RM.id Rakyat Merdeka - Dukungan kebijakan Pemerintah terhadap industri kimia, farmasi, dan tekstil (IKFT) berbuah manis. Total ekspor tiga subsektor utama ini sudah menembus Rp 318 triliun sepanjang Januari–Agustus 2025. Sektor ini menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi.
Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Sri Bimo Pratomo mengungkapkan, sektor IKFT telah memberikan kontribusi sebesar 3,82 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Angka ini menegaskan peran strategis sektor tersebut sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Baca juga : Bocah-bocah Gembira Naik Kendaraan Tempur
“Capaian ini merupakan hasil nyata dari penguatan struktur industri dalam negeri, peningkatan kinerja ekspor, serta dukungan kebijakan yang konsisten,” ujar Bimo di Jakarta, Sabtu (5/10/2025).
Kinerja positif sektor IKFT ditopang oleh beberapa subsektor yang tumbuh pesat. Industri bahan galian nonlogam mencatat kenaikan tertinggi. Yakni 10,07 persen pada triwulan II tahun 2025, setelah sebelumnya turun 1,68 persen di triwulan I.
Subsektor farmasi dan obat tradisional juga mengalami lonjakan pertumbuhan hingga 9,39 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan triwulan I-2025 (3,68 persen) maupun triwulan IV-2024 (4,47 persen). Kinerja serupa tampak pada industri kulit, barang kulit, dan alas kaki, yang naik menjadi 8,31 persen dari sebelumnya 6,95 persen.
Baca juga : KPK Kembalikan Aset Negara Senilai Rp 9,6 M
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, ekspor alas kaki (HS 64) sepanjang Januari– Agustus 2025 mencapai 5,16 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp 85 triliun, tumbuh 11,89 persen dibanding periode sama tahun 2024.
Ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT/HS 50–63) juga meningkat 0,24 persen menjadi 8,01 miliar dolar AS (Rp 132,6 triliun).
Secara total, ekspor gabungan alas kaki dan TPT naik 4,51 persen dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu, produk kimia (HS 38) memberikan kontribusi ekspor signifikan, mencapai 6,12 miliar dolar AS atau setara Rp 101,3 triliun.
Baca juga : Tiga Kali Kalah Beruntun, Ada Apa Dengan Liverpool?
Capaian tersebut selaras dengan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) periode September 2025 yang menunjukkan sektor manufaktur masih berada dalam zona ekspansi dengan skor 53,02 poin.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.