BREAKING NEWS
 

Erick Kasih Contoh Di Kementerian BUMN

Isu Lingkungan Harus Dijawab Aksi Konkret

Reporter : KHOIRUL UMAM
Editor : ADITYA NUGROHO
Jumat, 25 Juli 2025 08:00 WIB
Menteri BUMN Erick Thohir bicara isu lingkungan dan pentingnya transisi ke energi hijau di acara Green Impact Festival 2025 di Jakarta, Kamis (24/7/2025). (Foto: Sophan Wahyudi/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyoroti tantangan besar yang dihadapi kota-kota besar di Indonesia, terutama terkait persoalan lingkungan. Salah satu masalah utama adalah sampah yang belum tertangani secara optimal, baik di darat maupun di laut.

“Kita bisa lihat sampah di mana-mana, tidak terkendali. Dampaknya luar biasa, termasuk terhadap sektor pariwisata dan industri pendukungnya seperti penerbangan. Ini sangat merugikan perekonomian dan merusak citra Indonesia,” kata Erick dalam acara Green Impact Festival 2025 di Djakarta Theater, Jakarta, Kamis (24/7/2025).

Green Impact Festival 2025 diselenggarakan oleh Rakyat Merdeka bersama Society of Renewable Energy (SRE). Acara ini turut dihadiri Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, CEO Rakyat Merdeka yang juga Pendiri Green Impact Kiki Iswara dan jajaran, serta Founder SRE/ Leader Green Impact Zagy Yakana Berian.

Menurut Erick, kondisi lingkungan yang buruk juga berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat. “Ketika lingkungan tidak higienis, angka penyakit meningkat. Ini membuat pengeluaran pemerintah untuk sektor kesehatan semakin besar,” tambahnya.

Baca juga : Zulhas: Pangan Dan Energi Terbarukan Arena Anak Muda

Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) itu, juga menyoroti pentingnya transisi menuju energi hijau. Indonesia, lanjut Erick, diberkahi sumber energi terbarukan yang melimpah seperti panas bumi, air, matahari, dan angin.

“Ini adalah potensi besar yang diberikan Allah SWT kepada kita. Tidak semua negara punya kekayaan ini. Oleh karena itu, kita harus mulai bermigrasi ke arah energi bersih,” ujarnya.

Di lingkungan Kementerian BUMN, Erick telah memulai berbagai kebijakan ramah lingkungan, seperti pengurangan plastik sekali pakai dan pelarangan botol plastik di kantor kementerian. Selain itu, diterapkan sistem kerja paperless, penggunaan lampu LED dengan sensor gerak untuk efisiensi energi, audit energi gedung, serta penghitungan internal carbon pricing dan jejak karbon perjalanan dinas pegawai.

Adsense

“Kebijakan-kebijakan ini mungkin terasa mengganggu bagi sebagian orang, tapi ini adalah komitmen nyata kami untuk efisiensi dan pelestarian lingkungan. Buktinya, konsumsi listrik kantor kami turun hingga 18 persen,” ungkapnya.

Baca juga : Hariyadi Sukamdani: Studi Tur Itu Pilihan, Tak Boleh Diintervensi

Erick juga menyampaikan pencapaian penting BUMN dalam energi bersih, seperti pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung terbesar di Asia Tenggara di Cirata, Jawa Barat. Ia menyebut tantangan pembangunan PLTS di Indonesia adalah keterbatasan lahan, padahal 70 persen wilayah Indonesia berupa perairan.

“Dengan memanfaatkan danau sebagai lokasi PLTS terapung, kita mampu menyediakan listrik hijau untuk sekitar 245 ribu rumah. Kalau ini direplikasi di danau-danau lain, dampaknya akan luar biasa,” jelasnya.

Dalam sektor hilirisasi, kata Erick, Kementerian BUMN terus mendorong pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik. Ia mencontohkan langkah Indonesia Battery Corporation (IBC) yang kini sudah menggandeng berbagai mitra global seperti Seatel (China), Vale, Ford, hingga Volkswagen.

“Kita tidak anti mobil bensin, tapi kita perlu transisi. Jika 50 persen kendaraan kita bisa menggunakan baterai, itu akan berdampak besar bagi lingkungan dan mengurangi impor BBM,” katanya.

Baca juga : Saleh Partaonan Daulay: Pengusaha Dan Pemerintah Harus Duduk Bareng

Tak hanya di sektor energi, BUMN juga mulai mengembangkan bioetanol dari tebu dan padi. Program percontohan telah dilakukan di Banyuwangi, Jawa Timur, menggunakan bibit unggul dan teknologi pertanian yang mampu mengurangi penggunaan pestisida.

Erick juga menekankan, era digital dan perkembangan kecerdasan buatan (AI) harus diarahkan untuk menciptakan solusi, bukan menambah masalah. Namun, data menunjukkan teknologi ini lebih menguntungkan negara-negara maju.

“Maka, kita harus pastikan kebijakan digital kita mendukung kepentingan nasional dan memberdayakan masyarakat lokal,” imbuh Erick.

Menutup pidatonya, Erick menyampaikan pesan, masa depan Indonesia ada di tangan generasi muda. [UMM]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense