaah Haji di Mina: Ada Kanopi Bambu, Taman Hijau & Gemericik Air

Dari sisi konsumen, data In­deks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2025 menunjukkan level optimis sebesar 121,7, naik dari 121,1 pada bulan sebelum­nya. Sementara Indeks Kon­disi Ekonomi (IKE) naik menjadi 113,7 atau naik 3,1 poin, mencer­minkan peningkatan daya beli dan lapangan kerja.

Secara umum, kegiatan usaha pada Mei 2025 tetap terjaga baik. Sebanyak 74,3 persen responden menyatakan kondisi usahanya stabil atau membaik. Adapun optimisme pelaku usaha terhadap prospek enam bulan ke depan tetap tinggi di angka 66,6 persen, meskipun sedikit menu­run dari bulan sebelumnya.

“Optimisme ini dilandasi pada konsistensi kebijakan pemerin­tah yang mendukung iklim pasar dan produksi industri nasional,” tutup Febri.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense