RM.id Rakyat Merdeka - Langit di atas Pulau Kelapa Dua, Kepulauan Seribu, masih basah oleh embun pagi ketika belasan penyelam bersiap menurunkan rangka besi berbentuk jaring ke dasar laut. Di permukaan, perahu kecil bergoyang perlahan, diisi karung-karung berisi sampah plastik yang baru diangkat dari pesisir. Seekor ikan kakatua kecil melintas, seolah mengintip kerja manusia yang sedang berusaha menebus dosa-dosa ekologisnya.
Di tengah keramaian itu, seorang pria berhelm putih memantau aktivitas penyelam dengan seksama. “Alam tidak hanya untuk kita manfaatkan, tapi juga untuk kita rawat,” kata Murwoto Hadi Prayitno, Manajer Shorebase Kabil Batam PT Pertamina Port and Logistics (PPL), sambil tersenyum.
“Terumbu karang adalah paru laut kita—supply oksigen terbesar yang seharusnya dijaga, bukan dirusak,” ujarnya, di Pulau Kelapa Dua, 16 Juni 2025.
Hari itu, Subholding Integrated Marine Logistics (SH IML) Pertamina International Shipping (PIS) melaksanakan program Ocean Action for Sustainability and Integrated Society (OASIS). Sebuah inisiatif nyata menjaga ekosistem laut dengan transplantasi 600 terumbu karang dan pengangkutan 125 kilogram sampah dari perairan dangkal Kepulauan Seribu.
Baca juga : Lewat Innovillage 2025, Telkom Dorong Mahasiswa Hadirkan Inovasi Digital
Tak hanya melibatkan karyawan PIS dan cucu usahanya, PT Pertamina Port and Logistics (PPL), tapi juga menggandeng Bank Sampah, Komunitas Pecinta Lingkungan (KOMPARA), dan Taman Nasional Kepulauan Seribu.
“Kami percaya, industri maritim yang kuat harus tumbuh seiring dengan perlindungan ekosistem laut yang sehat,” ujar Muhammad Baron, Corporate Secretary PIS, di sela kegiatan.
“PIS adalah perusahaan pelayaran yang ingin tumbuh tanpa meninggalkan tanggung jawab sosial dan ekologis,” ujarnya, di tempat yang sama.
Dukungan pun datang dari pemerintah. Iwan Setiawan, Kepala Seksi Wilayah I Pulau Kelapa, Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu, mengamini langkah itu. “Konservasi harus mengandung tiga unsur: perlindungan, pengamanan, dan pemanfaatan,” katanya. “Bukan hanya melindungi biota laut, tapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir.”
Baca juga : PLN Indonesia Power Menang ASEAN Energy Awards Berkat Inovasi Hijau
PIS, tampaknya sedang memimpin pergeseran paradigma industri pelayaran Indonesia: dari sekadar mengangkut energi, menjadi penggerak keberlanjutan laut nusantara.
Berlayar di Jalur Hijau
Kisah dari Kepulauan Seribu itu hanyalah sepotong dari mozaik besar strategi green shipping yang dijalankan Pertamina International Shipping. Di kantor pusatnya di Menara PIS, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta, layar-layar digital menampilkan pergerakan ratusan kapal. Dari sistem real-time monitoring itulah, PIS mampu mengukur konsumsi bahan bakar, emisi karbon, hingga efisiensi operasional.
“Kami ingin pelayaran hijau bukan hanya wacana, tapi sistem kerja yang terintegrasi,” ujar Vega Pita, Pjs Corporate Secretary PIS, di Jakarta, 20 September 2025.
Baca juga : PLN Hijaukan Energi, Kuatkan Negeri
“Transisi menuju pelayaran hijau adalah strategi jangka panjang kami untuk menjadi perusahaan logistik maritim yang berkelanjutan dan kompetitif secara global,” lanjutnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.