BREAKING NEWS
 

Berkunjung Ke Pulau Obi, Surga Nikel Dunia (2)

Audit Ketat Dan Semangat Penambangan Bertanggung Jawab

Reporter & Editor :
RATNA SUSILOWATI
Selasa, 26 Agustus 2025 08:00 WIB
Area reklamasi di lahan bekas tambang ditunjukan oleh (dari kanan) Younsel Evand Roos (Direktur Operasional) dan Dedy Amrin (Environmental and Business improvement Manager), di kawasan pertambangan Harita Nickel, Sabtu (23/08/2025). Sudah ditumbuhi pepohonan tinggi dan suasananya hijau asri. (Foto: Ratna Susilowati)

RM.id  Rakyat Merdeka - Selama empat hari, lima media nasional, termasuk Rakyat Merdeka berkunjung ke Pulau Obi. Melihat tempat penambangan dan pabrik milik Harita Group, penghasil nikel sulfat terbesar di dunia. Banyak perusahaan otomotif listrik global, mendapat pasokan bahan baku untuk baterai kendaraannya dari sini. Berikut, laporan bagian 2, mengenai upaya pemulihan lingkungan dan mencegah pencemaran akibat aktivitas tambang. Selain reklamasi lahan, di sini ada kolam sedimentasi yang mungkin terbesar di dunia, seluas 43 hektar. Langkah paling serius adalah, Harita secara sukarela menjalani audit tambang paling ketat di dunia. Dia pun menjadi perusahaan pertambangan pertama Indonesia yang berani melakukannya.

Beberapa tahun terakhir, kita mendengar istilah green mining. Sebuah konsep penambangan yang meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan dan masyarakat. Penerapannya melalui pengelolaan limbah, reklamasi, konservasi lahan dan penggunaan teknologi hijau. Harita terlihat sangat bersemangat melakukan semua ini. Upayanya all out.

Ada tiga area utama yang menjadi fokus Harita dalam perbaikan lingkungan, yaitu di darat, udara dan air. Di luar itu, Harita juga dengan sukarela menjalani audit IRMA (the Initiative for Responsible Minning Assurance), sebuah lembaga audit pertambangan paling ketat di dunia. Harita menjadi perusahaan tambang pertama Indonesia yang berani diaudit oleh lembaga ini. Prosesnya sudah dimulai sejak 2023 dan kini memasuki tahap akhir. SCS Global Services, firma independen yang ditunjuk IRMA, telah melakukan dua tahap penilaian: kajian dokumen sejak Oktober 2024 dan audit lapangan pada April 2025. Tentang hasilnya, Harita menunggu diumumkan secara terbuka oleh IRMA.

Baca juga : Karnaval Budaya Siapkan Surprise Untuk Penonton

Audit IRMA mencakup 1000 butir pertanyaan, termasuk terkait praktek penambangan di lapangan. Penilaian juga melibatkan masukan dari masyarakat lokal, pejabat pemerintah hingga kelompok-kelompok masyarakat sipil. Selain IRMA, Harita juga mengikuti penilaian RMAP (Responsible Minerals Assurance Process) dari RMI (Responsible Minerals Initiative). Upaya ini adalah dedikasi penting, dan langkah serius untuk menunjukkan bahwa seluruh aspek kerja dan rantai pasok yang dikerjakan Harita, sesuai prinsip-prinsip keberlanjutan. Ini bukti keberanian membuka diri, transparan di mata dunia. Sekaligus menjawab tudingan dari lembaga-lembaga asing yang menyebut penambangannya melakukan pencemaran laut.

Rombongan mengunjungi kawasan reklamasi di area bekas penambangan pada Sabtu (23/08/2025) pagi. Lokasinya sudah menghijau dan pepohonannya tumbuh subur. Total luasan yang direklamasi mencapai 201 hektar. Dari anjungan Himalaya, udara terasa segar. Kita bisa menyaksikan keseriusan reklamasi itu. Pohon-pohon yang ditanam sejak 2010 tampak sudah tinggi. Jenisnya yaitu cemara laut, kayu putih, ketapang, jambu mete dan pohon Gofasa. Juga ditanam vegetasi buah, seperti rambutan, nangka, matoa dan lain-lain, untuk menarik kembali fauna pemakan buah, penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. “Area ini sebelumnya merupakan lahan bekas tambang ini telah kembali hijau dan dihuni oleh berbagai macam satwa,” tutur Dedy Amrin, Environmental and Business improvement Manager Harita Nickel, di lokasi reklamasi.

Adsense

Untuk memasok kebutuhan bibitnya, dibangun Loji Central Nursery. Fasilitas persemaian modern dengan luas 2,8 hektar dan kapasitas 400 ribu bibit. Mokhamad Rifai (Mine Reclamation Superintendent Harita Nickel) menunjukkan kepada rombongan media, area-area di sana. Ada Mother Plant House (perkecambahan benih dan stek), Rooting House (penyapihan tanaman dan perbanyakan vegetatif generatif), Shade House (aklimatisasi bibit dengan cahaya matahari) dan Open Area (aklimatisasi bibit dengan cahaya matahari intensitas tinggi). Juga ada gudang benih dan gudang pupuk.

