Dark/Light Mode

Masa Depan Transisi Energi Ada Di Tangan Anak Muda

Jumat, 25 Juli 2025 07:25 WIB
Chief Investment Officer (CIO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) Pandu Sjahrir (kiri), Chief Executive Officer Global South Utilities Ali Al Shimmari (kedua kiri), Vice President Director PT Bank Syariah Indonesia Tbk Bob Tyasika Ananta (kedua kanan) dan Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan (EBT) PT PLN (Persero) Suroso Isnandar (kanan) saat diskusi bertema Optimizing Green Investment to Achieve Indonesia’s Demographic Bonus dalam acara Green Impact Festival 2025 di Jakarta, Kamis (24/7/2025). (Foto: NG Putu Wahyu Rama/RM)
Chief Investment Officer (CIO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) Pandu Sjahrir (kiri), Chief Executive Officer Global South Utilities Ali Al Shimmari (kedua kiri), Vice President Director PT Bank Syariah Indonesia Tbk Bob Tyasika Ananta (kedua kanan) dan Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan (EBT) PT PLN (Persero) Suroso Isnandar (kanan) saat diskusi bertema Optimizing Green Investment to Achieve Indonesia’s Demographic Bonus dalam acara Green Impact Festival 2025 di Jakarta, Kamis (24/7/2025). (Foto: NG Putu Wahyu Rama/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Transisi energi tak akan berhasil tanpa peran generasi muda. Begitu pesan yang menggema di panggung Green Impact Festival 2025 di Djakarta Theater, Jakarta, Kamis (24/7/2025). Tiga institusi besar, yaitu Danantara, Bank Syariah Indonesia (BSI) dan PLN kompak menyerukan pentingnya keterlibatan anak muda membangun ekosistem energi yang bersih dan berkelanjutan.

Mulai dari investasi hijau, pengembangan teknologi ra­mah lingkungan, hingga literasi keuangan syariah berbasis prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance), semua mengarah pada satu kesimpulan. Masa depan energi ada di tangan Generasi Z.

Pesan ini disampaikan lang­sung oleh jajaran pimpinan kunci, yaitu Chief Investment Officer Danantara Pandu Sjahrir, CEO Global South Utilities Ali Al Shim­mari, Vice President Director BSI Bob Tyasika Ananta, serta Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan (EBT) PLN Suroso Isnandar. Ketiganya berbicara dalam sesi talkshow ber­tajuk Optimizing Green Investment to Achieve Indonesia’s Demo­graphic Bonus.

Pandu membuka sesi diskusinya dengan cerita soal kelahiran Danantara, lembaga pengelola aset negara yang baru berdiri Januari lalu. Kata dia, Danantara bukan sekadar perusahaan pen­gelola aset.

“Ini institusi yang dibentuk untuk membangun masa depan Indonesia,” tegas Pandu.

Dia menceritakan, saat per­tama berdiri, Danantara hanya diisi tiga orang. Kini, jumlah karyawannya hampir menyentuh 200 orang. Berasal dari tujuh kebangsaan, dan berbicara lebih dari 10 bahasa.

Baca juga : Sikat Pengoplos Beras, Polri-Kejagung Gercep

“Kami global sejak awal. Dan itu bagian dari visi kami,” katanya.

Lebih lanjut, Pandu menye­but Danantara sebagai sema­cam “bank sumber daya ma­nusia". Tugasnya mencari dan membentuk talenta terbaik untuk sektor-sektor strategis seperti energi terbarukan, digital, per­bankan, dan investasi.

“Kami memang selektif, tapi juga inklusif. Kami ingin mem­bangun generasi muda yang siap bersaing, tak hanya di dalam negeri, tapi juga di level global,” paparnya.

Menurut Pandu, setiap lini usaha Danantara harus berpijak pada konteks lokal, namun ber­pikir dengan standar kelas dunia.

“Target energi hijau 100 persen dari Pemerintah itu sangat ambisius. Tapi kita harus berani bermimpi besar. Kalau pun tak sampai ke bulan, setidaknya mendarat di antara bintang,” ucapnya, puitis.

Untuk mewujudkan mimpi itu, lanjut Pandu, Indonesia harus berani berinvestasi pada teknologi, know-how dan pengetahuan.

Baca juga : Demokrat Maluku Targetkan Kirim Kader Ke Senayan

“Danantara tidak hanya berinvestasi di dalam negeri. Kami juga masuk ke pasar global. Tapi dengan syarat: teknologi dan keahlian dari luar harus dibawa pulang ke Indonesia,” tandasnya.

Danantara, kata Pandu, bukan tentang dirinya. Danantara adalah institusi untuk anak muda.

“Dua dekade dari sekarang, salah satu dari kalian bisa berdiri di panggung ini, mengambil peran saya,” ujarnya penuh harap.

CEO Global South Utilities UEA Ali Al Shimmari menyampaikan hal senada. Dia mengatakan pentingnya kesiapan infrastruktur dasar untuk menyambut investasi teknologi.

Pemuda asal UEA ini jauh-jauh menghadiri acara tersebut untuk berbagi pengetahuan dan pengalamannya. Dia juga menyoroti hubungan erat antara kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan kebutuhan energi.

“AI membutuhkan tiga kali lipat energi dibanding pencar­ian Google biasa. Maka AI dan energi tak terpisahkan,” ujar Ali di hadapan 1.500 peserta yang didominasi Gen Z.

Baca juga : BRI Salurkan KUR Rp 83,38 Triliun, Pertanian Jadi Motor Utama

Ali mengingatkan pentingnya fondasi energi dalam skala besar dari transmisi hingga pusat data untuk menopang perkembangan teknologi. Dia melihat Indonesia punya peluang besar di sektor ini, asal bisa mengoptimalkan bonus demografi secara tepat.

“Investasi cerdas butuh sikap yang positif. Skill bisa diajarkan, tapi sikap adalah modal dasar,” kata pemuda berusia 22 tahun ini.

Ali menekankan prinsip: Hire for attitude, train for skills. Pesannya untuk Gen Z investa­sikan energi untuk membentuk sikap. “Sikap yang tepat akan membawa kemampuan menyu­sul,” tegasnya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.