RM.id Rakyat Merdeka - Langkah PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar setara solar atau petasol di Karimunjawa diyakini akan memberikan manfaat besar. Selain atasi masalah lingkungan, langkah itu mengurangi ketergantungan masyarakat setempat menggunakan fosil. Strategi itu patut diterapkan di daerah lain.
Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi mengatakan, bahan bakar berbasis sampah plastik tersebut merupakan salah satu inovasi teknologi yang membuat barang tidak bernilai ekonomi menjadi produk memiliki nilai tambah.
“Dengan teknologi, kita bisa memanfaatkan sumber lain, seperti sampah ini menjadi bahan bakar,” kata Fahmy kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Baca juga : Waspada, Cuaca Ekstrem Bisa Ganggu Fungsi Otak
Dan yang terpenting, sambung Fahmy, limbah sampah yang selama ini menjadi masalah lingkungan bisa diatasi dengan baik. Karenanya, perusahaan maupun masyarakat, termasuk Pemerintah setempat harus terlibat aktif dalam penanganannya.
Menurut Fahmy, bila pengelolaan sampah plastik ini bisa dijalankan di banyak daerah, maka setidaknya bisa sedikit mengurangi ketergantungan terhadap Bahan Bakar Minyak (BBM) berbasis fosil.
“Di daerah yang harus menyeberangi lautan, stok bahan bakar sangat terbatas. Jadi perlu alternatif, seperti mengolah sampah plastik ini menjadi BBM, misal untuk kapal nelayan dan lainnya,” katanya.
Baca juga : Real Madrid Vs Barcelona, Kompak Sesumbar Menang
Sebelumnya, Corporate Secretary PGN Fajriyah Usman mengatakan, pihaknya baru saja meluncurkan teknologi Fast Pyrolysis (Faspol) di Pusat Daur Ulang (PDU) Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, guna menjawab persoalan penumpukan sampah plastik. Sekaligus, mendukung wisata hijau atau green tourism di wilayah tersebut.
“Harapannya, teknologi Faspol ini juga menghadirkan solusi energi alternatif bagi masyarakat, terutama saat musim barat ketika pasokan BBM ke pulau sering terkendala cuaca,” ujar Fajriyah dalam keterangannya, Minggu (19/10/2025).
Fajriyah menjelaskan, mesin Faspol berkapasitas 50 kilogram (kg) per siklus, merupakan hasil kolaborasi riset yang mendalam antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Bank Sampah Banjarnegara.
Baca juga : Kerugian Kasus Rumdin DPR, KPK Dan BPKP Mulai Menghitung
Bahkan, uji coba pun telah dilakukan pada tiga alat operasional sekaligus, yakni mesin Dongfeng milik PDU Karimunjawa, ekskavator di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), serta perahu nelayan.
Dari hasil uji coba itu, kata Fajriyah, menunjukkan bahwa petasol yang dihasilkan mampu menggantikan fungsi solar secara optimal.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.