BREAKING NEWS
 

Siapa Tahu Bisa Dapat Tarif Lebih Rendah Lagi

Sudah Turun 19 Persen, Nego Jalan Terus

Reporter : NUR ROCHMANNUDIN
Editor : ADITYA NUGROHO
Minggu, 20 Juli 2025 08:10 WIB
Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Arif Havas Oegroseno. (Foto: Instagram/havasoegroseno)

RM.id  Rakyat Merdeka - Meskipun tarif impor produk Indonesia ke Amerika Serikat (AS) sudah turun dari 32 persen ke angka 19 persen, negosiasi terus jalan. Pemerintah berharap Negeri Paman Sam bisa menurunkan lagi tarifnya.

Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Arif Havas Oegroseno mengatakan, Indonesia akan memaksimalkan sisa waktu dua pekan ke depan untuk merampungkan pembicaraan lanjutan dengan pemerintah AS. Harapannya, mereka bisa turunkan lagi tarifnya.

So far, sudah turun dari 32 persen menjadi 19 persen. Dan, dalam dua minggu ini masih terus diusahakan oleh timnya Pak Airlangga,” ujar Havas kepada wartawan usai diskusi PCO di Resto Cafe Beltway Office Park, Jakarta Selatan, Sabtu (19/7/2025).

Baca juga : 3 Nyawa Melayang Di Pesta Pernikahan Anaknya, Kang Dedi Disorot Netizen

Ia juga menanggapi kekhawatiran soal tarif nol persen untuk produk AS yang masuk ke Indonesia. Menurutnya, tarif tersebut hanya berlaku untuk produk yang benar-benar diproduksi di Amerika Serikat, atau made in USA.

Havas menjelaskan, produk-produk impor asal AS umumnya bukan barang konsumsi harian masyarakat Indonesia, dan juga bukan produk yang bisa diproduksi sendiri oleh industri dalam negeri. “Produk Amerika yang besar hanya kedelai dan gandum. Itu pun bukan bersaing langsung dengan produk lokal kita,” ujarnya.

Menurut Havas, kesepakatan tarif 19 persen untuk Indonesia, sementara AS mendapat bebas tarif, tidak bisa hanya dilihat dari angka semata. Menurutnya, perlu juga mempertimbangkan jenis produk yang dimaksud.

Baca juga : Kaesang Kembali Terpilih Jadi Ketum, Jokowi Full Dukung PSI

“Kalau produknya dari AS, ya bukan sepatu, bukan apparel, bukan kopi, bukan produk yang kita gunakan setiap hari,” jelasnya.

Havas juga menilai kekhawatiran soal gelombang impor produk AS tidak perlu dibesar-besarkan, karena barang-barang produksi AS sebenarnya jarang ditemukan di pasar Indonesia. “Barang Amerika yang mana? Sepatu, baju, handphone, itu semua buatan China, bukan made in USA,” katanya.

Ia menambahkan, akses penuh bagi produk AS ke Indonesia tidak serta-merta akan memicu lonjakan impor karena faktor harga tetap menjadi penentu utama. “Misalnya Ford Mustang bebas masuk RI. Tapi kalau di sebelahnya ada Toyota Avanza, ya saya pilih Avanza. Saya PNS, mana sanggup beli Mustang,” selorohnya.

Baca juga : Wisata Kuliner Halal, Cicipi Sushi Sistem AI

Lebih lanjut, Havas menegaskan, diplomasi dagang antarnegara tidak dilandasi oleh emosi, melainkan kepentingan nasional “Politik luar negeri itu nggak pakai iri atau dengki. Yang ada itu kepentingan nasional,” tegasnya.

Terkait kekhawatiran kesepakatan ini bisa menimbulkan kecemburuan dagang dari negara mitra lain seperti Jepang, Uni Eropa, atau China, Havas menyebut hal itu bisa diatasi melalui diplomasi berbasis data dan evaluasi menyeluruh atas perjanjian dagang yang sudah ada. Ia juga mengajak semua pihak untuk tidak terburu-buru menilai tanpa memahami konteks perdagangan secara menyeluruh.

Adsense

Senada dengan Havas, Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan, Pemerintah masih terus melanjutkan proses negosiasi dengan Pemerintah AS. “Masih ada time break, karena dengan USTR (Kantor Perwakilan Dagang AS), kita masih terus melakukan negosiasi,” kata Susiwijono di Kantor Kemenko Perekonomian, Jumat (18/7/2025).
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense