BREAKING NEWS
 

Agar Target Penurunan Harga Pupuk Tercapai

Petani Perlu Diedukasi Teknik Kerek Produksi

Reporter : IRMA YULIA
Editor : ESTI FITRIA WULANDARI
Sabtu, 8 November 2025 06:30 WIB
Gudang pupuk. (Foto: Dok. Pupuk Indonesia)

RM.id  Rakyat Merdeka - Langkah Pemerintah menurunkan harga pupuk bersubsidi dapat menurunkan biaya pertanian ratusan ribu per hektare sekaligus meningkatkan produksi. Untuk memastikan target kebijakan itu berjalan mulus, Pemerintah disarankan mengedukasi petani.

Pemerintah menurunkan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi sekitar 20 persen untuk jenis urea, NPK (Nitrogen, Fosfor, Kalium), ZA (Zwavelzure Amoniak) dan organik, menuai apresiasi dan dianggap dapat menurunkan biaya produksi petani. 

Analis Kebijakan Publik dan Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Rahmad Supriyanto bahkan menyebut, penurunan HET ini menjadi solusi jangka pendek yang dilakukan Pemerintah. 

“Penurunan harga ini diharapkan dapat menghemat biaya petani hingga ratusan ribu rupiah per hektar (ha),” ujar Rahmad kepada Rakyat Merdeka, kemarin. 

Baca juga : Ratusan Ribu Warga Jakarta Kegendutan

Namun, kata Rahmad, para petani tetap harus diberi edukasi tentang pemupukan berimbang dan uji tanah. Pasalnya ia khawatir, penurunan harga pupuk berisiko mendorong konsumsi berlebih, yang tidak baik bagi tanah dan tumbuhan. 

“Kebijakan pupuk yang propetani bukan hanya membuat pupuk murah. Tapi juga memastikan tanah tetap subur, anggaran tetap sehat dan produktivitas meningkat, pertanian tetap berdaya di masa depan,” tegasnya. 

Karena itu, lanjutnya, Pemerintah juga perlu mengatasi persoalan rendahnya produktivitas pertanian nasional ke depannya. 

Apalagi berdasarkan penelitian CIPS pada 2021, tercatat ada ketimpangan produktivitas pangan antara Pulau Jawa dan luar Jawa. 

Baca juga : Usai Melantik 138 Pejabat, Bupati Ponorogo Di-OTT KPK

Ia merinci, produktivitas padi di Jawa mencapai 5,64 ton per hektare (ha), lebih tinggi 23 persen dibandingkan luar Jawa sebesar 4,58 ton per ha. Padahal, 50 persen luas panen nasional berada di luar Jawa. Sementara luar Jawa hanya menyumbang 44 persen produksi. 

“Artinya, fokus kebijakan juga harus bergeser dari sekadar harga ke peningkatan produktivitas, terutama di wilayah dengan produktivitas rendah,” jelasnya. 

Rahmad juga mengimbau, peningkatan produktivitas lahan dan tenaga kerja dapat dilakukan melalui penggunaan bibit unggul, akses pupuk yang lebih berkualitas, pengendalian hama atau Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang efektif, serta mekanisasi pertanian. 

Tak hanya itu, perlu juga dilakukan perbaikan teknik budidaya, penguatan dan perluasan jaringan irigasi. Termasuk, pemanfaatan modifikasi cuaca untuk mitigasi perubahan iklim. 

Baca juga : Tottenham Hotspur Vs Manchester United, Rebutan Naik Peringkat

“Peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) di sektor pertanian, juga menjadi kunci untuk mendorong produktivitas berkelanjutan,” yakinnya. 

Terpisah, Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mendukung penuh kebijakan penurunan HET pupuk subsidi, karena akan meningkatkan keterjangkauan pupuk, sekaligus memperkuat daya beli petani. 

Dia menyebut, ini pertama kalinya ada penurunan HET pupuk subsidi. Dengan harga yang lebih terjangkau, maka akan memudahkan akses petani terhadap pupuk. 

Adsense

“Sekaligus mendorong produktivitas pertanian nasional,” ujar Rahmad dalam keterangannya, Rabu (22/10/2025). 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense