BREAKING NEWS
 

Menyalakan Harapan di Tengah Sumur Tua

Strategi Energi Hijau dan Optimisme Migas Indonesia

Reporter & Editor :
MUHAMMAD RUSMADI
Jumat, 31 Oktober 2025 17:31 WIB
PEP Sukowati Field, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, di cekungan Jawa Timur, termasuk lapangan minyak tua karena sudah berproduksi sejak lama, meskipun Pertamina EP (PEP) saat ini fokus pada peningkatan produksi di sana dan tidak lagi membor sumur tua. [Foto ilustrasi: Dok Pertamina]

RM.id  Rakyat Merdeka - Udara di ruang konvensi itu terasa padat oleh semangat. Di balik layar panggung besar Joint Convention Semarang (JCS) 2025, para ahli energi, geolog, dan teknisi migas dari berbagai penjuru negeri berdiskusi tentang masa depan energi Indonesia. Di antara mereka, sosok berperawakan tenang namun penuh wibawa berdiri di podium—Taufik Aditiyawarman, Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional (KPI).

“Energi adalah urat nadi kedaulatan,” ujarnya lantang, di hadapan ratusan peserta, Selasa siang itu. “Kita tidak hanya bicara soal produksi, tapi tentang keberlanjutan—tentang bagaimana Indonesia bisa mandiri, adil, dan hijau.”

Kata-kata itu menjadi pembuka yang menggema dalam forum tahunan tersebut. Di tangan Taufik, arah transformasi Pertamina menuju transisi energi hijau bukan lagi sebatas wacana. KPI, ujarnya, kini menjalankan strategi Pertamina Dual Growth Strategy—sebuah langkah ganda antara mempertahankan bisnis eksisting dan membangun masa depan berbasis energi rendah karbon.

Menempa Energi Baru dari Kilang Lama

Baca juga : PT Timah Perkuat Citra RI Sebagai Pemimpin Timah Dunia

Kilang Cilacap, yang selama puluhan tahun menjadi simbol produksi bahan bakar fosil, kini tengah berubah wajah. Di kompleks industri yang tak pernah tidur itu, bioavtur dan renewable diesel mulai menggantikan sebagian dominasi bahan bakar minyak bumi. “Kami mulai dari yang realistis,” tutur Taufik, di sela konferensi, Rabu (2/7/2025) di Semarang. “Dengan co-processing, kami bisa mencampur bahan nabati seperti minyak inti sawit dengan bahan fosil tanpa harus membangun pabrik baru dari nol.”

Langkah itu, katanya, adalah jalan cepat untuk menghasilkan bahan bakar ramah lingkungan seperti Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF) 2,4%, yang kini mulai digunakan dalam penerbangan domestik. Di tahap berikut, KPI menyiapkan produksi Pertamina Renewable Diesel (RD) berbahan Hydrotreated Vegetable Oil (HVO)—biofuel 100 persen yang diolah dari minyak nabati dan bahkan limbah minyak jelantah.

Metode ini tak hanya memangkas emisi karbon, tetapi juga menekan biaya investasi. “Dengan memanfaatkan fasilitas yang ada, kami bisa berhemat sekaligus belajar menyesuaikan sistem menuju kilang hijau,” ujar Taufik.

Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF) kini mulai digunakan dalam penerbangan domestik. [Foto: onesolution.pertamina.com]

Dia menyebut strategi itu sebagai bagian dari “trilemma energi”: menjaga keseimbangan antara keamanan pasokan, keterjangkauan harga, dan keberlanjutan lingkungan. “Tiga hal ini tak bisa dipisahkan. Kita tak bisa bicara energi hijau kalau rakyat belum punya akses yang terjangkau,” katanya.

Baca juga : BNI & Badan Bank Tanah Perkuat Kolaborasi Strategis, Kebut Pembangunan Nasional

Lifting Migas Mulai Beranjak Naik

Sementara KPI berlari di jalur hijau, kabar menggembirakan datang dari hulu migas. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) melaporkan bahwa produksi dan lifting minyak mulai naik sejak Mei 2025.

“Trennya positif,” ujar Hudi D. Suryodipuro, saat menjabat Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas, di kantornya, Jakarta, Jumat (20/6/2025). “Produksi minyak kini mencapai 583 ribu barel per hari, naik dari rata-rata tahun lalu yang sekitar 580 ribu.”

Lonjakan itu, menurut Hudi, hasil dari serangkaian program intensif seperti pengeboran sumur pengembangan, workover, dan well service. Hingga Mei 2025, sudah ada 337 sumur baru yang dibor—naik 20 persen dari tahun sebelumnya. “Ini bukti kerja keras di lapangan, bukan hanya di rapat,” katanya tersenyum.

Adsense

Baca juga : Pengamat: Prabowo Jadikan Pemberantasan Korupsi Sebagai Strategi Pembangunan Nasional

Ia juga mengungkapkan bahwa proyek-proyek baru seperti Forel dan Terubuk, yang baru saja diresmikan Presiden Prabowo Subianto, diperkirakan menambah produksi hingga 20 ribu barel per hari. Lapangan Banyu Urip bahkan siap menyumbang tambahan 30 ribu barel lagi.

“Kalau semua sesuai rencana, Agustus nanti kita bisa menembus target lifting di atas APBN,” ucap Hudi optimistis. “Kuncinya disiplin eksekusi dan percepatan proyek.”
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense