RM.id Rakyat Merdeka - PT Arsari Tambang menyatakan, fasilitas smelter yang dimilikinya kini sepenuhnya menggunakan listrik dari energi terbarukan.
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Presiden Direktur PT Arsari Tambang, Aryo Djojohadikusumo, sebagai bagian dari komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan dan target nol emisi.
Menurut Aryo, peralihan ini dimungkinkan setelah Pulau Bangka terhubung dengan jaringan listrik Pulau Sumatera.
Listrik yang digunakan di smelter kini bersumber dari pembangkit listrik tenaga panas bumi di Sarula serta pembangkit listrik tenaga air di Aceh dan Sumatera Utara.
“Dengan bangga saya sampaikan bahwa kini smelter Arsari Tambang dipasok listrik dari pembangkit energi terbarukan di Sumatera,” ujar Aryo, Jumat (12/9/2025).
Meskipun penggunaan listrik EBT sudah mencapai 100 persen di fasilitas pemurnian, Aryo mengakui bahwa pengoperasian alat-alat berat di pertambangan masih bergantung pada bahan bakar solar.
Baca juga : Prominent Awards 2025: PNM Lembaga Pembiayaan Perempuan Terbesar Dunia
Namun menurutnya, upaya untuk mencapai net zero emmision secara keseluruhan masih berada di kisaran 60 hingga 70 persen, dengan target penyelesaian dalam waktu lima hingga 10 tahun ke depan.
Aryo menegaskan, langkah ini juga merupakan respon terhadap tuntutan pasar global yang semakin menekankan prinsip keberlanjutan.
Ia mengatakan, lebih dari 50 persen penggunaan timah dunia saat ini terkait dengan industri semikonduktor dan elektronik, yang sangat memperhatikan aspek lingkungan dalam rantai pasokannya.
"Kita sebagai penambang harus mengikuti permintaan pasar. Pelanggan adalah raja," tegasnya.
Selain pengurangan emisi, PT Arsari Tambang juga memiliki prestasi dalam program rehabilitasi lingkungan.
Pada tahun 2024, perusahaan mencatat tingkat keberhasilan rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS) di Krakas, Bangka Tengah mencapai 91 persen.
Baca juga : Libur Panjang, Pertamina Pastikan Pasokan Energi Terjaga
Jenis tanaman yang digunakan dalam program tersebut antara lain jambu mete, cemara udang, dan kayu putih.
Menurut Aryo, penanaman pohon-pohon produktif ini tidak hanya bertujuan untuk memperbaiki lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
Perusahaan juga mulai melakukan restorasi ekosistem laut, terutama terumbu karang di daerah Belinyu, Induk Bangka.
Aryo menyebut langkah ini sebagai bagian dari reklamasi tambang laut dan menjadikan Arsari Tambang sebagai perusahaan timah pertama di Indonesia yang secara aktif melakukannya.
Dari sisi bisnis, perusahaan menargetkan produksi 2.000 ton per tahun dengan proyeksi omzet minimal Rp 1 triliun.
Meskipun ekspor, terutama ke China, masih menjadi pasar utama, Aryo menekankan bahwa pasar domestik saat ini sudah tumbuh secara signifikan.
Baca juga : Ketua MUI Ajak Masyarakat Tahan Diri, Hindari Penjarahan
Ia juga mengapresiasi dukungan pemerintah daerah dan Badan Pengusahaan Batam dalam mendukung percepatan kawasan ekonomi khusus dan kawasan perdagangan bebas di wilayah di mana Arsari Tambang membangun pabrik hilirisasi timah, yaitu solder.
Aryo menegaskan, meski perusahaan menggandeng mitra asing, kepemilikan mayoritas tetap berada di tangan anak bangsa.
"Mitra asing hanya memegang saham minoritas. Kepemilikan mayoritas tetap milik putra-putri terbaik Indonesia," tutup Aryo.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.