Baca juga : Korupsi Bikin Malu dan Hancurkan Karier: Para Pejabat, Jangan Tiru Noel

Tanaman yang dikembangbiakan di sini, sekitar 40 persennya berasal dari spesies lokal. Pengadaannya pun turut melibatkan masyarakat di desa sekitar tambang.

Selanjutnya, upaya untuk mencegah pencemaran air dari limpasan tambang. Harita melakukan langkah yang sangat serius. Yaitu membangun kolam-kolam raksasa. Totalnya ada 52 kolam, dibangun di lahan 43 hektar. Mungkin ini adalah kolam sedimentasi tambang yang terbesar di dunia. Kolam ini fungsinya menangkap, mengelola dan menyaring limpasan air dan material yang tererosi, setelah melalui saluran yang bertingkat (drop structure).Di dalam kolam, air menjalani treatment dan pemantauan kualitas secara berkala, untuk memastikan kandungan TSS (total suspended solids) berada dalam ambang batas yang diperbolehkan aturan lingkungan. Rombongan meninjau area inlet, tempat air limpasan tambang masuk ke kolam. Dan area outlet, air hasil sedimentasi yang sudah jernih. Di lokasi itu, ada alat khusus, perangkat SPARING (Sistem Pemantauan Air Limbah Secara Otomatis dan Terus Menerus), yang terhubung dengan sistem Kementerian Lingkungan Hidup. “Dengan cara ini, Kementerian Lingkungan Hidup bisa secara real time mengecek kondisi air di sini,” kata Tonny Gultom (Direktur Health, Safety and Environment) Harita Nickel. Di ujung kolam, air yang keluar memang tampak jernih. Bahkan banyak burung terbang di sekitar kolam, dan mencari ikan di situ.

Tim Environmental Marine menyelam ke dalam laut di sekitar kawasan pertambangan Harita Nickel di Pulau Obi Maluku Utara, untuk mengecek reef cube dan ekosistem laut. Ratusan reef cube dibuat dari limbah pengolahan nikel, dimanfaatkan sebagai tempat penumbuh coral dan tempat hidup ikan. (Foto: Dok. Harita Nickel)

Pemantauan kualitas air juga dilakukan Harita di lautnya. Setiap pekan, Tim Environmental Marine mengambil sampel air laut, pendataan ekosistem hingga pemasangan dan pemantauan kubus berongga (reef cube). Mereka juga melibatkan pihak independen untuk menjamin objektivitas dan akurasi data. Rombongan media diajak oleh Tim ini untuk sama-sama berlayar dan memantau kondisi air laut, Minggu (24/08/2025). Cuaca hari itu sangat bersahabat, namun anginnya kencang sekali. Tak lama setelah melakukan pemantauan dan penyelaman, hujan pun turun dengan cukup deras.

Baca juga : September, Prabowo Manggung di PBB

Mereka, secara rutin memantau kondisi terumbu karang, dan kesehatan ekosistem air laut di sekitar kawasan operasional pertambangan. Merujuk dari data yang dipublikasikan Harita, selama tiga tahun pelaksanaan, tercatat ada pertumbuhan karang. Sekitar 2 ribuan reef cube (yang dibuat dari slag atau limbah pabrik nikel) rupanya mendorong regenerasi koral secara alami di dalam laut. Dan berdampak bagi ekonomi pesisir. Saat ini ada 136 spesies ikan hidup di sekitar kawasan itu, antara lain kerapu merah, baronang, kakap, ekor kuning dan lainnya.

Kolam pengendapan yang dibangun di kawasan pertambangan Harita, Pulau Obi, Maluku Utara. Luasannya mencapai 43 hektar, untuk mengolah dan menyaring air limpasan tambang, agar jernih sebelum dialirkan ke badan air.

Tentang teknologi hijau, Harita juga mulai menerapkannya, dengan membangun dua coal dome raksasa, tempat penyimpanan batu bara. Sehingga debu-debu tidak beterbangan, sekaligus menjaga suhunya. Selain itu, dipasang sejumlah solar panel di kawasan pertambangan. Fasilitas ini bagian dari komitmen untuk transisi energi dan penerapan prinsip ESG (Environmental, Social and Governance). Targetnya adalah pengembangan PLTS 300 MWp di tahun 2025. Solar panel yang sudah dipasang ini, sekarang terlihat ada di atap-atap wisma yang ditinggali karyawan. Rencana pengembangan energi hijau di kawasan ini akan terus berlanjut.

Untuk semua upaya ini, Harita diganjar sejumlah penghargaan. Antara lain penghargaan proper biru dari Kementerian Lingkungan Hidup, penghargaan Good Mining Practice Awards dari Kementerian ESDM, penghargaan Indonesia Social Sustanaibility Forum (ISSF) dari Kementerian Desa. Dan sejumlah penghargaan ESG lainnya dari berbagai lembaga. [Ratna Susilowati]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense