Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengajak generasi muda untuk turun tangan langsung menggarap sektor pangan dan energi terbarukan. Menurut Zulhas—sapaan akrab Zulkifli Hasan—dua sektor ini bukan hanya strategis untuk masa depan bangsa, tetapi juga merupakan peluang ekonomi, asalkan dikelola dengan inovasi dan teknologi.
Hal itu disampaikan Zulhas saat menjadi keynote speaker dalam acara Green Impact Festival 2025 yang diselenggarakan oleh Rakyat Merdeka bersama Society of Renewable Energy (SRE) di Djakarta Theater, Jakarta, Kamis (24/7/2025).
Zulhas tiba pukul 09.00 WIB, mengenakan kemeja berwarna krem lengan panjang dengan celana panjang hitam. Kedatangan Zulhas disambut langsung oleh CEO Rakyat Merdeka Kiki Iswara dan jajaran, serta Founder SRE Zagy Yakana Berian.
Kemudian mereka jalan beriringan menuju ruang utama acara. Di dalam ruangan, Zulhas langsung disambut antusias oleh para peserta, yang sebagian besar merupakan anak muda dari berbagai kampus terkemuka di Indonesia.
Kehadiran Zulhas sekaligus menandai dimulainya secara resmi rangkaian acara Green Impact Festival 2025. Acara ini turut dihadiri Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri BUMN Erick Thohir.
Baca juga : Hariyadi Sukamdani: Studi Tur Itu Pilihan, Tak Boleh Diintervensi
Dalam pidatonya, Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) itu, menekankan masa depan Indonesia ada di tangan anak muda.
“Yang muda harus jadi motor perubahan. Yang tua-tua ini sudah ruwet,” ujar Zulhas setengah bercanda, disambut tawa hadirin.
Zulhas menegaskan, ketahanan pangan merupakan bagian tak terpisahkan dari kedaulatan negara. Ia mengingatkan, saat terjadi perang dan krisis pangan, Indonesia kesulitan membeli beras meskipun memiliki uang.
“Pangan bukan sekadar soal dapur ngebul, tapi soal kedaulatan. Tak ada negara maju tanpa swasembada pangan,” tegasnya.
Ia juga menyoroti ketertinggalan produktivitas pertanian Indonesia dibandingkan negara lain. China, katanya, bisa memanen 10 ton padi per hektare, sementara Indonesia baru 5 ton. Komoditas lain seperti lengkuas dan tebu pun lebih efisien di Brazil berkat pemanfaatan teknologi.
Baca juga : Saleh Partaonan Daulay: Pengusaha Dan Pemerintah Harus Duduk Bareng
“Kita tanam tebu, ongkosnya 80 sen per kilo, gula Brazil cuma 15 sen. Bedanya? Teknologi. Bibit mereka bisa panen 10 tahun, kita dua tahun sudah harus ganti, itu pun kadang 20 tahun nggak diganti,” ujar Zulhas.
Ia menegaskan, teknologi pertanian bukanlah beban, melainkan investasi. Zulhas menceritakan adopsi combine harvester (mesin pertanian) di sejumlah daerah yang mampu memangkas waktu tanam dari 24 hari menjadi hanya satu hari untuk lahan yang lebih luas.
Zulhas juga menekankan pentingnya peran koperasi. Ia menjelaskan, Pemerintah telah meluncurkan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah Putih), yang tak sekadar menjadi koperasi simpan pinjam, tapi juga motor penggerak inovasi pangan di desa.
“Koperasi bisa jadi pengolah, distributor, bahkan pusat energi baru terbarukan di desa. Kita bentuk satgas, ada political will dari pemerintah dan BUMN,” ujarnya.
Yang menarik, Kopdes juga disiapkan menjadi pusat Energi Baru Terbarukan (EBT). Pemerintah menargetkan pembangunan panel surya seluas 1 hingga 1,5 hektare di setiap desa, kecamatan, dan kabupaten. Sistem ini diharapkan menciptakan kemandirian energi tanpa ketergantungan pada transmisi panjang.
Baca juga : Puan: Jangan Sampai Ada Pihak Dirugikan
“Subsidi listrik kita sekarang 25 miliar dolar AS per tahun. Kalau kita bangun sistem solar panel ini dengan dana 100 miliar dolar AS, empat tahun impas. Tahun kelima dan keenam tak perlu subsidi lagi. Kita bisa hemat,” tutupnya.
Di akhir pidatonya, Zulhas menantang anak muda untuk ambil bagian dalam transformasi ini dari urban farming, agritech, hingga riset pangan dan pengelolaan limbah.
“Jangan anggap pertanian itu miskin. Pemilik kebun sawit, tebu, coklat, kelapa semuanya kaya raya dan berkelanjutan. Ini bukan dunia orang tua. Ini ladang peluang buat kalian,” tandasnya.
Selain itu, ia mengajak generasi muda untuk berperan aktif dalam membangun ketahanan pangan dan energi nasional.
“Masa depan Indonesia ada di tangan kalian. Dunia pangan dan pertanian bukan lagi milik orang tua. Saatnya anak muda turun ke sawah, ke kebun, dan ke laboratorium,” serunya. [UMM]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya