Sebelumnya
Rinto Pudyantoro, yang juga menjadi juri dalam lomba tersebut, menyebut langkah SKK Migas itu sebagai “pendidikan energi publik.” Menurutnya, industri yang kuat tak hanya ditopang teknologi dan modal, tetapi juga narasi yang bisa dipercaya.
“Kalau publik tidak mengerti mengapa migas masih penting, maka dukungan terhadap sektor ini bisa luntur,” ujarnya. “Kita butuh jurnalisme energi yang cerdas—yang tahu kapan harus kritis, tapi juga paham kompleksitas industri.”
Baca juga : Produksi Migas Naik Jadi 607 Ribu Barel Per Hari, Menteri Bahlil Happy
Ia mengingatkan, ketahanan energi tidak lahir dari satu sumur saja. Ia tumbuh dari sinergi antara kebijakan, komunikasi, dan kejujuran publikasi. “Jangan sampai energi hanya jadi angka di tabel APBN. Ia harus menjadi cerita tentang keberlanjutan hidup,” katanya.
Dunia boleh berpaling ke energi baru terbarukan. Tapi hingga kini, migas masih menyangga lebih dari 60 persen kebutuhan energi nasional. Itulah sebabnya, setiap pencapaian lifting dari blok-blok di Kalimantan, Riau, atau Papua bukan hanya kabar korporasi, melainkan berita tentang ketahanan bangsa.
Baca juga : Pengemudi Ojol Pilih Tetap Setia pada BBM Pertamina, Efisien & Tangguh di Jalan
“Selama energi alternatif belum siap menggantikan seluruh peran migas, maka sektor ini tetap menjadi pilar,” ujar Heru di sela penutupan Forum Komunikasi Hulu Migas pada Oktober lalu. “Yang kami jaga bukan hanya produksi, tapi juga kepercayaan.”
Dan memang, yang dijaga hari ini bukan sekadar barel minyak atau kaki sumur. Yang dijaga adalah kesinambungan sebuah negara untuk tetap menyala —di malam paling gelap sekalipun.
Baca juga : MedcoEnergi Perkuat Ketahanan Energi di Tengah Dinamika Global
Menjelang senja di Kalimantan, seorang teknisi memeriksa panel kontrol di sisi rig yang mulai berembun. Di layar, angka tekanan dan temperatur menari dalam rentang normal. “Masih stabil,” katanya, tersenyum.
Stabil —kata sederhana yang mungkin paling berarti bagi sebuah negeri yang sedang mencari keseimbangan antara transisi dan ketahanan. Dari perut bumi, para pekerja hulu migas terus memompa bukan hanya minyak dan gas, tapi juga kepercayaan: bahwa pilar energi Indonesia masih berdiri kokoh, meski diterpa perubahan zaman. (*)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.