RM.id Rakyat Merdeka - Wacana pemulangan eks ISIS kembali ke Tanah Air secara psikologis akan mengganggu iklim usaha dan investasi. Pemerintah harus ekstra hati hati menyikapi dan memutuskan hal ini karena akan memiliki dampak yang sangat besar terhadap masa depan ekonomi kita.
Menurut Ketua Umum Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi) Provinsi DKI Jakarta, Sarman Simanjorang, bagi pelaku usaha mendengar ISIS identik dengan bom dan kekerasan, disatu sisi dunia usaha dan investor butuh jaminan kenyamanan dan keamanan. Di tengah ketidak pastian perekonomian global dan merebaknya virus Corona yang mengakibatkan perekonomian China semakin terpuruk akan sangat berpengaruh terhadap perekonomian dunia termasuk Indonesia.
Untuk menarik investor masuk ke Indonesia, selain memberikan kemudahan melalui regulasi dan insentif, yang tak kalah penting harus mampu memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan.
Baca juga : Kalau Presiden Bilang: Tidak, Menteri Apa Berani Bilang: Iya
“Akan sia-sia semua program Omnibus law cipta lapangan kerja jika wacana pemulangan eks Isis ini terus bergulir. Para investor akan semakin ragu dan berpikir ulang menanamkan modalnya di Indonesia jika wacana ini terus bergulir,” ujarnya di Jakarta, Jumat (7/2).
Harapan pelaku usaha agar pemerintah jangan berlama lama mengambil kebijakan yang pasti, sehingga isu ini jangan terus bergulir apalagi pro kontra yang mengakibatkan ketidakpastian dan keraguan investor untuk masuk semakin tinggi.
“Kita harus belajar dari apa yang kita alami,trauma yang sudah pernah kita rasakan bagaimana kita bekerja keras untuk meyakinkan pasar dan investor ketika terjadi ledakan bom di Tanah Air. Semuanya sangat memukul aktivitas bisnis dan perekonomian, tentu kita tidak mau hal ini terulang kembali,” ujarnya.
Baca juga : Wapres Tak Setuju Eks ISIS Dipulangkan
Untuk itu, pemerintah harus mampu menjaga psikologi pasar dan pelaku usaha termasuk investor jika ingin memulangkan eks ISIS ke Tanah Air Pemerintah harus lebih fokus bagaimana agar kita mampu mempertahakan pertumbuhan ekonomi kita dalam situasi seperti ini jangan sampai turun diangka 5 persen. Konsumsi rumah tangga juga harus terjaga dengan baik melalui stabilisasi harga pokok pangan karena hampir 60 persen.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia ditopang oleh konsumsi rumah tangga atau daya beli masyarakat. Ketegasan pemerintah sangat diperlukan untuk memberikan ketenangan bagi pelaku usaha dan kepastian keamanan bagi investor, jika pemerintah salah dalam mengambil kebijakan maka resiko yang harus kita tanggung sangatlah besar.
“Pelaku usaha akan mengalami ketakutan dan trauma dan investor akan ragu masuk menanamkan modalnya di Indonesia,” ujarnya.
Semoga pemerintah dapat memutuskan yang terbaik untuk masa depan perekonomian kita yang lebih baik, tentu dengan pertimbangan yang matang termasuk dampaknya plus minusnya sebelum mengambil kebijakan yang final. [DIT]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.